logo

Peneliti LIPI Temukan Spesies Baru Katak Dan Burung

Peneliti LIPI Temukan Spesies Baru Katak Dan Burung

Peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy memaparkan temuannya. (foto, ones)
09 Oktober 2019 10:56 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BOGOR: Akibat terjadinya perubahan fungsi lahan, baik di darat maupun di laut. Satu juta spesies hewan dikhawatirkan punah Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mempunyai kontribusi yang cukup besar. Dalam penelitian dan sebagai penulis pertama pada sebuah penemuan

"Kontribusinya bisa mencapai 50 persen sebagai penulis pertama, yang punya peran besar dalam penulisan publikasi," ujar Kepala Zoology LIPI Dr Cahyo Rahmadi, pada acara publikasi "Penemuan spesies baru katak dan burung hasil ekspedisi peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI" , di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019).

Seperti diketahui, peneliti LIPI, yang tergabung dalam tim, bersama Kyoto University Jepang, Aichi University of Education Jepang, serta Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes), telah menemukan spesies baru katak dan burung.

Penemuan jenis baru ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa vol. 4679. Yakni, Katak tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis). “Jenis baru ini dikoleksi dari ekspedisi yang dilakukan di pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, juga di Bario, Sarawak dan pegunungan Crocker di Sabah, Malaysia,” jelas peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy.

Diterangkannya, morfologi katak tanduk Kalimantan ini sangat mirip dengan katak tanduk pinokio (Megophrys nasuta) yang tersebar luas mulai dari Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jenis baru ini memiliki tanduk (dermal accessory) pada bagian moncong dan mata yang lebih pendek jika dibandingkan dengan katak tanduk pinokio.

"Juga sepasang lipatan lateral tambahan pada sayap," ujarnya. Secara akustik, lanjutnya, suara individu jantan dari jenis baru ini memiliki variasi yang lebih banyak dan lebih panjang jika dibandingkan dengan katak-tanduk pinokio.

“Berdasarkan hasil analisis dari tiga metode pendekatan tersebut, kami menyimpulkan bahwa jenis tersebut merupakan jenis baru dan kemudian diberi nama Megophrys kalimantanensis,” jelas Amir.

Selain itu, peneliti LIPI juga berhasil menemukan tiga spesies baru kodok wayang dari hutan dataran tinggi Sumatera. Sigalegalephrynus gayoluesensis dari Gayo Leus, Aceh dan Sigalegalephrynus burnitelongensis dari gunung Burni Telong, Aceh yang ditemukan di daerah utara Sumatera. Sedangkan, Sigalegalephrynus harveyi berasal dari gunung Dempo, Sumatera Selatan.

”Genus Sigalegalephrynus memiliki lebih banyak spesies endemik dibandingkan genus kodok lainnya di Indonesia,” ujar Irvan Sidik dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Hasil analisis filogenetik mengindikasikan terdapat perbedaan taksonomi antara kodok di dataran tinggi utara dan selatan.

“Hasil identifikasi karateristik morfologis, genetik dan akustik dari ketiga spesies baru tersebut berbeda dengan dua spesies genus Sigalegalephrynus sebelumnya yaitu Sigalegalephrynus mandailinguensis, dari gunung Sorikmarapi, Sumatera Utara dan Sigalegalephrynus minangkabauensis dari gunung Kunyit, Jambi,” papar Irvan.

Sementara untuk penemuan burung jenis baru Myzomela prawiradilagae, LIPI berkontribusi menambah daftar panjang temuan satwa endemik burung di Indonesia. “Secara fisik, Myzomela prawiradilagae memiliki kemiripan warna dengan Myzomela dammermani dari Sumba dan Myzomela vulnerata dari Timor,” terang peneliti bidang ornitologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Mohammad Irham.

Dia menjelaskan, penamaan burung jenis baru dari pulau Alor ini merupakan bentuk penghargaan kepada peneliti senior bidang ornitologi LIPI, Dewi Prawiradilaga atas kontribusi besarnya untuk pengembangan penelitian ekologi dan konservasi burung Indonesia. Dikemukakannya, meski burung pemakan madu alias nektorivora tersebut secara filogenetik berkerabat dekat dengan Myzomela kuehni dari pulau Wetar, Maluku.

Namun, dilihat dari karakter morfologi, bioakustik dan ekologi memiliki perbedaan siginfikan. Penemuan jenis baru ini telah dipublikasikan di Journal of Ornithology pada 24 Septeber 2019.

Editor : B Sadono Priyo