logo

Mencegah Paham Radikalisme Masuk Di Sorong

Mencegah Paham Radikalisme Masuk Di Sorong

Ketua STAIN Sorong, Dr Hamzah Khaeriyah M.Ag/Foto:Humas STAIN
20 Oktober 2019 18:03 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - SORONG:Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAIN) Sorong, Dr  Hamzah Khaeriyah, mengatakan, pencegahan menyebarnya  paham radikalisme yang berdampak pada  kekerasan harus diantisipasi di  Papua Barat utamanya di Sorong Raya.

Terkait radikalisme ini, peran serta perguruan tinggi dan warga  menjadi  utama  untuk mendeteksi sekaligus mencegah gerakan terselubung  paham tersebut meluas hingga merugikan masyarakat.

“Saya berharap tamatan STAIN  Sorong,  ini memiliki pandangan yang sama berdasarkan  empat pilar pembinaan kita. Di antaranya , pilar  Keislaman, Keindonesiaan Kepapuaan dan Kepemimpinan,”kata Hamzah di Sorong, Minggu (20/10/2019).

 Kalau empat pilar itu diimplementasikan  dengan baik dan konsisten maka damailah perjalanan hidup  bangsa Indonesia dalam bernegara  lebih  khusus di Papua Barat.

“Artinya, kita beragama untuk kelangsungan Indonesia dan Keislaman yang  melestarikan NKRI untuk selamanya. Karena itu, STAIN yang berhak  merubah  wajah Islam di Papua Barat karena  SDM pengajar dan  mahasiswanya  sudah mampu untuk menghadapi tantangan globalisasi dewasa  ini,”katanya.

Karena itu, menurutnya, tamatan STAIN Sorong inilah yang akan mewarnai pandangan masyarakat  Muslim di daerah Papua Barat tentang ajaran agama yang benar sesuai Alqur’an dan Hadists.

 Dengan demikian diharapkan  masyarakat Muslim utamanya pemuda  tidak masuk dalam pengaruh radikalisme yang sangat merusak  mental  bangsa  belakangan ini.

Pilar Kepapuaan, artinya, kehadiran STAIN di Papua Barat  untuk menjadi penerang  agar warga di daerah ini dapat memahami dengan jelas bahwa Islam tidak membeda-bedakan suku-golongan dan keyakinan.

Silakan menjalankan keyakinan masing-masing. Sedangkan, Papua   yang terdiri dari ratusan suku bangsa setempat harus dihargai dan dicintai sebagai  saudara setanah air yang hidup dalam NKRI. “Kita menjunjung tinggi perbedaan suku, agama dan golongan  serta keyakinan  (agama)  yang berlangsung  di Papua Barat,”katanya.

Oleh karena itu, Indonesia harga mati dan hal itu sudah menjadi komitmen bangsa Indonesia  di Papua Barat,   yang sangat sering dikumandangkan oleh seluruh masyarakat di daerah ini.

Nah, pemuda /remaja  adalah lokomotif  pembangunan bangsa dewasa ini, lanjutnya, sehingga  perkembangan politik, ekonomi  sosial lainnya menjadi  tanggung jawab pemuda untuk melestarikannya.

Utamanya, nasionalisme harus  dibangun mulai dari akar rumput hingga elit di daerah hingga di pusat negeri ini. “Bagaimana membangunnya, tentu ada kaidah-kaidah yang sudah ditentukan berdasarkan  budaya  bangsa Indonesia,”kata Hamzah.

Dalam  prinsip kehidupan Keislaman,  ada   patokan yang  harus dijalankan ,antara lain ukhuwah  Islamiah, ukhuwah  Insaniyah dan   ukhuwah Wathoniyah.

Tiga prinsip itu ketika dipegang teguh  maka tak ada  lagi  permusuhan  sesama anak bangsa. Dan tentunya,  tak ada lagi  saling menghina, saling menyalahkan apalagi saling melukai hingga  saling membunuh.

“Karena itu, kepada pemuda/remaja, diimbau jauhi pemikiran  sesat yang dihembuskan oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Satukan  dan rapatkan barisan untuk membela negara  berdasarkan  Pancasila UUD 1945,”kata  Hamzah. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH