logo

Buku Amil Zakat Easy Going, Referensi Amil Berkiat Di Era 4.0

Buku Amil Zakat Easy Going, Referensi Amil Berkiat Di Era 4.0

Direktur Pendayagunaan IZI Nana Sudiana (kanan) dan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Muhammad Fuad Nasar (kiri) dalam peluncuran buku dengan judul : Amil Zakat Easy Going, Pemikiran dan Inisiatif Zakat di Era 4.0.
10 Oktober 2019 23:32 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Revolusi Industri 4.0 adalah keniscayaan zaman yang tak bisa dihindari. Gelombang era 4.0 tak terbendung arusnya, hingga akhirnya juga memasuki, memengaruhi dan menyebabkan sejumlah perubahan dalam gerakan zakat di Indonesia.

Kehadiran era 4.0 disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, menyebabkan banyak hal dalam perubahan kehidupan manusia. Momentum ini pada dasarnya bertumpu pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya. Situasi ini dikenal juga dengan fenomena disruptive innovation.

Menghadapi tantangan tersebut, para amil di gerakan zakat Indonesia mau tidak mau harus beradaptasi untuk bisa terus sukses dan lincah (agile) mengawal dan berani memastikan gerakan zakat Indonesia akan terus tumbuh dan besar sesuai cita-citanya, yakni mewujudkan masyarakat adil dan makmur, sejahtera dan memiliki kesadaran ber-Islam dengan baik sesuai dengan ajaran zakat selama ini.

Zakat yang semakin hari semakin meningkat manfaatnya bagi umat tak bisa dipandang sebelah mata pengelolaannya. Kekuatan besar ini harus diurus oleh orang-orang yang jujur, amanah dan kreatif.

"Harus ada jiwa inovatif juga dari para aktivis dan penggerak zakat, sehingga semakin ke sini gerakan zakat semakin sesuai jaman dan mampu tampil menjadi gaya hidup kelas menengah muslim, bukan hanya di Indonesia, namun juga di dunia," ujar Nana Sudiana selaku Direktur Pendayagunaan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) dalam peluncuran bukunya yang bertajuk "Amil Zakat Easy Going", Pemikiran dan Inisiatif Zakat di Era 4.0" di Warung Pasta, Jakarta, Rabu (9/10/2019)

Pembahasan zakat, amil zakat dan terkait Revolusi Industri 4.0 ini dipaparkan secara luas dalam buku yang ditulis Nana.

Nana Sudiana yang juga Sekjen Forum Zakat (FoZ) menegaskan kedahsyatan zakat yang merupakan legacy sekaligus menara kebanggaan umat bila dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh. Umat akan bangga bila zakat mampu menciptakan kesejahteraan yang nyata dan semakin luas manfaat yang diperoleh serta dampaknya bagi umat, baik saat ini maupun di masa yang akan datang.

Buku Amil Zakat Easy Going ; Pemikiran dan Inisiatif Zakat di Era 4.0 hadir untuk memenuhi dua tujuan besar yakni, menjadi referensi amil dan dan menjadi guidance strategi dan juga landasan moral untuk pegiat dan aktivis zakat Indonesia.

"Di tengah gelombang perubahan jaman yang luar biasa, para amil harus memiliki kekuatan lahir dan batin untuk bekerja keras menyelesaikan berbagai persoalan dalam gerakan zakat Indonesia. Butuh stamina yang kokoh dan nafas yang panjang untuk membawa gerakan zakat terus naik kelas dan berada dalam posisi terbaiknya untuk membantu menjadikan gerakan ini sebagai solusi persoalan umat,"ungkap Nana.

Lebih lanjut Nana meyakinkan semua amil dengan kemampuan lahir batin dan kesungguhan, serta keikhlasan yang membaja, nantinya para amil akan bekerja easy going.

Apapun dan dalam situasi bagaimanapun para amil akan memiliki jalan keluar terbaik dalam setiap masalah yang timbul di dalam mengawal dinamika gerakan zakat ini.

"Ibarat anak sekolah, bila seluruh pelajaran telah dikuasai dengan baik, seluruh penjelasan mampu dipahami dan dimengerti dengan baik pula, maka ujian dalam bentuk apapun, Insya Allah tak akan menyulitkan. Mereka akan easy going untuk melewati semua soal yang diujikan. Begitu pula dengan amil yang telah siap lahir batin, Insya Allah ia akan easy going menghadapi masalah apapun, baik di internal lembaganya maupun dalam lingkup gerakan zakat yang lebih luas,"ucap Nana.

Buku karya Nana Sudiana yang disunting Yusuf Maulana ini menjadi referensi penting bagi para amil. Para Amil dan aktivis Filantropi pun perlu memiliki buku ini. Kenapa?

Ini karena buku ini mengingatkan esensi menjadi amil dan aktivis filantropi yang sesungguhnya. Juga memberi pemahaman atas substansi dan peran bagi para amil dan aktivis filantropi. Memberi pemahaman untuk selalu menjaga diri dari hal-hal yang berpotensi menjatuhkan marwah dan kehormatan sebagai amil dan aktivis filantropi.

Yang tak kalah penting dalam buku dengan jumlah halaman : 242 halaman ini akan memperkuat niat, langkah dan tujuan menjadi bagian dari kebaikan untuk membantu sesama.

Buku ini juga mengingatkan agar semua orang yang terlibat dalam urusan amil dan filantropi senantiasa berhati-hati dan menjaga amanah dengan penuh kesungguhan.

Buku ini disajikan dengan bahasa dan penjelasan yang mudah untuk dipahami karena dikemas dalam bentuk narasi yang ringan dan mengalir. Disertai pula sejumlah panduan langkah, tips dan trik untuk menjaga keberlangsungan lembaga amil atau filantropi yang ingin sustain dan terus maju***

Editor : B Sadono Priyo