logo

Menaker: Respon Cepat Perubahan Ketenagakerjaan

Menaker: Respon Cepat Perubahan Ketenagakerjaan

Menaker M Hanif Dhakiri (foto,ist)
16 Oktober 2019 20:22 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Tantangan perubahan ketenagakerjaan yang massif dan semakin dinamis, akan mengubah industri, mengubah karakter pekerjaan, serta mengubah tuntutan skill pada dunia kerja. Perubahan di era revolusi industri 4.0 ini, juga mengakibatkan perubahan karakter pekerjaan, tak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi, seperti penggunaan mesin dan robotisasi.

"Untuk itu, agar Indonesia tetap eksis, maka kunci utamanya yakni merespon perubahan secara cepat pada sisi ketenagakerjaan dan sisi skill pada dunia kerja," jelas Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, saat menjadi panelis acara Indonesia Investmen & Trade Summit (ITIS) 2019, bertajuk "The Future in Now" yang digelar Apindo di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Dia menjelaskan, perubahan industri yang terjadi di luar banyak di-drive untuk perkembangan Teknologi Informasi yang massif dan pada akhirnya akan mempengaruhi hubungan industrial. "Ini harus direspon secara cepat juga baik oleh pemerintah, dunia usaha dan serikat pekerja," ujarnya.

Dia menyatakan, prioritas pembangunan SDM di tahun 2019, membutuhkan SDM berkualitas dengan jumlah memadai dan persebaran yang relatif merata di seluruh Indonesia. Namun, kondisi faktual saat ini, yakni adanya ketimpangan skill, yang sesungguhnya bukan hanya persoalan pemerintah, tetapi juga masalah bagi serikat pekerja dan pengusaha. "Untuk mengatasi persoalan ketimpangan skill tersebut, pemerintah pro aktif meningkatkan masifikasi pelatihan vokasi, baik hard skill maupun soft skill kepada angkatan kerja. Agar bisa terserap di pasar kerja dan menjadi wirausahawan," terang Menaker.

Untuk menghadapi tantangan terbatasnya pekerja yang memiliki skill berkualitas dengan jumlah banyak dan tersebar merata, dikatakannya, pemerintah terus membenahi dua aspek penting. Yakni ekosistem ketenagakerjaan dan jaminal sosial bagi pekerja.

Dia menilai, saat ini ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia masih kaku. Salah satunya aturan dalam bekerja yang masih kaku dan berdampak pada terhambatnya produktivitas bagi pekerjanya itu sendiri. “Maka dari itu saya ingin menegaskan perlunya mentransformasikan ekosistem yang kaku tadi menjadi lebih fleksibel atau flexibility labour market,” kata dia.

Editor : Laksito Adi Darmono