logo

Warga Kabupaten Sorong Tolak Radikalisme

Warga Kabupaten Sorong Tolak Radikalisme

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Sorong, Adri Timban SH/Foto skid (Yacob Nauly)
14 November 2019 05:19 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - AIMAS:Radikalisme, atau tindakan kekerasan atas  nama suku agama dan ras tak akan tumbuh dan berkembang di  kabupaten Sorong.

Pasalnya,  seluruh lapisan masyarakat  dari berbagai suku bangsa  yang hidup di  daerah (kabupaten,Red)  ini, menolak  pengaruh radikalisme itu tumbuh dan berkembang di daerahnya .

Warga di kabupaten Sorong,  seperti diketahui,  terdiri  dari berbagai  suku bangsa  asal; Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Maluku Utara  yang hidup di atas  tanah  Suku  Moi, bersama   penduduk asli Sorong bergandengan tangan (bersatu).

Masyarakat   pendatang yang  lama hidup di tanah Moi tersebut adalah  para transmigran, yang  berasal  dari suku Jawa .

“Warga yang mendiami kabupaten  Sorong sejak lama  bersatu dan menyatakan sikap  menolak berbagai aksi kekerasan yang mengatasnamakan suku, agama dan ras. Komitmen itu dikemas dalam  kegiatan organisasi, golongan mau pun  perorangan,”kata Kepala Badan  Kebangsaan  dan Politik (Kesbangpol) kabupaten  Sorong, Adri Timban SH, di kantornya di Aimas, Rabu (13/11/2019).

    Aksi kekerasan yang terjadi selama ini mayoritas dilakukan oleh kelompok orang yang mengatasnamakan agama dengan menyalahartikan sejumlah pengertian kebaikan untuk dijadikan dalil guna  melakukan tindakan kekerasan atas nama jihad.

Semua aksi kekerasan yang atas nama agama sangat tidak dibenarkan, baik menurut hukum agama dan negara. Gerakan ini bisa dicegah dengan mengoptimalkan peran tokoh agama untuk mendakwahkan nilai-nilai luhur agamanya masingmasing di kabupaten Sorong.

 Kesbangpol kabupaten Sorong, lanjutnya, bersama unsur  lainnya, menggelar  pembinaan yang baik melalui sektor  pendidikan. Ini dimaksudkan,  untuk mengantisipasi masuknya pahan radikalisme melalui  dunia pendidikan  di sekolah-sekolah.

Pengalaman menunjukkan,  bahwa  banyak penduduk Indonesia yang berusia muda  sering termakan ajaran-ajaran sesat dan bila tidak dilakukkan pembinaan yang positf bisa membahayakan.

Faktor yang bisa menimbulkan radikalisme yaitu emosi keagamaan atau solidaritas keagamaan dan berbahaya bila melekat pada orang yang pengetahuan agamanya minim.

 Masyarakat kabupaten Sorong selama ini, mewaspadai setiap ada ajaran dan ajakan yang mencurigakan. Separti, umroh gratis,  janji-janji kehidupaan yang lebih baik, ajakan yang mengharuskan menggunakan barang-barang yang tidak umum dan sebagainya. ***

Editor : B Sadono Priyo