logo

UOB Painting of The Year 2019, Jadikan Talenta Muda Satukan Indonesia Dalam Keberagaman

UOB Painting of The Year 2019, Jadikan Talenta Muda Satukan Indonesia Dalam Keberagaman

Karya Anagard yang memperoleh penghargaan UOB (Istimewa)
19 Oktober 2019 13:34 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Bank UOB Indonesia menganugerahkan penghargaan UOB Painting of the Year 2019 (Indonesia) kepada Anagard untuk karyanya yang berjudul “Welcome Perdamaian, Goodbye Kedengkian”.

Perupa graffiti ternama yang berusia 35 tahun dari Padang, Sumatera Barat, mengungkapkan gagasan karya yang terkait semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Ia mengajak masyarakat untuk bertoleransi dan menerima perbedaan suku, kebudayaan dan kepercayaan, serta mencerminkan komitmen kuat bangsa Indonesia agar saling menghargai, saling menghormati dan menjaga perdamaian dalam bermasyarakat..

Karya pemenang ini dipilih dari empat finalis untuk kategori Perupa Profesional Kompetisi UOB Painting of The Year 2019 (Indonesia).

Anagard mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh sebuah rumah ibadah yang dikenal sebagai Bukit Rhema di Magelang, Jawa Tengah. Di tempat iki pengunjung dari berbagai negara dan latar belakang datang untuk mengeksplorasi spiritualitas diri. Lukisan tersebut menggambarkan arsitektur unik dari rumah ibadah Bukit Rhema, yang memiliki atap berbentuk kepala merpati sebagai simbol perdamaian, untuk merepresentasikan multikulturalisme dan toleransi di Indonesia.

“Keberadaan Bukit Rhema menegaskan prinsip berbeda-beda tetapi tetap satu yang tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dengan semangat memelihara keselarasan, persatuan dan perdamaian Indonesia di tengah masyarakat yang beragam. Sebagai perupa profesional, saya ingin secara bebas mengekspresikan perlunya memiliki kesadaran dan apresiasi terhadap pluralisme yang sesuai dengan semboyan bangsa kita. Hari ini, saya bangga dapat menerima penghargaan UOB Painting of the Year 2019 dan saya sangat menantikan kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam ajang UOB Southeast Asian Painting of the Year Award di Singapura bulan depan," ujar Anagard di Museum Nasional Indonesia, Kamis (17/10/2019).

Karya pemenang memberikan kesan tersendiri bagi para juri UOB Painting of the Year yang terdiri dari kurator dan praktisi seni Indonesia, antara lain Agung Hujatnikajennong, kurator lepas dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB); Arahmaiani, perupa kontemporer; dan Nirwan Dewanto, kritikus budaya.

Juri Agung Hujatnikajennong mengatakan dengan menggunakan teknik stensil pada aluminium yang unik, perupa ini telah menarik perhatian juri pada isu sosial yang membentuk masyarakat hari ini.

"Busana tradisional yang digunakan oleh sosok manusia dalam karya tersebut seringkali kita lihat pada acara pernikahan tradisional Indonesia yang menggambarkan aspek antar-budaya pada dua keluarga. Hal ini sangat diperlukan agar kita dapat merayakan keberagaman antar individu dimana semuanya merupakan bagian dari kelompok budaya yang lebih besar. Karena itu, untuk memelihara prinsip berbeda-beda tetapi tetap satu, kita patut hidup bertoleransi,"urai Agung. 

Sebagai pemenang kompetisi UOB Painting of the Year 2019 (Indonesia), Anagard menerima hadiah berupa uang tunai sebesar Rp250 juta. Karya Anagard akan bersaing dengan karya pemenang dari Singapura, Malaysia dan Thailand untuk mendapatkan penghargaan UOB Southeast Asian Painting of the Year pada 6 November 2019 di Singapura.

Anagard juga akan berkesempatan untuk mengikuti seleksi program residensi selama satu bulan di Fukuoka Asian Art Museum di Jepang.

UOB Most Promising Artist of the Year 2019.

Dalam kategori perupa Pendatang Baru, Muhammad Yakin, 26 tahun, menjadi kampium penghargaan UOB Most Promising Artist of the Year 2019 (Indonesia) untuk karyanya yang berjudul “Human, Human, Human, Copy of Mimetic Desire”.

Goresan tangan di lukisan yang terbuat dari media campuran ini menggambarkan fenomena saat ini untuk merepresentasikan diri sendiri kepada seorang idola dalam masyarakat, sebagai simbol hasrat untuk meniru dan mendapatkan pengakuan sosial. Meski karya seninya sendiri sesungguhnya merefleksikan perjalanan penemuan jati diri sebelum seorang individu menemukan identitas sejatinya.

Wakil Presiden Direktur UOB Indonesia, Hendra Gunawan mengucapkan selamat kepada seluruh pemenang atas puncak pencapaian prestasi mereka.

"Saya bangga melihat munculnya bakat-bakat baru dari seluruh Indonesia melalui kompetisi UOB Painting of the Year. Kami percaya bahwa komitmen jangka panjang kami terhadap perkembangan seni telah membantu perupa di seluruh Indonesia menjadi terhubung pada lebih banyak peluang di panggung seni lokal dan internasional. Kolaborasi strategis kami dengan pemerintah dan institusi swasta juga mengemban misi bersama untuk mempromosikan para perupa generasi berikutnya kepada masyarakat secara keseluruhan,"jelas Hendra Gunawan.

Sejak tahun 2011, program UOB Painting of the Year telah memungkinkan manajemen untuk memperdalam hubungan dengan komunitas seni seiring dengan upaya ini untuk terus menginspirasi semangat dan kreativitas masyarakat Indonesia.

"Kita telah melihat bagaimana perupa Indonesia telah mampu mendorong batasan kreatif mereka hinga tingkat regional dan saya berharap mereka dapat meraih kesuksesan yang lebih besar di masa yang akan datang dan terus menginspirasi masyarakat,” kata Hendra.

Selama sembilan tahun terakhir, kompetisi ini telah meluncurkan banyak perupa terkenal di Indonesia, termasuk Y. Indra Wahyu, pemenang UOB Southeast Asian Painting of the Year tahun 2012; Antonius Subiyanto, pemenang tahun 2014; Anggar prasetyo, pemenang tahun 2015; Gatot Indrajati, pemenang tahun 2016; dan Suvi Wahyudianto, pemenang tahun 2018.

Sebanyak 50 karya seni yang menjadi finalis, termasuk delapan karya yang menjadi pemenang dari kompetisi UOB Painting of the Year 2019, akan dipamerkan di Ruang Pamer Temporer di Museum Nasional Indonesia mulai 17 hingga 31 Oktober 2019.

Pameran ini dibuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu, pukul 08:00 hingga 16:00 WIB***

Editor : B Sadono Priyo