logo

Fenomena Jokowers Yang Memang Beda

Syamsudin walad

Fenomena Jokowers Yang Memang Beda

19 Oktober 2019 16:40 WIB

SuaraKarya.id - Sebelum panjang lebar mengulas fenomena Jokowers, ada baiknya kita fahami terlebih dulu kata Jokowers. Hal ini agar tidak terjadi salah faham dan diartikan negatif. Agar pihak-pihak terkait yang kerap mengusung kata-kata "ujaran kebencian" untuk memperkarakan orang atau pihak tertentu berlandaskan UU ITE juga memahami kata Jokowers.

Kata Jokowers sendiri bukanlah bermaksud mengejek atau sebuah kata yang mengandung unsur kebencian. Kata Jokowers tak bedanya dengan kata Slankers, yang menunjukan begitu besarnya kesetiaan orang kepada sosok personal atau grup. Bisa juga dibilang sebagai penggemar fanatik atau pengikut setia. Jadi sepakat di sini Jokowers bukanlah kata-kata ejekan atau mengandung unsur kebencian.

Fenomena Jokowers sendiri muncul sejak pilgub DKI Jakarta yang mengantarkan Joko Widodo (Jokowi) menjadi Gubernur DKI Jakarta, menggusur pesaingnya yang incumbent Fauzi Bowo. Namun fenomena Jokowers semakin viral sejak pilpres 2019 dimana pemanasannya sudah mulai berjalan sejak 2018 dan terus memanas hingga hari H pencoblosan. Fenomena Jokowers pun bertahan hingga hari ini.

Sosok Jokowi yang dimata Jokowers selalu tampil sederhana, merakyat dan humanis telah membius Jokowers. Jokowi tampil menjadi sosok Presiden idola tanpa cela. Padahal seperti pemimpin umumnya, ia pun punya banyak plus minus dan baik buruk. Namun toh itu tak terlihat oleh Jokowers sejati.

Sosok Jokowi memang berbeda dengan pesaingnya Prabowo. Mantan Pangkostrad di era rezim orde baru itu tak memiliki pendukung se-fanatik Jokowi. Terlebih usai kalah dalam pilpres ia seperti tak punya sikap yang tegas sebagai oposisi. Belakangan malah terus merapat ke Jokowi dan terkesan berharap bisa bergabung dalam kabinet. Sebuah sikap yang tentu saja mengecewakan pendukungnya.

Kembali ke Jokowers. Jokowers memang istimewa. Beda dengan pendukung-pendukung Presiden sebelumnya di era reformasi. Jokowers merupakan massa yang cair berasal dari berbagai golongan. Ia sensitif saat pujaannya, sang Presiden, dikritik akibat sikap dan kebijakannya yang pro kontra. Ia bakal balik menyerang dan melakukan pembelaan yang tak kalah garang dengan pihak yang mengkritisi sang presiden. Ini sangat berbeda dengan pendukung presiden-presiden sebelumnya.

Jika presiden sebelumnya jika dikritisi hanya dibela oleh orang-orang sekitar istana dan se-partainya. Atau oleh anggota ormas yang memang berafiliasi dengannya, namun Jokowi tidak. Jokowi dibela oleh Jokowers yang merupakan massa cair, diluar ormas dan partai-partai pendukung. Jokowers lebih militan lagi di media sosial. Hal yang tidak dilakukan di era SBY meski media sosial sebenarnya sudah marak kala itu.

Militansi pembelaan Jokowers tampak dalam demo mahasiswa menolak RKUHP dan UU KPK yang baru berlaku. Begitu pula desakan mahasiswa agar Presiden keluarkan Perppu UU KPK, dibalas tak kalah garang oleh Jokowers. Di media sosial Jokowers malah lebih eksis. Tak perlu dikomandoi Jokowers pun siap jadi buzzer sukarela dan membully para pengkritik Presiden. Meski diakui Moeldoko bahwa pihak istana sudah tak butuh buzzer lagi dan terkadang kebablasan. 

Terlepas betul tidaknya ada buzzer bayaran, namun yang pasti Jokowers sejati bukanlah massa bayaran. Ia tampil suka rela karena kecintaannya pada sang Presiden. Meski kadang berlebihan dan irasional. 

Sikap berlebihan dan irasional inilah yang sering jadi sorotan. Benarkah Jokowers sekadar pendukung buta yang melihat sang junjungan tanpa cela? Atau memang benar-benar mendukung dengan pertimbangan akal sehat? Hanya waktu yang bisa menjawab. Sebab tak selamanya pemimpin selalu benar.