• Sabtu, 1 Oktober 2022

Richard Mainaky Kenang Perjuangan Jatuh Bangun Tontowi Ahmad

- Senin, 18 Mei 2020 | 17:24 WIB
Foto: Dok PBSI.
Foto: Dok PBSI.

Sebetulnya Winny oke lah, dia masih muda, kuat dan punya keberanian. Nah, kalau Owi kan sudah punya nama, ini nggak mudah buat Owi. Permainan Owi/Winny lama-lama sudah dibaca lawan, semakin sulit buat Owi. 

Owi lalu ngobrol sama saya dan Nova (Widianto), mau coba sama pemain lain, sama Apri (Apriyani Rahayu) katanya. Ya sudah dicoba dulu, kalau memang Owi sudah merasa sudah tidak bisa sama Winny. Tapi waktu dicoba di Indonesia Masters 2020, hasilnya masih jauh dari harapan. Latihan nggak pernah, Apri juga fokus buat Olimpiade Tokyo 2020 di ganda putri (bersama Greysia Polii). Buat Owi sendiri, lolos ke Olimpiade Tokyo pun waktu itu berat karena poinnya masih jauh. Hal-hal ini yang membuat Owi berpikir kayaknya sudah cukup

Sebelum pensiun, kesulitan yang dialami Tontowi lebih dari faktor motivasi atau faktor usia?

Dulu waktu masih pasangan sama Butet, dia mau latihan seberat apapun, apa yang dilatih hasilnya menunjang sekali di pertandingan. Tapi tantangannya jadi lebih banyak saat pasangan sama Winny. Motivasi sebetulnya ada, sudah dicoba dan dia mau latihan dengan durasi panjang sampai jam dua siang. 

Tapi faktor usia memang tidak bisa dipungkiri. Kedua, Owi dari 'atas' turun ke 'bawah', ini jadi pergumulan buat dia dan saya rasa ini manusiawi. Nggak gampang, dari juara olimpiade, lalu harus meng-cover pemain muda, latihan mulai lagi dari nol. 

Coach Richard sudah lama sekali melatih Tontowi, bagaimana awalnya membina seorang Tontowi sampai jadi pemain elit dunia?

Waktu itu Nova yang berpasangan sama Liliyana memutuskan pensiun dan saya harus cari pemain muda buat dipasangkan sama Butet. Pilihannya waktu itu ada Owi, Muhammad Rijal dan Devin Lahardi. Saya coba ketiganya dipasangkan dengan Butet dan memang hasilnya bagus semua. Tapi feeling saya mengatakan Owi yang paling cocok sama Butet, dan Butet sendiri juga paling sreg sama Owi. Saya bersyukur juga PBSI waktu itu percaya dengan keputusan yang saya ambil. 

Sempat banyak pertanyaan kenapa saya pilih Owi karena memang waktu itu dia tidak begitu meyakinkan, terutama footwork-nya yang kurang. Owi memang berkharisma, tapi lainnya masih nol waktu itu. 

Lalu apa yang Coach Richard lakukan untuk membuktikan bahwa Tontowi berpotensi menjadi pemain besar?

Kerjasama saya dan Owi jadi lebih mudah karena Owi itu penurut, dia mau menjalankan apa yang dianjurkan oleh pelatih. Saat tahu kekurangan di footwork, maka itu yang dilatih terus supaya menunjang bola-bola atasnya juga. 

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Terkini

X