logo

Insitut STIAMI Jakarta Jalin Kerja Sama Dengan Perusahaan Logistik Nasional

Insitut STIAMI Jakarta Jalin Kerja Sama Dengan Perusahaan Logistik Nasional

Asisten Deputi Bidang Logistik Kemenko Perekonomian Erwin Raza (kanan) dalam focus group discussion di Institut STIAMI, Jakarta, Sabtu (16/11/2019).
17 November 2019 11:56 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pemerintah mempersiapkan suatu sistem kerjasama dibidang logistik untuk memberikan kemudahan dan membangun kepercayaan bagi perusahaan logistic di tanah air dalam pengembangan usaha melalui ‘national logistic ecosystem collaboration’.

“Yang kita harapkan ke depan, kolaborasi menjadi kunci memperkuat logistik di Indonesia, kita butuh national logistic ecosystem collaboration. Inilah satu cita-cita kita bersama yang perlu untuk menciptakan sistem kolaborasi logistik tersebut di antara seluruh pemain (sector logistic),” kata Asisten Deputi Bidang Logistik Kemenko Perekonomian Erwin Raza dalam focus group discussion di Institut STIAMI, Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Pembangunan sistem kerjasama seperti itu, menurut Erwin tidak akan merubah sistem yang sudah ada. “Tidak mengganti sistem yang sudah ada tetapi dikolaborasikan melalui aplicaion program interface (API). Ini, yang kita harapkan nanti mengkolaborasikan seluruh platform di logistic yang ada, dari hulu sampai hilir, wearhouse, e-tracking, e-shipping, e-forwarder, e-payment, e-depo, dan lainnya. Ini memungkinkan smart kontrak, g to b (pemerintah dan pebisnis, pebisnis dan pebisnis, dan seterusnya,” papar Erwin.

Dalam hal ini, kata dia pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator yang mempertemukan antara supply dan demand sektor logistik dan tidak memungut biaya.

“Ini yang paling penting, tidak memungut biaya. Pelayanan diserahkan kepada mekanisme pasar. Inilah bentuknya nanti para pihak, banking, surveyor, perusahaan ekspor impor, operator, airliner, forwader, dan lainnya (akan bertemu dalam sistem kerjasama nasional). Ini, adalah kiat-kiat pemerintah yang dihubungkan dengan API itu tadi,” jelas Erwin.

Dibangunnya suatu sistem kerjasama antar perusahaan logistik ini ujanrya, untuk menjawab keberadaan pelaku usaha dibidang logistik yang selama ini belum bisa membangun kepercayaan (trust) antar mereka. Ini masalah yang harus diatasi agar perusahaan logistik bisa berkembang.

“Tetapi, yang menjadi masalah, trust di kita belum terbangun. Bukalapak saja membangun kolaborasi melalui platformnya belum semuanya mau ikut. Karena takut nanti datanya diambil dimanfaatkan oleh yang lain (competitor, meski sesama bukalapak),” kata Erwin Raza.
Ia menceritakan terjadinya kegagalan dalam membangun suatu ekosistem kolaborasi logistik di pelabuhan. “Kami juga pernah membangun ekosistem di kepelabuhan tetapi gagal, karena kita belum saling percaya,” tandasnya.

Oleh karena itu, ke depannya sistem kolaborasi logistic nasional itu menjadi katub yang menghubungkan semua model bisnis melalui platform yang dibangun pemerintah. “Kenapa pemerintah, karena pelaku usaha itu tidak mau kalau antar pelaku usaha (yang sama), takut data-datanya dimanfaatkan yang lain,” ucap Erwin.

Di sisi lain harus diakui sistem logistik Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan infrastruktur yang belum mendukung kelancaran logistik tersebut. Ada jalan berbayar yang berdampak tingginya biaya tetapi jalan yang tidak berbayar lebih dibutuhkan agar biaya lebih murah.

“Itu memang pilihan bagi penyedia jasa logistik, pemerintah menyediakan infrastruktur pengguna bisa melalui tol, non tol atau kereta api. Masalahnya memang jalan tol sudah terbangun tetapi bagaimana konektivitasnya memasuki jalan provinsi, kabupaten, sehingga selalu ada hambatan setelah keluar dari tol mulai tersendat,” ujarnya.

Bagi pengguna, masalah biaya yang dirasakan tinggi memerlukan kajian, apa memang membutuhkan jalan tola tau tidak. “Tetapi sudah karakteristik driver (sopir) juga, dia lebih senang dikasih uang jalan oleh owner atau majikannya dan dia berusaha menghemat dari uang itu. Kalau masuk tol mungkin kecil atau bahkan tidak ada yang dibawa pulang. Jadi banyak faktor (perlu dikaji),” kata Erwin.**

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto