logo

Empat Langkah Penting Guna Mempetkuat Layanan Pada Lansia

 Empat Langkah Penting Guna Mempetkuat Layanan Pada Lansia

Dirje Rehabilitasi Sosial Kemensos Edi Suharto. (foto, ist)
06 Oktober 2019 22:17 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya mengimplementasikan empat aspek penting, guna menciptakan lingkungan yang kondusif bagi lanjut usia (lansia). Terkait dengan populasi lansia, yang cenderung meningkat sejalan peningkatan kualitas hidup manusia di Indonesia.

Demikian dikemukakan Mensos dalam sambutan tertulisnya yang disampaikan Dirjen Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Kemensos Edi Suharto, dalam seminar dan talkshow bertajuk “Kiat Sukses Menjadi Lansia Aktif, Sehat dan Tetap Berguna untuk Bangsa dan Negara”, di Jakarta, Minggu (6/10/2019).

Yang Pertama, ujarnya, membangun keluarga harus sadar akan kesehatan lansia secara utuh. “Keluarga merupakan unsur terpenting bagi bangsa dan negara. Dari keluarga kita bisa berharap bisa mewujudkan lansia yang aktif, sehat dan tetap berguna untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Dirjen Rehsos Edi Soeharto, yang hadir mewakili Mensos menjadi pembicara kunci dalam seminar yang diselenggarakan Perkumpulan Lansia Aktip (Lantip) ini. Dikatakan lebih lanjut, kesadaran keluarga dinilai cukup penting terutama dalam mendeteksi kerentanan lansia.

Dia menjelaskan, lansia perlu dipahami dari aspek kehidupan sebelumnya (fase anak, fase remaja, serta fase dewasa) sesuai dengan pendekatan siklus hidup. "Nah, penguatan keluarga semacam ini merupakan tugas pemerintah pusat dan daerah," ujarnya.

Kedua, lanjutnya, semua pihak termasuk pemerintah pusat dan daerah dituntut proaktif memberikan dukungan. Masyarakat diharapkan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada lansia. Antara lain dengan memberi kesempatan kerja sesuai kemampuan dan menyediakan ruang-ruang publik untuk mengekspresikan diri para lansia. Sarana layanan dukungan bagi lansia seperti sarana peribadatan, layanan dukungan mental, serta spiritual penting disiapkan.

Selain itu, diperlukan adanya jaminan kesehatan lansia terlantar di panti jompo atau panti sosial. Agar lansia merasa dipedulikan dan tidak terasingkan.

Ketiga, sejalan dengan inovasi teknologi komunikasi, penggunaan teknologi dalam mendukung layanan terhadap lansia dipandang penting. Karena, dapat mewujudkan lansia yang mandiri dan tidak membebani keluarga.

"Misalnya, dengan memberikan akses layanan negara secara online, baik layanan konsultasi kesehatan, konsultasi ekonomi, dan sosial," tuturnya.

Yang terakhir tidak kalah penting adalah aksi nyata pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan kemudahan pada lansia dalam penggunaan fasilitas umum. Di antaranya, puskesmas ramah lansia, fasilitas gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, pasar, terminal bus, stasiun kereta api, serta taman kota, dan sebagainya.

Dengan ditata ulangnya seluruh sarana tersebut sesuai dengan kebutuhan khusus dan keterbatasan lansia. Maka, mereka dapat beraktivitas dengan nyaman dalam kehidupan sehari-hari.

Empat catatan tersebut tidak lepas dari data statistik lansia berdasarkan sejumlah survei. Mengutip hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 24,49 juta jiwa. “Adapun jumlah lansia yang dibantu langsung Kemensos sebanyak 70.000 orang,” sebut Dirjen.

Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Atau dalam istilah lain, struktur demografi Indonesia tergolong berstruktur tua.

“Maka kita harus mengambil langkah-langkah antisipatif agar lansia di Indonesia lebih sehat dan produktif. Agar dapat terus berperan dalam pembangunan bangsa,” tutur Dirjen Rehsos.

Pada kesempatan sama, dia juga menyatakan, Kemensos memiliki satu program untuk lansia, disebut Progres LU (program rehabilitasi sosial lanjut usia). Di dalamnya, dari segi regulasi, Kemensos mendorong pengimplementasian UU lansia.

Kedua, Kemensos sedang merapatkan barisan untuk merevisi UU tentang Lansia tersebut.

Editor : B Sadono Priyo