• Kamis, 11 Agustus 2022

IPDN, Pencetak Pamong Lokal Multitalenta Dan Berwawasan Global

- Rabu, 24 Maret 2021 | 09:31 WIB
Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), DR. Hadi Prabowo, MM.
Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), DR. Hadi Prabowo, MM.

Oleh karena itu saya dipesankan untuk memajukan praja menjadi seorang pemimpin yang multitalenta, seorang pemimpin yang mampu menyikapi suatu perubahan. Otomatis karena kalau saya ada tugas begini kan masa tugas saya sudah selesai, namun dengan di sini sampai mengajar, punya murid kan ngajar.

Lha otomatis kita merasa enjoy meskipun kita melihat dan akui ketertinggalannya juga masih banyak, namun dengan kerjasama seluruh pejabat struktural, pejabat pelaksana akademis, dosen, itu setapak demi setapak kita upayakan dan hasilnya nyata satu tahun mengubah kurikulum, renstra, rencana aksi, menata kembali dan mengklasifikasikan penulisan, karya ilmiah, itu juga kita batasi.

Misalnya D4 itu tidak boleh hanya menulis satu kecamatan, dia harus menulis tingkat kabupaten dengan locus antar-kecamatan. Kalau kita masuk pada S1 atau S2 itu penulisan harus ranah provinsi atau lintas-kabupaten. Kalau S3 berarti nasional lintas-provinsi. Lha ini kan peningkatan suatu kualitas. Jangan sampai seorang doktor menulis satu kecamatan, formalitas aja itu kan tidak pas.

Lalu dosen juga harus mau terbuka sesuai dengan kompetensi dan bidang keilmuannya. Praja mau pilih pembimbing saja namun dibatasi sehingga bisa menentukan sesuai bidang keilmuan. Jadi ini keterbukaan.

Adakah kerjasama dengan institusi lain?

Iya ada dengan berbagai lembaga termasuk universitas vokasi yang terapan. Namun yang kita utamakan sekarang ini kita punya laboratorium berstandar internasional, artinya bahasa Inggris dan komputer, sehingga begitu dia lulus laboratorium komputer itu, mereka mempunyai sertifikat yang tidak diterbitkan oleh IPDN, tapi diterbitkan oleh lembaga sertifikasi (dalam hal ini British Council), sehingga mereka akan saleable.

Kita angkat ini kalau lulus bahasa Inggrisnya bagus, otomatis kalau mau ke luar negeri juga bisa. Ini sudah tepat karena standarnya internasional.

Ada pengakuan internasional tentunya ya?

Kalau hanya punya sertifikat kan ora iso opo-opo (tidak bisa apa-apa), hanya formalitas saja. Itu kalau IPDN. Makanya laboratorium bahasanya dikembangkan oleh UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) dengan LPDP. Yang komputer dengan ITB, yang meluluskan mereka, dan yang memberi sertifikat mereka, bukan kita.

Mahasiswa ini bisa diikutsertakan di sana?

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Terkini

X