logo

 Tannas Di Garis Merah Dan Pemulihannya

Tannas Di Garis Merah Dan Pemulihannya

11 November 2019 17:18 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: M.D. La Ode

 

Presiden Soekarno mendirikan Lemhannas 20 Mei 1965 melalui Perpres Nomor 37/1964.

Lemhannas Non Kementerian menjalankan tugas pemerintahan: 1) pendidikan pimpinan tingkat nasional; 2) pengkajian strategis Ketahanan Nasional (Tannas); 3) pemantapan nilai-nilai kebangsaan. Secara kualitatif, Tannas mengukur keberhasilan pembangunan nasional menggunakan tiga warna garis “hijau”, “kuning”, “merah”.

Pengukuran tiap tahun dalam rentang lima tahun. Kini, secara independen Tannas berada pada garis warna “merah”. Bagamana pemulihanya agar Tannas kembali ke garis warga “kuning” hingga “hijau” sebagaimana “Iktikad Strategis” Soekarno?

Untuk itu digunakan Catastrophe Theory dari Rene Thom seorang matematikawan Perancis guna menjelaskan “Iktikad Strategis” Soekarno dan keruntuhan kekuasaan suatu bangsa. 1. Sitem Tannas Prof. Dr. Wan Usman, MA menulis dalam bukunya berjudul Daya Tahan Bangsa (“Weerbaarheid”=bhs Belanda) bahwa Tannas ialah “kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan ketangguhan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala bentuk Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan gangguan (ATHG) baik dari dalam maupun dari luar”.

Tannas merubah segala komplesitas kehidupan nasional menjadi simplifikasi disebut Asta Gatra Nasional. Di dalamnya ada Geografi, Sumber Daya Alam, Demografi (Tri Gatra) sifatnya relatif statis; dan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosbud, Hankam (Pancagatra) disingkat Ipoleksosbudhankam, sifatnya dinamis. Itu bernama sistem Tannas.

Menurut Prof. Wan, sistem Tannas adalah suatu set komponen yang berinteraksi tanpa konflik menuju suatu tujuan. Maksud Prof. Wan tentu menuju tujuan nasional masyarakat yang adil dan makmur secara stabil. Rumusan Prof. Wan bahwa sistem Tannas= faktor fisik x faktor abstrak.

Di mana faktor fisik ialah geografi; massa kritik; sumber daya alam dan ekonomi; militer/Hankam. Faktor abstrak ialah strategi; keamanan; kemampuan suasi. Rumus itu adalah refisi rumus R.S. Cline bahwa “sistem Tnnas” P= (C+E+M) x (S+W). Dimana: P= Power; C= Critical mass; E= Economics; M= Military; W=National will; S= Strategy. Menurut Prof. Dr. Daoed Joesoef, “semuanya itu adalah variabel substantif yang secara esensial mencerminkan faktor kemampuan” yang dilakukan oleh aktor nasional yang disebut leader(ship).

Titik temunya berada pada Presiden/Raja suatu bangsa. 2. Keruntuhan Bangsa Nasib suatu bangsa menurut sejarah politik dibangun, dipertahan, dan akhirnya runtuh jua. Menjelaskan bertahan dan runtuhnya suatu bangsa, digunakan cathastrope theory dari Rene Thom seorang matematikawan Perancis. Landasan filosofis teorinya bahwa gejala alam semesta adalah reguler dan stabil (structural stability), di dalamnya memuat ide tentang stabilitas perubahan (the stability idea of change).

Structural stability berhubungan dengan Tri Gatra Nasional karena ditemukan secara berulang kali dalam keadaan relatif statis. Contohnya permukaan Bumi, Lautan, dan penduduk dengan ide ide konstruktif dan destruktifnya yang melandasi sifat sifatnya terhadap objeknya yaitu kekuasaan bangsa.

Begitu juga dengan the stability idea of change yang ditunjukkan oleh sifat dinamis Ipoleksosbudhankam. Di sini berlaku tiga sifat demokrasi merebut kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan moderat.

Menurut Prof. Daoed Joesoef, hal itu hanya bisa dipertahankan “apa bila setiap faktor substantif adalah prima, dan derajat ketahanannya masih bisa ditingkatkan dari aspek mental pembentukan nation state turut diperhitungkan”.

Faktor substantif Tannas adalah Asta Gatra Nasional yang menjadi objek formal “iktikad strategis” Soekarno dan melemahnya aspek mental nation state menjadi faktor pendorong efektif runtuhnya suatu bangsa.

