logo

Pabrik BJLAS Tatalogam Baru Diharapkan Bisa Penuhi Kebutuhan Baja Ringan di Indonesia

Pabrik BJLAS Tatalogam Baru Diharapkan Bisa Penuhi Kebutuhan Baja Ringan di Indonesia

Direksi PT. Tata Metal Lestari saat menghadiriperesmian beroperasinya pabrik continous coating line yang memproduksi BJLAS merek Nexalume di Kawasan Industri Delta Silicon, Lippo Cikarang, Bekasi, Rabu (9/10/2019).
10 Oktober 2019 07:12 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Saat ini, pembangunan perumahan di Indonesia masih membutuhkan cukup banyak material berkualitas. Salah satunya adalah baja lapis aluminium seng (BJLAS) sebagai bahan baku dari profil baja ringan dan juga atap metal. 

Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Dini Hanggandari mengatakan, setiap tahunnya dibutuhkan 1,5 juta ton baja lapis zinc aluminium di Indonesia.

“Seperti kita ketahui, sebenarnya untuk pembangunan perumahan kita masih memerlukan (BJLAS-red) untuk infrastuktur itu kita masih butuh banyak baja ringan tersebut. Seperti minggu lalu kita sudah kumpul antara produsen dari baja lapis dan former. Former itu yang baja rangka atap baja ringan, dan genteng atap metal. Itu diperlukan 1,5 juta ton per tahun,” kata Dini saat menghadiri peresmian beroperasinya pabrik continous coating line PT. Tata Metal Lestari, yang memproduksi BJLAS merek Nexalume di Kawasan Industri Delta Silicon, Lippo Cikarang, Bekasi, Rabu (9/10/2019).

Dini menjelaskan, kebutuhan BJLAS setiap tahunnya belum dapat dipenuhi produsen dalam negeri. Ia mengatakan, suplai dari 5 produsen BJLAS di Indonesia, yang semuanya tergabung dalam IZASI (Indonesia Zinc Aluminum Steel Industries), baru mencapai sekitar 1,275 ton per tahun. Jumlah itu sendiri, Dini menjelaskan, sudah termasuk dengan hasil produksi dari pabrik continuous line PT. Tata Metal Lestari yang baru resmi beroperasi hari ini.

Karena itu Dini bersyukur, PT Tata Metal Lestari yang merupakan perluasan usaha Tatalogam Group, yang telah terbukti 25 tahun mengatapi nusantara, dengan produk-produk genteng metal dan baja ringannya, mau berinvestasi ke sektor hulu dengan memproduksi BJLAS yang menjadi bahan baku industri roll forming.

“Jadi kita harapkan dengan Tata Metal Lestari ini inves di sini itu kan sudah termasuk hitungan kami yang 1,275 ton yang bisa disuplai di Indonesia. Kita harapkan ini akan terus berlangsung jadi memang Tata Logam yang roll formernya dan investasi lebih ke hulu dengan bahan baku dari Tata Metal Lestari. Kita harapkan semuanya terintegrasi. Ibaratnya pendalaman struktur lah seperti itu,”ucap Dini lagi.

Pabrik Tata Metal Lestari sendiri dibangun dengan total investasi sebesar 1.5 Triliun dan kapasitas produksi sebesar 225.000 ton per tahun. Dengan adanya pabrik ini, diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pasokan baja lapis di dalam negeri dan pembangunan infrastruktur dan konstruksi di Indonesia.

Pabrik continous coating line PT. Tata Metal beroperasi dengan mesin  yang canggih dan modern. Berstandar industri 4.0. Mesin produksi PT Tata Metal Lestari beroperasi secara otomatis, berbasis teknologi DNA (Device, Network, Application). 

Teknologi ini menjamin tingkat akurasi, kecepatan dan standar yang konsisten bagi semua produk yang dihasilkannya. Berbeda dengan pabrik sejenis lainnya, mesin PT. Tata Metal Lestari mampu memproduksi hingga ketebalan 2.5 mm.

CFO PT Tata Metal Lestari, Ir. Wulani Wihardjono, MBA mengatakan, pabrik yang baru resmi beroperasi ini memproduksi baja anti karat. Ia berharap, dengan teknologi dan mesin yang baru di pabrik tersebut, selalu membawa perbaikan-perbaikan untuk produk itu sendiri.

“Harapannya bahwa Indonesia bebas dari semua barang-barang (baja) yang berkarat. Jadi nantinya kita tidak melihat adanya baja-baja yang berkarat walaupun itu padat, semuanya. Sehingga terlihat begitu indah. Sehingga berdampak pada produk yang awet dan juga aman dan tidak melukai (pengguna). Untuk produk baja itu sendiri jadi lebih awet bisa tahan 5-10 tahun,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, pendirian pabrik Tata Metal ini juga diharapkan bakal mampu menjadi bagian dari rantai pasok dalam negeri bahkan tingkat ASEAN, serta memberikan efek ganda bagi perekonomian Indonesia melalui peningkatan terhadap nilai tambah dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan negara dari ekspor.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto