logo

Menperin Bidik Investasi USD 5 Miliar dari Jepang dan Korsel

Menperin Bidik Investasi USD 5 Miliar dari Jepang dan Korsel

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama jajarannya dan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Jepang Tri Purnajaya melakukan pertemuan dengan pelaku industri Jepang di Tokyo, Senin (18/11).
18 November 2019 21:53 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri manufaktur, terutama yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0. Adapun dua negara yang dianggap potensial untuk ditarik modalnya ke Tanah Air, yakni Jepang dan Korea Selatan (Korsel).

“Potensi investasi yang begitu besar dari Jepang dan Korsel harus dikawal, sehingga mereka nyaman dan ini harus dilakukan dengan cepat, karena kecepatan ini yang diinginkan Bapak Presiden Joko Widodo,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui rilis di saat kunjungan kerja ke Tokyo, Jepang, Senin (18/11/2019).

Menperin menuturkan, peluang investasi yang dibidik dalam kunjungan kerjanya ke Jepang dan Korsel adalah industri otomotif, baja, dan kimia. 

Menperin diagendakan untuk melakukan one on one meeting dengan sejumlah jajaran direksi dari perusahaan-perusahaan ternama kedua negara tersebut. Kunjungan ini khusus untuk bertemu dengan industri.

“Kami coba bicara dengan beberapa prinsipal untuk melakukan pengembangan jenis produk baru. Msalnya di Korsel ada perusahaan besar, nomor tiga di Korsel, tapi belum punya kegiatan produksi di Indonesia. Ini yang akan kami dorong,” jelasnya.  

Komitmen investasi yang dikawal dari lawatan ke Jepang dan Korea Selatan ini diperkirakan mencapai lebih dari USD5 miliar. Di antaranya berasal dari rencana investasi Lotte Chemical sebesar USD3,5 miliar untuk membangun pabrik baru petrokimia di Cilegon, Banten. Selain itu sekitar USD200 juta dari Nippon Shokubai yang berniat membangun pabrik baru dan perluasan pabrik acrylic acid.

“Nippon Shokubai ini kita harapkan dapat melakukan pengembangan produk turunan dari acrylic acid. Setelah 2021, ketika mereka commercial operation, kapasitasnya tentu akan bertambah,” kata Menperin.

Agus menambahkan, Kemenperin tidak hanya mendorong untuk menghasilkan produk kimia hulu, namun juga investasi tersebut bisa menciptakan produk kimia hilir. “Mereka hampir memroduksi 10 persen dari total kebutuhan produk acrylic acid di dunia, sehingga yang mau kami dorong adalah juga produk hilirnya,” sebutnya.

Untuk industri baja, Menperin akan bertemu dengan Nippon Steel Corporation. Hal tersebut, sekaligus dalam upaya mencari solusi untuk peningkatan daya saing industri baja tanah air, sehingga tidak menjadi salah satu penyumbang deficit neraca perdagangan Indonesia.

“Upaya mengendalikan defisit itu harus kita cari. Di Indonesia, Nippon Steel punya kerja sama dengan Krakatau Steel, proyek investasinya senilai USD142 juta. Misi kami agar Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) bisa meningkatkan porsi CRC (cold rolled coil) lokal untuk mencapai nilai TKDN produk otomotif,” paparnya.

Dalam lawatan ini, Menperin didampingi Sekjen Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, Inspektur Jenderal Kemenperin Setyo Wasisto, Direktur Industri Maritim Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Ditjen ILMATE Kemenperin Putu Juli Ardika, Direktur Industri Kimia Hulu Ditjen IKFT Kemenperin Fridy Juwono. ***