• Senin, 5 Desember 2022

Miras Lokal Di Sorong Sulit Diberantas Apabila Hanya Polisi Yang Bekerja

- Selasa, 11 Januari 2022 | 21:33 WIB
Kasat Narkoba Polres Sorong, Iptu Laurentius Madya Wayne S.Tr.K/ Foto (Yacob Nauly)
Kasat Narkoba Polres Sorong, Iptu Laurentius Madya Wayne S.Tr.K/ Foto (Yacob Nauly)

AIMAS-SORONG: 70 hingga 85  persen kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kabupaten Sorong, Papua Barat,  terjadi akibat pengaruh konsumsi minuman keras (Miras) lokal. Dan hingga kini sulit diberantas.

Masyarakat daerah ini menganggap memproduksi dan menjual miras tersebut sebagai  pekerjaan yang menjanjikan. Karena selain peminat cukup banyak tapi juga pohon  enau penghasil miras itu banyak di Aimas dan sekitarnya.

Kasat Narkoba Polres Sorong, Iptu Laurentus Madya Wayne S.Tr.K., mengatakan, selain mudah dijual, miras lokal memiliki banyak peminat. Satu kemasan botol miras lokal dijual Rp 30 ribu. Kalau dikirim ke luar kota, harganya melambung menjadi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per botol.

“Kami sudah menyita ratusan bahkan ribuan liter Miras jenis sopi atau cap tikus dari para pengedar. Cuman, bulan ini ditangkap, bulan berikut mereka sudah menjual kembali miras lokal itu,”kata Wayne kepada suarakarya.id, di ruang kerjanya, Selasa (11/1/2022).

Dikatakan, sering pihaknya  menyusuri hutan di daerah setempat untuk menangkap produsen-nya. Namun sulit karena masyarakat pemakai maupun penjual sudah bersatu untuk menyelamatkan para produsen miras lokal itu, sebelum petugas tiba di lokasi produksi.

Karena itu ia menjerat pelaku memproduksi dan menjual dengan hukuman tinggi. “Saya yakin produksi miras lokal akan berkurang, harus ada efek jera yang membuat masyarakat takut,” katanya.

Wayne,  mengatakan berbagai upaya telah dilakukan memberantas minuman keras lokal. Mulai dari razia di rumah warga sampai pada membakar rumah-rumah produksi. . “Tapi sampai saat ini masih ada masyarakat yang memproduksi dan menjual miras itu secara diam-diam,” kata Wayne.

Ia mengatakan minuman keras lokal yang diproduksi warga tidak mendapat izin. Minuman lokal seperti Sopi mengandung kadar alkohol tinggi serta tidak steril. Itu bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Harga minuman keras lokal lebih murah dibanding miras produksi pabrik. Beberapa tahun lalu, tercatat kriminalitas di   Sorong 70 hingga 80 persen  disebabkan miras lokal. .

Halaman:

Editor: Yacob Nauly

Terkini

Bank bjb Raih Banking Award Dari LPS 2022

Kamis, 1 Desember 2022 | 13:30 WIB

Lombok Barat Berhasil Tuntaskan Stop Buang Air Besar

Rabu, 30 November 2022 | 19:38 WIB
X