logo

Pelayanan Kesehatan Lansia Menempati Kedudukan Penting Di Indonesia

Pelayanan Kesehatan Lansia Menempati Kedudukan Penting Di Indonesia

Ketua Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Bani Saleh Shinta Silaswati SKp MSC (kiri) dan Dewan pakar keperawatan Gerontik Dra Junaiti Sahar SKp MAppSc PhD (kanan).(foto,ines).
23 November 2019 17:42 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Peningkatan usia harapan hidup di Indonesia, berdampak pada peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Karenanya, pengembangan pelayanan kesehatan lansia yang komprehrnsif dan berrkesinambungan menempati kedudukan yang makin penting di Indonesia.

Hal tersebut dikemukakan Ketua panitia Kongres Nasional Ketua Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Bani Saleh Shinta Silaswati SKp MSC, di sela acara Seminar Nasional, Workshop & Kongres Nasional ke 1 Ikatan Perawat Gerontik Indonesia (IPEGERI), di Jakarta, Jumat (22-23/11/2019).

Menyikapi hal itu, lanjutnya, perlu ada pemikiran khusus dalam pengembangan layanan kesehatan yang berkualitas. Dalam bentuk pilihan penuh inovatif, baik di rumah sakit maupun intitusi pelayanan kesehatan lain seperti panti werdha. Seiring dengan kebutuhan layanan geriatric di rumah sakit (RS), ujarnya, serta masuknya pelayanan geriatric dalam standar akreditasi, diperlukan pengembangan standar pelayanan keperawatan lansia khusus yang komprehensif dan terpadu.

Selain itu, keperawatan juga bagian integral dari pelayanan kesehatan. Sehingga, imbuhnya, kualitas pelayanan kesehatan akan sangat dipengaruhi oleh pelayanan keperawatan. Diperkuat dengan, di antaranya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 tahun 2017 tentang Pengembangan Jenjang Karir Profesional Perawat klinis.

"Tentunya, menuntut pemetaan dan pembinaan berkelanjutan terhadap keperawatan di seluruh Indonesia," ujar Shinta. Menurut beliau, kondisi yang ada saat ini, belum banyak RS yang mengembangkan pelayanan geriatric secara terpadu, dan SDM perawat belum mendapatkan pelatihan tentang keperawatan geiratric. S

kompetensinya dalam memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan kepada lansia masih kurang. Di sisi lain, RS yang membuka layanan ruang rawat inap khusus untuk lansia juga nasih terbatas. Alhasil, lansia dirawat di ruang penyakit dalam dewasa dan masih bergabung dengan pasien lainnya.

Hal ini, tentunya berpengaruh pada perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kepada lansia. Karena, layanan yang diberikan tidak spesifik untuk pasien lansia, namun untuk pasien dewasa secara umum.

"Juga masih ditemukan berbagai masalah dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada lansia di institusi layanan kesehatan seperti panti Werdha," ungkapnya. Manajemen pelayanan di panti yang belum tertata dengan baik, sambung Shinta, dimana jumlah tenaga keperawatan yang masih terbatas, jenjang karir perawat di panti yang belum mendapat perhatian, memerlukan solusi yang tepat dalam mengatasinya.

Dikemukakannya,di RS, khususnya ruang geriatric dan panti belum terlaksana secara evidance based. Sehingga, diperlukan pengembangan riset keperawatan pada area keperawatan gerontic, yang diharapkan mampu menjawab berbagai fenomena yang terjadi dalam memberikan pelayanan keperawatan gerontik.

"Perkembangan permasalahan data perawatan lansia inilah yang mendorong kami, para perawat dan pemerhati kesehatan lansia berhimpun bersama dalam satu ikatan, yakni Ikatan Perawat Gerontik Indonesia (IPEGERI)," tutur Shinta.

Dia menjelaskan  IPEGERI sebagai  badan kelengkapan PPNI mempunyai peran penting dan strategis, dalam ikut berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan Bangsa dan Negara. Salah satu peran penting IPEGERI ialah turut aktif dalam penyusunan kebijakan kesehatan lansia, yang berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan di tingkat Pusat, serta Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/ Kota.

Pasalnya menurut beliau, kondisi faktual di lapangan, saat ini seluruh RS Pemerintah dan swasta membutuhkan perawat gerontik. Untuk mengelola pelayanan geriatric, baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, serta bentuk layanan lain di intitusional, juga termasuk bentuk layanan di panti Werdha. D

bagian lain, Dewan pakar keperawatan Gerontik Dra Junaiti Sahar SKp MAppSc PhD, juga sebagai pembicara dalam seminar itu menyatakan, sesungguhnya sejumlah regulasi pemerintah dalam penanganan lansia cukup bagus. Hanya saja, ujarnya, implementasinya di masyarakat masih kurang berjalan.

"Masih banyak perlakuan masyarakat dan institusi terhadap lansia, yang tidak memadai," ujarnya. Fasilitas umum, imbuhnya, juga masih belum mencukupi. Dicontohkannya, di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), kendati bangunannya megah kadang tidak dilengkapi dengan pegangan untuk lansia melangkah.

"Atau bangku ruang tunggunya yang kurang nyaman untuk lansia," ujarnya. Kongres sekaligus seminar itu diikuti sedikitnya 200 peserta. Para peserta berasal dari 18 provinsi. Di antaranya Jakarta, Banten, Bali, Sumatera Utara, Gorontalo, Supawei Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Maluku Utara, NTB, hingga Papua.