• Rabu, 28 September 2022

Gerakan Menanam 10 Juta Pohon, Menanam Pohon Sama dengan Merawat Kehidupan Manusia

- Minggu, 14 Agustus 2022 | 13:14 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy
Menko PMK Muhadjir Effendy
 
 
SUARAKARYA.ID: Kampanye Gerakan Menanam 10 Juta Pohon, bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) terus berlanjut. Kemenko PMK bekerja sama dengan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) melakukan penanaman bibit pohon bagi Rumah Ibadah Khonghucu.
 
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengapresiasi MATAKIN yang mendukung kampanye Gerakan Menanam 10 Juta Pohon. 
 
Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam peluncuran Gerakan Menanam  10 Juta Pohon bagi Rumah Ibadah Konghucu, yang digelar  MATAKIN di Hariston Hotel & Suites, Jakarta, Sabtu (13/8/2022). 
 
 
"Saya mengucapkan terima kasih pada MATAKIN. Saya berharap terus kerja sama dan dukungan program Kemenko PMK melalui MATAKIN untuk ke depannya.," ujar Menko PMK
 
Hadir pula dalam acara itu, Ketua MATAKIN Xs Budi Santoso Tanuwibowo dan seluruh perwakilan Majelis Agama Khonghucu dari seluruh Indonesia.
 
Menko PMK menjelaskan, menanam pohon sama dengan memberi kehidupan bagi seluruh manusia. Karena, pohon menghasilkan kebutuhan dasar manusia untuk hidup yaitu oksigen.
 
 
"Ketika kita menanam pohon pada dasarnya kita menghidupkan manusia. Karena, apa yang dibuang pohon yaitu oksigen itu kebutuhan manusia, dan sebaliknya apa yang kita keluarkan yakni karbon dioksida itu makanan pohon," jelasnya.
 
Menko PMK mengatakan, melestarikan ekosistem dengan menanam pohon akan terus membuat kehidupan manusia tetap harmonis. 
 
Selain sebagai penghasil oksigen, imbuhnya, pohon juga sangat memiliki peran besar seperti mencegah banjir dan longsor.
 
"Kita bergerak menanam pohon ini untuk membangun kehidupan. Ketika kita menanam pohon itu memperpanjang kehidupan kita sendiri," tuturnya. 
 
 
Selain itu, yang paling vital juga, peran pohon sangat penting mencegah pemanasan global. Apalagi, dewasa ini karena maraknya deforestasi dan penebangan hutan membuat anomali cuaca dan efek rumah kaca makin parah. 
 
Karenanya, dia menyebut menanam pohon ini dalam konteks global berkaitan dengan hidup matinya warga dunia.
 
"Seolah menanam pohon itu biasa saja Tapi, kalau konteks global ini berkaitan dengan mati hidupnya warga dunia. Kita tahu penyebab pemanasan global yaitu deforestasi dan juga terkait dengan sikap mental kita yang lebih suka menebang," tutur Menko PMK.
 
 
Karenanya, dia menyatakan, agar masyarakat dapat mengubah mental suka menebang menjadi semangat menanam  dalam berbagai hal.
 
"Kalau sudah menjadi mental menanam, maka kita bisa menanam apa saja tidak hanya menanam pohon. Menanam kebahagiaan untuk mereka yang susah, menanam kemakmuran untuk yang kekurangan," ujarnya.
 
Bila memiliki mental suka merusak pohon, lanjutnya, maka mental dalam hal lain juga akan buruk. Karenanya, mental merusak ini yang ingin ditangani Kemenko PMK melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental.
 
 
"Kalau kita punya mental merusak menebang pohon, menebang kepentingan orang, menebang hak orang, menebang sesuatu yang seharusnya hidup atas nama kepentingan keserakahan menghabisi hidup orang, itu bagian sifat mental yang harus kita tangani," ungkap Menko PMK.***
 
 

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gempa Cukup Besar Guncang Ambon Dan Sekitarnya

Kamis, 4 November 2021 | 12:09 WIB

Warga Kampung Bugis Kota Sorong Menderita

Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:42 WIB

BMKG Keluarkan Dua Inovasi Hadang Potensi Tsunami

Rabu, 6 Oktober 2021 | 11:07 WIB

BMKG Ambon Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Buruk

Kamis, 30 September 2021 | 07:35 WIB

Banjir Landa Kilo Meter 1 Kota Piru Kabupaten SBB

Selasa, 13 Juli 2021 | 16:21 WIB

Akibat Hujan Lebat Jembatan Air Besar Halong Putus

Minggu, 11 Juli 2021 | 21:24 WIB
X