logo

Pengamat Nilai Penanganan Tumpahan Minyak Pertamina Di Karawang Berjalan Dengan Baik

Pengamat Nilai Penanganan Tumpahan Minyak Pertamina Di Karawang Berjalan Dengan Baik

Pengamat Energi Ferdinand Hutahaean
20 September 2019 12:42 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Penanganan kebocoran gas dan tumpahan minyak dari anjungan yang dioperasikan PT. Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus intensif dilakukan.

PHE ONJW memprioritaskan penanganan insiden Sumur YYA yang berlokasi di Lepas Laut Jawa Barat, Karawang. Hingga saat ini, penanganan masih dilakukan untuk tiga aspek, yaitu pengendalian sumur, penanganan di laut dan penanganan di darat.

Hal itu dikatakan Vice President Relations Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya.

Ifki menjelaskan, pihaknya terus berkordinasi dengan pihak-pihak terkait sehingga proses penanganan saat ini dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Berbagai kalangan juga mengemukakan, PT Pertamina (Persero) sudah sangat baik dalam menangani dan mengatasi insiden tumpahan minyak ini.

"Penanganan yang sudah berjalan dua bulan ini saya nilai sudah baik dan telah sesuai dengan standar industri migas di berbagai belahan dunia,” kata Pengamat Energi dari Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean dihubungi, Jumat (20/9/2019).

Menurutnya, perkembangan penanganan tumpahan minyak oleh Pertamina patut diacungi jempol, terutama dalam hal kecepatan dan kesigapan BUMN tersebut, termasuk memberikan ganti rugi sosial terhadap masyarakat yang terdampak.

Menurutnya, sejak peristiwa terjadi 12 Juli, Pertamina telah melakukan tindakan cepat dengan mengirimkan kapal, oil boom dan lainnya yang diperlukan untuk menangani tumpahan minyak.

"Kita mengapresiasi Pertamina yang sampai saat ini mampu menangani tumpahan minyak dengan baik dan sesuai prosedur,” ujar Ferdinand.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, Pertamina melakukan penanganan insiden tumpahan minyak di Karawang dengan sangat baik.

"Upaya yang sudah berjalan dua bulan tersebut sudah sesuai dengan standar industri migas di berbagai belahan dunia. Sudah tepat, sesuai dengan SOP global,” kata Komaidi kepada media di Jakarta.

Dalam konteks ini Komaidi menegaskan, memang seharusnya Pertamina melakukan penanganan berlapis seperti saat ini.

Dalam hal ini, Pertamina tidak hanya berusaha menutup sumur YYA-1 yang menjadi pusat kebocoran, namun juga membuat barikade agar tumpahan minyak tidak meluas, yang antara lain dilakukan melalui barikade oil boom.

Selain itu, juga berusaha membersihkan ceceran minyak yang terbawa ombak hingga ke pantai. Termasuk di antaranya, melalui upaya pemberdayaan yang dilakukan kepada nelayan.

"Ini kan musibah yang memang tidak terencana. Jadi yang dilakukan Pertamina sudah pro aktif, baik aspek teknis maupun aspek demografis dengan menata masyarakat itu sendiri,” lanjutnya.

Di sisi lain, Komaidi justru tidak sependapat jika saat ini dilakukan investigasi. Karena pada umumnya, yang harus dilakukan adalah menyelesaikan persoalan darurat terlebih dahulu, yaitu menutup kebocoran. Kalaupun terdapat konsekuensi lain, imbuhnya, bisa dilakukan setelah proses-proses yang mendesak selesai dilakukan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro mengemukakan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di kilang offshore yang direspon cepat oleh Pertamina.

Menurutnya, Pertamina mampu mengkonsolidasi tim internal dan melibatkan nelayan untuk bergerak cepat bahu membahu mengevakuasi minyak tersebut.

Gigih menuturkan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di anjungan offshore yang direspon cepat oleh Pertamina (sebelumnya kilang).

Editor : Yon Parjiyono