logo

Gelar Seminar Internasional, STEI Dorong Dosen Tingkatkan Kualitas Penelitian

Gelar Seminar Internasional, STEI Dorong Dosen Tingkatkan Kualitas Penelitian

Ketua Yayasan Pendidikan Fatahilah Jakarta (YPFJ) H. Agustian Burda, BSBA., MBA bersama Ketua STEI Drs.Ridwan Maronrong. M.Sc mendampingi Anggota BPK RI, Prof. Dr. H. Harry Azhar Azis, M.A dalam pembukaan Forum Ilmiah dan Konferensi Internasional ICBESS yang digelar STEI
07 November 2019 23:19 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) berupaya keras mendorong akademisi meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian. Pasalnya, kewajiban melakukan penelitian dan publikasi menjadi salah satu ketentuan penerimaan tunjangan sertifikasi dosen. Apalagi penelitian tersebut berguna bagi kepentingan bangsa dan negara.

"Di era Industri 4.0 seperti sekarang ini, tentu banyak kemajuan khususnya di bidang digital yang mempengaruhi sistem bisnis modern. Saya pribadi berharap seminar ini dapat menghasilkan metode baru di bidang bisnis, ekonomi dan sosial yang dapat digunakan untuk membantu kinerja pemerintah," kata Anggota Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Harry Azhar Aziz saat menjadi keynote speaker Forum Ilmiah dan Konferensi Internasional ICBESS yang digelar STEI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (6/11/2019)

Menurut Harry yang juga dikenal sebagai ahli ekonomi dan juga politisi ini bahwa peran ilmu sosial ternyata tidak bisa lepas dari ilmu ekonomi dan bisnis. Begitupun sebaliknya.

"Pertumbuhan bisnis dan ekonomi dalam konteks ilmu sosial tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, tapi sedemikian rupa harus bermanfaat bagi rakyat banyak, khususnya masyarakat di Indonesia," tuturnya. Dia mendorong para pengajar yang hadir dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang berdampak bagi metode, baik itu dalam lingkup bisnis maupun ekonomi, terutama ilmu-ilmu sosial. Ternyata ilmu sosial tidak bisa lepas dari ilmu ekonomi dan ilmu bisnis. Entitas bisnis lama banyak yang mati, tapi entitas bisnis baru juga banyak yang tumbuh," ungkap Ketua BPK RI periode 2014-2019 ini '

Pertanyaanya, lanjut dia, seberapa besar entitas bisnis-bisnis yang baru itu bisa merekrut sebanyak-banyak lapangan pekerjaan. Artinya, salah satu target pembangunan yakni pengurangan angka pengangguran di era digitalisasi sekarang ini bisa teratasi.

*Maka saya juga berharap forum ilmiah dan seminar internasional ini diharapkan menghasilkan pemikiran-pemikiran dan model-model penelitian baru dengan tujuan menciptakan kualitas sumber daya manusia yang unggul," tandasnya.

Harry mengingatkan para peneliti yang hadir pada event internasional itu atas komitmen Presiden Joko Widodo (Jokowi) bervisi menciptakan sumber daya manusia yang unggul, tidak bisa tidak, level-level pekerjaan skill profesional itu harus di maping sedemikian rupa agar diketahui berapa major force yang dibutuhkan sehingga apa yang dihasilkan dengan sistem pendidikan yang ada sekarang ini betul-betul bisa padu dengan perkembangan teknologi dan informasi.

"Ini kesempatan emas bagi para peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah yang dibutuhkan bangsa. Baik dari ilmu akutansi, bisnis, ekonomi dan sosial," katanya.

Senada dengan Anggota BPK RI Harry Azhar Aziz, Ketua STEI Ridwan Moranrong memastikan bahwa seminar ini ingin mendorong para dosen untuk menghasilkan publikasi internasional yang outputnya dapat dipublikasikan di jurnal internasional. Baik itu penelitian terkait manajemen dan akutansi.

"Penelitian yang dilakukan sekarang bisa menghasilkan inovasi-inovasi baru yang berkaitan dengan 4.0. Yang kemudian bisa menjadi jalan keluar. Bisa menjawab tantangan yang terjadi dan bisa memberi jawaban jitu ke depan," tuturnya.

Apalagi, kata Ridwan, seminar tersebut juga dihadiri universitas-universitas dari dalam dan luar negeri. Semuanya bekerjasama untuk menggali pemikiran-pemikran dalm rangka memberi masukan ke pemerintah dan dalam hal pengembangan ilmu, terutama akutansi dan manajemen.

"Kita tentu berharap terjadi kolaborasi kegiatan yang menghasilkan penelitian terutama model akutansi yang dapat membantu usaha kecil menegah dan mikro yang selama ini bisa digunakan di perusahan-perusahaan maju," katanya.

Ridwan menambahkan, ke depan semua pesera menginginkan terciptanya sistem model-model akutansi yang baik, baru, bisa diduplikasi dan bisa menjadi jawaban kebutuhan bangsa.

"Seminar ini untuk saling menguatkan tentang standar akutansi dari pemikiran perguruan tinggi dalam era Revolusi Industri 4.0 pastinya,"jelas Ketua STEI Ridwan Moranrong***