logo

Central Market, Jujugan Terakhir Berwisata di Malaysia

Central Market, Jujugan Terakhir Berwisata di Malaysia

Salah satu sudut Central Market di Kuala Lumpur
20 Oktober 2019 10:14 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - KUALA LUMPUR: Malaysia selalu punya banyak cara untuk menarik perhatian wisatawan asing. Sebuah pasar bernama Central Market yang di Indonesia sebetulnya relatif biasa, disulap sedemikian rupa menjadi ikon pasar mendunia yang wajib dikunjungi saat berkunjung ke Negri Jiran ini.

Menurut Assisten Manager Advertising and Promotions Central Market, Sam Yap Kang Hsien, pasar ini memperkenalkan hasil seni dan kerajinan tangan yang menonjolkan budaya Malaysia. "Semua ragam cinderamata dan snack Melayu tradisional ada di sini. Semua asli buatan Malaysia," ujarnya, Jumat (18/10/2019).

Ditemui di pasar yang berada di Jalan Hang Kasturi 50050 Kuala Lumpur,  Sam menyebut pasar ini sudah ada sejak tahun 1.888 silam. Sebelum menjadi pasar seni, Central Market merupakan Pasar Besar Kuala Lumpur yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari para penduduk dan penambang biji timah.

Di bawah naungan Central market Sdn Bhd, pasar ini diubah menjadi sebuah pusat tujuan para pelancong. Sebanyak 350 kedai (stand) tersebar di sejumlah lorong. Keberadaan Lorong Melayu, Cina dan Lorong India ini seolah ingin menunjukkan keharmonisan rakyat beda ras yang hidup berdampingan di  Malaysia.

Di Central Market ada kawasn bernama Kasturi Walk yang pintu masuknya saja, sudah membuat penasaran  banyak orang. Di lorong yang dibangun sejak 2011 ini, ada banyak kerajinan tangan, cindera mata, pakaian, hingga snack dan minuman tradisional khas Melayu.

Central Market juga memberi kesempatan para turis yang budgetnya terbatas, agar tetap bisa membawa pulang oleh-oleh dari Malaysia. Dibanding Sungei Wang Plaza dan Jalan Petaling, Central Market bisa disebut sebagai surganya para pecinta barang seni dan etnik.

Di Lorong Seni misalnya, ada sekitar 10 studio lukisan yang menawarkan karya klasik kontemporer, karikatur dan potret. Termasuk  seni batik warna-warni Malaysia yang disediakan agar tetap mewarisi tradisi nenek moyang.

Upaya menarik perhatian pelancong asing,  sudah dilakukan dengan berbagai cara. Di kedai tertentu misalnya, sudah disediakan diskon hinggga 50 persen bagi pengunjung yang bisa menunjukkan paspor.

Salah satu pemilik kedai yang merupakan pasangan suami istri, Junz Cheah-Deepavali, misalnya agresif menawarkan obat kuat bernama Tongkat Ali pada pengunjung yang singgah. "Orang China banyak yang suka obat herbal macam ini," ujarnya

Central Market juga ada tempat bernama Interaction Center yang menawarkan kepada para pengunjung, untuk terlibat langsung dalam sebuah karya. Pelancong yang datang berkelompok misalnya, ditawari untuk  menjajal cara membuat beragam kuliner bernuansa Melayu.

Menurut Pengelola Interactic Center,  Irine, program ini lebih diarahkan untuk pembelajaran nilai. "Pelancong anak-anak dan remaja merasa senang, saat menikmati wedang onde yang dibikin dan diracik sendiri," ujarnya.

Bukan hanya kuliner, pengunjung Central Market juga diberi kesempatan membeli batik yang dilukis sendiri. Pihak kedai sudah menyediakan semua kebutuhan membatik mulai dari kuas, kain hingga lilin.

Puas menyusuri seluruh lorong, pengunjung dimanjakan relaksasi pijat kaki dengan ramuan herbal. Rasa penat selama berkeliling di Malaysia, bakal hilang, setelah kaki direndam air ramuan herbal di kedai salah sudut Cetral Market yang semakin melegenda ini.***

Editor : B Sadono Priyo