logo

Vanili Indonesia Siap Bangkit Kembali

Vanili Indonesia Siap Bangkit Kembali

13 Juni 2019 11:24 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - BOGOR: Komoditas vanili pernah menjadi bagian penting ekonomi di Nusantara dan membawa nama Indonesia sebagai produsen nomor wahid di dunia. Namun di era 2005 sampai dengan 2016, masa keemasan vanili mulai luntur. Rendahnya mutu telah mencemari nama besar vanili Indonesia. 

Namun sekarang, petani sudah siap-siap menyambut kebangkitan tanaman ini. Pasalnya, beberapa negara penghasil utama vanili seperti Madagaskar dan Tahiti sedang mengalami penurunan produksi. 

Tren kenaikan permintaan bibit vanili ini dirasakan Wawan Lukman, Kepala Kebun Percobaan Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat. “Dulu tanaman vanili ini dikenal sebagai emas hijau, namun karena ulah petani dan pedagang kualitas vanili Indonesia merosot tajam. Akibatnya permintaan vanili Indonesia semakin turun,” ujarnya.

Ulah petani nakal antara lainnya memasukkan paku dan logam lain ke dalam vanili untuk menambah berat timbangan. Juga, petani memanen vanili belum tepat waktunya. 

“Vanili yang berkualitas itu bila dilakukan panen saat usia 8-9 bulan, sehingga kadar vanilinya bisa lebih dari 2 persen. Namun banyak petani yang panen pada usia 4-5 bulan, sehingga kadar vanilinya tidak mencapai angka tersebut. Hal itu dilakukan petani karena takut vanili dicuri orang," ungkap Wawan. 

Melihat produksi negara penghasil vanili seperti Tahiti dan Madagaskar yang tengah mengalami penurunan, Wawan optimis peluang inilah yang harus bisa dimanfaatkan petani. Apalagi harga vanili kini tengah tinggi. 

Untuk diketahui, saat ini harga vanili kering bisa mencapai Rp 5 juta/kg, sedangkan untuk vanili basah mencapai Rp 500 ribu/kg. Untuk mendapatkan 1 kg vanili kering diperlukan 4 kg vanili basah.

Teknologi Tepat

Peneliti Utama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Endang Hadipoentyanti juga mengakui diantara penyebab rendahnya mutu itu adalah ulah pelaku bisnis vanili dan penggunaan benih yang tidak jelas asalnya. Namun pakar perbenihan ini sekarang merasa sangat bahagia, karena sejak tahun 2017, tanda-tanda kebangkitan vanili mulai dirasakan.

“Semangat kebangkitan ini, harus disambut dengan penerapan teknologi yang benar dan penjagaan mutu yang ketat,” katanya.  

Salah satu bentuk inovasi yang harus segera diterapkan adalah penggunaan varietas-varietas vanili yang unggul. Sejak tahun 2008, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan 3 varietas unggul baru yakni Vania 1, Vanilia 2 dan varietas Alor. 

Endang menjelaskan, varietas Vania 1 memiliki potensi produksi polong basah 6,53 -8,91 ton/ha, produksi polong kering 1,83-2,56 ton/ha dan kadar vanili 2,8 persen. Varietas Vania 2 agak tahan terhadap penyakit BBV (F. oxysporum f.sp. Vanilla) dengan produksi polong basah 5,37-8,29  ton/ha,  produksi polong kering 1,54-2, 19 ton/ha dan kadar vanilin  2,983 persen. 

Sedangkan untuk vanili varietas Alor toleran terhadap ketahanan Penyakit BBV (F. Oxysporum f. Sp. Vanilla). Varietas ini setelah umur 6 tahun memiliki potensi produksi  3,55-4,81 ton/ha/tahun dan kadar vanilin sebesar 2,32-2,85 persen. 

Namun Endang mengingatkan, untuk sukses bertani vanili tidak cukup dengan ketersediaan teknologi, tetapi perilaku petani adalah kuncinya. Apalagi vanili adalah jenis tanaman memerlukan pemeliharaan yang intensif.

Selain tanaman vanili, KP Sukamulya yang berjarak sekitar 40 km dari Geopark Pelabuhan Ratu ini menyiapkan berbagai bibit tanaman rempah obat dataran rendah. Untuk bibit lada, sampai dengan tahun 2019 ini telah disebarkan 150 ribu bibit ke seluruh Indonesia untuk mendukung program Kementerian Pertanian. 

Bagi masyarakat yang ingin membeli bibit berbagai jenis tanaman ini, bisa menghubungi Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor. ***