logo

Paska-Lebaran, Pengunjung Museum Bahari Dan Taman Arkeologi Onrust Naik 4 Kali Lipat

Paska-Lebaran,  Pengunjung Museum Bahari Dan Taman Arkeologi Onrust Naik 4 Kali Lipat

12 Juni 2019 15:11 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Liburan Paska-Lebaran Idul Fitri 1440 H/ 2019 M,  pengunjung Museum Bahari dan Taman Arkeologi Onrust di Teluk Jakarta  meningkat tajam menjadi 4 kali lipat  dibanding bulan Ramadhan.

Untuk Museum Bahari pengunjungnya selama bulan Ramadhan rata-rata 165 orang/hari termasuk 16 orang wisatawan mancanegara (wisman)/hari. Padahal  selama puasa Ramadhan pengunjungnya rata-rata hanya 36 orang/hari.

Apalagi Taman Arkeologi Onrust di Kepulauan Seribu, sepekan ini rata-rata pengunjungnya  mencapai 557 orang/hari. Padahal waktu bulan Ramadhan rata-rata hanya 75 orang/hari.
Atau meningkat hampir 7 x lipat.

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Drs Husnison Nizar mengungkapkan hal itu di kantornya, Rabu (12/6/2019).

"Publikasi destinasi yang  terus dilakukan melalui medsos setahun terakhir ini membuat masyarakat tertarik berkunjung ke obyek tersebut.

Selain itu cuaca juga  sangat mendukung untuk bepergian keluar rumah pada masa libur lebaran bagi  masyarakat untuk  berwisata," kata Husnison Nizar.

Situs Marunda dengan Rumah Si Pitung dan Masjid Al Alam  di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara  menurut Husnison paling banyak dikunjungi wisatawan di antara destinasi wisata dalam unit pengelolaan Museum Kebaharian Jakarta.

Diakui, sepekan terakhir Ramadhan yang lalu pengunjung situs tersebut rata-rata hanya 13 orang/hari. Tetapi sampai sepekan paska  Lebaran pengunjungnya meningkat sangat tajam mencapai 750 orang/hari. Terbanyak hari Sabtu dan Minggu (9/6/2019) dengan pengunjung 972 dan 974 orang sehari.

Mengenai  Museum Bahari di Jl Pasar Ikan no.1, Penjaringan Jakarta Utara, Kepala Satuan Pelayanannya, Ahmad Surya menjelaskan, tidak semua pengunjung museumnya sempat naik ke Menara Syahbandar. "Kira-kira 25 % pengunjung naik ke menara. Lainnya langsung beli karcis masuk di museum," kata Surya.

Saat ini di museumnya masih ada Pameran Pasar Rempah -rempah yang akan berakhir pertengahan Juni ini. Hampir semua pengunjung Museum Bahari sempat menikmati pameran temporer di lantai dasar Gedung A yang dibangun tahun 1719 itu.

Mengenai rempah-rempah asli yang ada di Blok A lantai Atas, Surya mengungkapkan telah ada rencana untuk diganti yang baru agar aromanya tercium semerbak.

"Menurut Pak Eko setelah pameran selesai," katanya. Pak Eko yang dimaksudkan adakah Kepala Satlak Konservasi dan Edukasi UP Museum Kebaharian Jakarta, Eko Hartoyo.

Liburan sekolah dan lebaran ini begitu banyak wisatawan mengunjungi Kota Tua Jakarta. Tiap hari diperkirakan mencapai 6000 sampai 18.000 orang.
Namun beberapa  pengamat  pariwisata dan budaya seperti Drs H  Dirman Surachmat,  H Abu Galih dan Kartum Setiawan  berpendapat sungguh  rugi bila ke Kota Tua tidak sekalian mengunjungi Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Sebab kedua destinasi wisata pesisir itu juga bagian dari Kota Tua yang paling awal dari perkembangan kota Batavia setelah Kota Jayakarta di seberang baratnya.

Dian Alfianti warga Ciledug mengakui rugi bila sudah sampai  di Kota Tua tak mengujungi Museum Bahari. Dari Ciledug naik Metromini 69 ke Blok M. "Dari situ naik TransJakarta ke Kota. Dari terminal TransJakarta di depan Stasiun Kota tinggal naik  Mikrolet  M 15 atau minibus Kopami Jaya P 02. Nyampe deh ke Museum Bahari," ujarnya.

Museum itu hanya berjarak 2,7 km melalui jalur angkot atau bis kota yang dapat ditempuh kurang dari 10 menit. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto