logo

Ekspor 134 Ton Kopi ke Georgia, Kementan Terus Gali Akses Pasar Baru

Ekspor 134 Ton Kopi ke Georgia, Kementan Terus Gali Akses Pasar Baru

Kepala Barantan Ali Jamil melepas ekspor kopi asal Jatim ke Georgia. (Humastan)
13 Juni 2019 08:21 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - SURABAYA: Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Surabaya melepas 7 kontainer kopi setara dengan 134 ton ke Poti, Georgia. Produk perkebunan unggulan asal Jawa Timur ini setara dengan nilai ekonomi Rp 134 miliar. 

"Kami mendorong akses pasar ekspor baru. Ini bagian dari upaya strategis Barantan dalam meningkatkan dan percepatan ekspor komoditas  pertanian," kata Ali Jamil saat melepas ekspor kopi berjenis robusta asal Jatim di kantor Karantina Pertanian Surabaya, Rabu (12/6/2019).

Jamil juga memaparkan 4 upaya  strategis lainnya yang dilakukan guna mendorong ekspor yakni pertama meningkatkan jumlah eksportir terutama di kalangan generasi milenial; Kedua dengan meningkatkan diiversifikasi atau keberagaman komoditas/produk dengan minimal produk setengah jadi.

"Contohnya seperti kalajengking kering, komoditas unik asal Jawa Timur yang  sudah tembus pasar ekspor di Korea Selatan. Sepanjang 2019 sudah terkirim 150 kg dengan nilai ekonomi Rp 3,75 miliar, atau pucuk kapri ke Taiwan dan masih banyak emerging product atau komoditas baru dengan peluang ekspor yang besar," ujar Jamil.

Selanjutnya, langkah strategis ketiga yakni dengan peningkatan frekuensi pengiriman komoditas pertanian; dan keempat dengan meningkatkan volume komoditas.  

Jamil menambahkan dalam membuka akses pasar baru, pihak karantina pertanian melakukan harmonisasi aturan perkarantinaan di negara-negara tujuan ekspor baru. "Ini sejalan dengan  instruksi Menteri Pertanian, untuk cari terobosan ekspor dan akses pasar komoditas pertanian," tambahnya.

Selain penambahan pasar ekspor baru seperti negara Mauritius dan Armenia masing-masing untuk komoditas handycraft dan kopi, Karantina Pertanian Surabaya juga mencatat adanya kenaikan pelaku usaha di bidang agribisnis, khususnya eksportir.

"Jumlah eksportir sebanyak 338 baik perusahaan maupun perorangan, pelaku eksportir di Jawa Timur berjumlah 1.234 perusahaan, meningkat sekitar 5% dari tahun sebelumnya," terangnya.

Masing-masing eksportir untuk komoditas asal tumbuhan berjumlah 896 yang 26 perusahaan di antaranya sudah menerapkan sistem inline inspection. Sedangkan eksportir untuk komoditas hewan dan produk hewan sejumlah 438 baik perusahaan maupun perseorangan. 

Jamil menjelaskan sesuai dengan perkembangan zaman, pihaknya juga melakukan bimbingan teknis memasuki pasar ekspor bagi generasi muda dengan program Agro Gemilang, layanan inovasi dan digitalisasi layanan agar dapat mendorong bisnis eksportasi produk pertanian. 

Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi menjelaskan berdasarkan data dari sistem otomasi perkarantinaan di wilayah kerjanya rata-rata sertifikasi ekspor untuk komoditas tumbuhan sebanyak 120 kali per hari dan untuk komoditas hewan sebanyak 24 kali per hari.  

Lalu lintas komoditas pertanian ekspor melalui wilayah kerjanya di tempat pengeluaran di Bandar Udara Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak, jelasnya.

Potensi komoditas pertanian unggulan asal Jawa Timur yang sangat besar ini telah mampu menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) cukup signifikan. Dalam periode Januari - Mei 2019 tercatat nilai ekspor asal produk hewan Rp 4,8 triliun yang berasal dari 19.064 ekor dan 3.803,5 ton. Sememtara  nilai ekspor untuk produk asal tumbuhan sebesar Rp 14 triliun.

Musyaffak juga melaporkan nilai ekspor pada 10 - 11 Juni 2019 mencapai Rp 111,92 miliar, dimana ekspor 10 Juni 2019 sebesar Rp 41, 37 miliar yang berasal dari komoditas hewan menyumbang Rp 5.17 miliar dan tumbuhan Rp 36.2 miliar dan 11 Juni mencapai Rp 70,55 miliar yang berasal dari komoditas hewan Rp 7,25 miliar dan tumbuhan Rp 63,33 miliar. ***