logo

Dua Ekor Dugong Ditemukan Mati Terjerat Jaring Di Perairan Kei Kecil Malra

Dua Ekor Dugong Ditemukan Mati Terjerat Jaring Di Perairan Kei Kecil Malra

24 Oktober 2019 06:18 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - AMBON: Dua ekor dugong (ikan duyung) ditemukan mati terjerat jaring nelayan di perairan sebelah barat Ur Pulau, Kepulauan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra)  (21/10/2019).

Seorang nelayan di Ur Pulau Kei Amus Rumheng menceritakan kronologis dua ekor ikan duyung yang terjerat jaring benang dengan lebar mata jaring 3 inch dipasang di tengah laut pada 21 Oktober 2019.

"Saya hendak mengangkat jaring dan tak sengaja menemukan dua ekor dugong yang tersangkut dalam jaring bycatch atau tangkapan sampingan," katanya, Rabu (23/102019) seperti diwartakan Antara.

Ia mengatakan, saat jaring dinaikkan, dua ekor dugong tersebut telah mati dengan luka lecet di bagian tubuh dan ekornya, selanjutnya dirinya membawa dua ekor dugong ke pesisir Ur Pulau dan meminta bantuan warga.

"Saya pikir hewan ini kalau masih hidup saya lepas, tapi sayangnya sudah mati sehingga saya meminta bantuan ke salah satu warga Petrus Rahakauw untuk melaporkan kejadian pada instansi terkait agar ditindaklanjuti," katanya.

Laporan yang diterima selanjutnya ditindaklanjuti Kepala Resort KSDA Tual Justinus Yoppi Jamlean bersama Pangkalan PSDKP Tual, Dinas Perikanan Maluku Tenggara dan WWF-Indonesia menuju lokasi kejadian.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, tim evakuasi memulai proses pengambilan data morfometri dugong, interview kronologi kejadian kemudian proses pemusnahan bangkai.

Diduga dua satwa dugong tersebut merupakan induk betina dan anak jantan dengan ukuran masing-masing panjang moncong kelekukan pada pangkal ekor 260 cm dan 207 cm.

Project Executant WWF Indonesia Inner Banda Arc Subseascape, Andreas Hero Ohoiulun menjelaskan, perairan Kepulauan Kei merupakan rumah yang kaya akan aneka ragam spesies laut yang indah dan kharismatik.

Aneka ragam spesies laut tersebut termasuk spesies laut yang langka dan dilindungi seperti penyu, paus, lumba-lumba, dugong atau duyung dan lainnya.

Keberadaan spesies langka dan dilindungi di Kepulauan Kei menjadi potensi untuk meningkatkan pengembangan sektor pariwisata bahari.

"Karena itu perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan dan kelestarian terhadap spesies langka yang dilindungi, sehingga diperlukan kerja sama dan kepedulian semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan organisasi peduli lingkungan lainnya," katanya. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto