logo

Dua Pengusaha Penyuap Ajukan Nota Keberatan Terhadap Dakwaan

Dua Pengusaha Penyuap Ajukan Nota Keberatan Terhadap Dakwaan

terdakwa salah satu pengusaha penyuap direktur PT KS
13 Juni 2019 11:43 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dua pengusaha penyuap Direktur PT Krakatau Steel (KS) Wisnu Kuncoro masing-masing Direktur Utama (Dirut) PT Grend Karteck Tbk  Kenneth Sutardja dan Dirut PT Tjokro Bersama  Kurniawan Eddy Tjokro alias Yudy Tjokro tetap saja mengajukan nota keberatan atas surat dakwaan JPU KPK pada persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu pekan depan.

Padahal, kedua terdakwa termasuk hasil operasi tangkap tangan (OTT) KPK atau tertangkap basah. “Kami mengajukan nota keberatan atau eksepsi atas surat dakwaan JPU KPK pada persidangan berikutnya,” ujar salah seorang penasihat hukum terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (13/6/2019)

JPU KPK Ali Fikri dalam dakwaannya mengatakan, Kenneth sebagai Dirut PT Grand Kartech Tbk dikatakan telah  menyuap Wisnu sebesar Rp 101,5 miliar,  4 ribu dolar Amerika Serikat (AS), dan Rp 45 juta berkaitan dengan  pengadaan dua unit boiler seharga Rp 24  miliar dengan  kapasitas 35 ribu ton. Dan suap juga untuk jasa operation and maintenance terhadap seluruh boiler yang ada di PT Krakatau Steel tahun 2019.

Pemberian uang berawal saat Kenneth mengenal Karunia Alexander Muskita di tahun 2008. Karunia diketahui memiliki banyak kenalan di PT Krakatau. Tanpa disebutkan tahun, Karunia kemudian mengajak Kenneth berkenalan dengan Wisnu. Selanjutnya Kenneth dan Wisnu sering bertemu membahas pengadaan alat diperusahaan tersebut.

Guna  merealisasikan keinginan terdakwa dalam memperoleh proyek pekerjaan di PT Krakatau Steel terdakwa selalu memberi uang kepada Karunia sebagai dana operasional yang digunakan Karunia antara lain untuk "mengentertain" pejabat berwenang di Krakatau Steel, salah satunya Wisnu.

Proyek pengadaan di PT KS   itu jatuh ke PT Grand Kartech seperti pengadaan CO2 observer di PT Krakatau Engineering senilai USD 6 juta pada 2012, pengadaan boiler 23 ton di PT Krakatau Steel senilai Rp 7 miliar pada 2014-2015, dan pengadaan boiler 35 juta per ton di PT Krakatau Engineering senilai Rp 20 milar pada 2015-2016.

Kemudian, Karunia kembali menemui Wisnu menanyakan pekerjaan yang bisa digarap perusahaan Kenneth. Wisnu mengatakan Krakatau akan mengadakan dua unit boiler pengganti kapasitas 35 ribu ton dengan nilai masing-masing Rp 12 miliar.

Dari informasi tersebut perusahaan Kenneth kembali mengajukan diri ikut serta dan terpilih sebagai pihak yang mengadakan dua unit alat tersebut. Permintaan uang kembali disuarakan oleh Wisnu. Pada 23 Maret, Kenneth menyerahkan uang tunai kepada Karunia dengan total keseluruhan Rp 101,5 miliar, USD 4 ribu, dan Rp 45 juta. Uang itu diperuntukan Wisnu.

Begitu juga Dirut PT Tjokro Bersama, Kurniawan Eddy Tjokro alias Yudi Tjokro didakwa memberi suap Rp 55,5 juta kepada Wisnu agar perusahaannya mendapat proyek berupa pembuatan dan pemasangan dua unit spare bucket wheel stacker dan Harbors Stockyard dengan nilai keseluruhan Rp 13 miliar. Yudi memberi suap Wisnu melalui Karunia.

Informasi dari Yudi pada 2018 bahwa PT KS akan membutuhkan spare bucket wheel stacker dan harbors stockyard. Untuk mendapatkan proyek tersebut Yudi memberikan uang  Rp 5,5 juta kepada Karunia untuk kebutuhan dana operasional pendekatan terhadap sejumlah petinggi PT KS. Yudy bisa mendapatkan proyek tersebut dengan  memberikan  uang suap Rp 50 juta.

Atas perbuatannya itu, JPU menjatat keduanya dengan pasal Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi  jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.
 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto