• Sabtu, 1 Oktober 2022

Richard Mainaky Kenang Perjuangan Jatuh Bangun Tontowi Ahmad

- Senin, 18 Mei 2020 | 17:24 WIB
Foto: Dok PBSI.
Foto: Dok PBSI.

Kemudian Owi bisa menjadi pemain yang tekniknya di atas rata-rata, penempatan bolanya bagus. Tapi Owi memang paling bagus itu bola-bola atasnya. Beda sama Praveen (Jordan) yang sekali smash lawannya langsung tumbang karena power-nya, kalau Owi itu serangannya lebih tajam dan cepat. 

Owi juga pemain yang pintar, kalau smash itu dia bisa incar lawannya, dia smash di waktu yang tepat dan mengarah. 

Momen emas Olimpiade Rio 2016 tentunya menjadi momen terindah buat Coach Richard dan Owi bersama Butet, apalagi ada tantangan non-teknis juga sebelum olimpiade, bisa diceritakan lagi kesan-kesannya, Coach?

Kenangan paling indah itu memang di olimpiade, tapi saya rasa sepaket dengan dua Kejuaraan Dunia tahun 2013 dan 2017 serta hat-trick All England tahun 2012, 2013 dan 2014. Olimpiade memang berkesan karena kan itu empat tahun sekali. 

Tekanan menuju olimpiade sangat besar, jangankan pemain, saya sebagai pelatih juga merasakan tekanan dan sempat emosional di suatu turnamen. Jadi saat itu baik Owi maupun Butet sama-sama sensitif. 

Yang satu teledor, ditegur sama yang satu lagi. Yang satu merasa nggak terima, merasa kalau nggak ada saya kan dia juga nggak bisa juara. Hal-hal seperti ini yang sebetulnya masalahnya di komunikasi, karena sebetulnya mereka berdua kan punya tujuan yang sama.

Saya sama Nova sudah coba ngomong sama mereka satu-satu, tapi hasilnya tidak terlalu bagus. Jadi saya ajukan ke Rexy (Mainaky) yang waktu itu jadi Kabid Binpres di PBSI, agar ada psikolog yang menengahi mereka. 

Akhirnya ditugaskanlah pak Rachman Widohardhono, psikolog PBSI, untuk menangani Owi/Butet. Dari situ mulai digali dan mereka bicara banyak, sudah mulai ada pengertian, ada komitmen sehingga ada jalan. 

Coach Richard pernah bilang bahwa training camp olimpiade di Kudus menjadi salah satu momen yang memperkuat kekompakkan Owi/Butet?

Betul, apa yang sudah kami kerjakan bersama psikolog sudah mulai menunjukkan kemajuan. Owi/Butet makin kuat lagi bonding-nya selama di training camp di Kudus. Selama karantina itu, saya meminta pertolongan dari koh Chris (Christian Hadinata) untuk kasih wejangan sama mereka berdua. Waktu itu ada Minarti (Timur) juga yang sudah punya pengalaman di olimpiade. 

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Terkini

X