Contoh: runtuhan Imperium Romawi 476, Uni Soviet dan Yogoslavia 1991, Orla 1965 dan Orba 1998 serta potensi keruntuhan NKRI. Perihal ini dapat diidentifikasi melalui analisis faktor faktor substantif itu. Di sini dapat dilihat apakah Tannas berada pada garis warna “hijau”, “kuning”, atau “merah” sebagai potensi keruntuhan nyata, bisa menggunakan sistem Tannas Prof. Wan dan Cathastrope theory Rene Thom.

Tiap tiap aspek Asta Gatra Nasional 100 x 8 aspek= 800, sebagai nilai prima dimaksudkan Prof. Daoed Joesoef. Apa lagi jika ditunjang dengan faktor kualitatif mental nation state akseleratif untuk menunjang nilai Prima Asta Gatra Nasional, berarti Tannas dalam kondisi ulet dan tangguh atau pada posisi “warga garis hjau”.

Nilai kualitatif ini segaris dengan perspektif sistem Tannas Prof. Wan Usman, yakni aspek fisik dan abstrak juga pada kondisi dinamis ulet dan tangguh. Sedangkan dari perspektif cathastrope theory Rene Thom disebutnya structural stability dan berarti jauh dari rong rongan the stability idea of change.

Namun hasil studi kualitatif terhadap Asta Gatra Nasional, saat ini 5/8 (ekonomi, politik, geografi, Sumber Daya Alam, sosbud) Asta gatra nasional sudah dikuasai bangsa lainnya yakni etnis Cina Indonesia (ECI) dan Cina Komunis.

Sisanya 3/8 (Demografi, Hankam, Ideologi) Asta Gatra Nasional masih relatif dikuasai Pemerintah dan Pribumi. Ini terjadi akibar nilai nilai kebangsaan selama era reformasi salah asuh. Nilai Prima Asta Gatra Nasional 800, kini nilai yang masih relatif dikuasai pemerintah dan Pribumi sisa 300 dari aspek Hankam, Ideologi, dan Demografi. Nilai ini persis berada pada garis warga “merah” Tannas.

Dari sistem Tannas Prof. Wan nilai fisik dan abstrak, nilai Tannas Prof. Daoed Joesoef yakni faktor substantif dan mental nation state, dan nilai cathastrope thepry Rene Thom structural stability tidak efektif karena semuanya runtuh yang disebabkan faktor the stability idea of change sifat destruktifnya bekerja optimal.

Sementara itu, pertahanan memental nation state, faktor abstrak, dan “Iktikad Strategis” Soekarno tidak berfungsi efektif disebabkan terlampau tangguhnya tekanan the stability idea of change dari cathastrope theory Rene Thom. Siapa yang paling bertanggun jawab atas posisi garis warna “merah” Tannas dan pemulihannya?

Tidak lain adalah pemerintah sebagai leader(ship) dan Pribumi. 3. Model Pemulihanya Model pemulihan Tannas dari posisi “warna garis merah” menuju posisi “warna garis hijau” melewati “warna garis kuning”, diperlukan tiga pendekatan rasional-substantif.

Pertama, pemerintah (leader(ship) dan Pribumi, mengaktifkan faktor fisik dan faktor abstrak (Prof. Wan), mengaktifkan variabel substantif dan mental nation state (Prof. Daoed Joesoef), dan structural stability (Rene Thom) secara esensial dan prima. Upaya ini untuk mempengaruhi faktor the stability idea of change Rene Thom supaya ditekan ke tingkat minimal.

Kedua, merevisi rumus R.S. Cline yakni P=(C+E+M) x (S+W) meskipun semula telah direvisi Prof. Wan, dalam rangka mencapai nilai Tannas menurut cathastrope theory Rene Thom harus direvisi lagi menjadi P=(I+C+E+M) x (S+W). Dimana: P= Power; I= Indigenous People; C= Critical Mass: E= Economics; M= Military; W= National Will; S= Strategy. Faktor “I” rumus R.S. Cline dimasukkan karena status politik Pribumi pada 193 negara yang menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) saat ini secara esensial dan kekuatan Prima dari Prof. Daoed Joesoef, sesuai dengan Teori Trilogi Pribumisme yakni Pribumi pendiri negara; Pribumi pemilik negara; Pribumi penguasa negara.

Dalam kasus Indonesia, faktor Pribumi diabaikan dan dihapuskan menjadi national identity NKRI. Kemudian pemerintah sebagai national leader(ship) dengan alasan demokrasi memberikan kemuliaan kepada kelompok ECI menjadi faktor mulia pengemban esensial faktor faktor fisik dan abstrak Tannas dari Prof. Wan.

Ini bukan indikator keberhasilan Tannas, melainkan indikator terjajah ECI dan Cina Komunis menuju keruntuhan bangsa.

Editor : Yon Parjiyono