logo

Mudik & Loyalitas

Mudik & Loyalitas

11 Juni 2019 19:19 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

 
Membangun loyalitas di era global ternyata bisa dilakukan dengan banyak cara. Di satu sisi, loyalitas merupakan aset penting bagi korporasi karena tidak saja terkait dengan aset intangible tapi juga merupakan kunci sukses dalam bersaing di era global, baik itu dalam bentuk generic competition maupun product form competition.

Di sisi lain, fakta membuktikan bahwa tidak mudah membangun loyalitas konsumen, apalagi komitmen untk mempertahankan loyalitas. Argumen yang mendasari karena banyak pesaing yang bisa dengan mudah menggaet konsumen untuk beralih mengkonsumsi produk – jasanya. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan produsen untuk membangun dan sekaligus mempertahankan loyalitas konsumen.
 
Ragam cara yang bisa dilakukan misalnya dengan membentuk member dengan jaminan diskon harga tertentu dan atau kemudahan akses jika itu terkait dengan layanan untuk jasa. Bahkan, di sektor perbankan ada istilah nasabah prioritas dengan beragam kualitas layanan yang istimewa untuk memanjakan nasabah. Korporasi nampaknya juga cermat membidik upaya membangun loyalitas, termasuk misalnya dengan melakukan corporate social responsibility atau CSR. Tidak bisa dipungkiri bahwa CSR lebih mengacu upaya bagaimana memberikan kegiatan ekstra kepada publik dengan harapan ada nilai tambah dan umpan balik kepada korporasi. Oleh karena itu, kegiatan CSR seringkali berbalut promosi dan publisitas yang memberikan kemanfaatan dalam jangka pendek dan juga panjang bagi korporasi. Artinya, benar adanya bahwa tidak ada yang gratis di era global.
 
Alternatif lain yang kini juga marak dilakukan korporasi untuk membangun loyalitas di era global adalah memberikan layanan mudik gratis. Betapa tidak, ditengah himpitan riil kebutuhan hidup dan mahalnya harga sembako serta melonjaknya harga tiket mudik di semua tujuan dan ragam armada maka ketersediaan fasilitas mudik menjadi alternatif yang bisa membahagiakan banyak orang. Mudik sejatinya bukan hanya sekedar ritual dan kultural tapi juga membangun harmoni lintas generasi dan peradaban. Oleh karena itu beralasan jika salah satu perusahan jamu sukses menyelenggarakan mudik gratis bagi para penjual jamu sampai tahun ke-30. Artinya, selama 30 tahun perusahaan jamu ini telah sukses membangun jejaring loyalitas yang kemudian bisa mengakar ke generasi di era selanjutnya. Betapa tidak, sukses manajemen mudik gratis yang dibangun korporasi ini kemudian menjadi inspirasi dan ditiru sejumlah korporasi lainnya, termasuk yang dilakukan oleh sejumlah BUMN.
 
Mudik bukan sekedar pulang kampung, tapi ada mata rantai yang sangat kompleks dari ritual mudik itu sendiri dan karenanya beralasan jika manajemen mudik sangat penting untuk dikontrol, bukan hanya oleh pemerintah tapi juga swasta dan aparat berwajib demi kenyamanan dan keamanan mudik. Betapa tidak, kecelakaan selama mudik setiap tahun cenderung terus bertambah, terutama melalui jalur darat sehingga perlu ada pembenahan yang sistemik di semua jalurnya, termasuk juga moda transportasinya. Oleh karena itu, mudik gratis yang diselenggarakan oleh sejumlah korporasi pada dasarnya bermakna ganda yaitu tidak saja meringankan beban para pemudik tapi juga sekaligus membangun loyalitas dalam jangka panjang. Jadi, beralasan jika kemudian sejumlah korporasi juga ikutan berlomba-lomba mengadakan mudik gratis. Bahkan, sejumlah parpol juga tidak bisa mengelak melakukan mudik gratis tentu dengan harapan ada kontribusi terhadap perolehan suara di pesta demokrasi. Sekali lagi, tidak ada yang gratis di era global. Jadi, mudik gratis adalah lebel untuk membangun loyalitas yang sejatinya tidak gratis. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo,