logo

Mudik Lebaran, Berangkat Lancar Balik Tersendat

Mudik Lebaran, Berangkat Lancar Balik Tersendat

11 Juni 2019 13:59 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Joko Setijowarno*

Setiap lebaran, pasti terjadi dinamika transportasi. Angkutan lebaran tahun ini dapat dianggap kurang berhasil jika dibanding tahun lalu (2018).

Lebaran tahun ini, saat mudik arus lalu lintas relatif lancar, namu saat balik tersendat

Rentang waktu antara mudik dan balik tidak seimbang. Mudik diselenggarakan 6 hari efektif, sedangkan balik hanya tiga hari. Volume kendaraan antara mudik dan balik relatif sama. Kapasitas prasarana tidak bertambah, sehingga wajar jika pada saat arus balik terjadi ketersendatan. Untuk membikin rencana operasi angkutan lebaran berikutnya, sebaiknya Kemen. PAN diajak juga, karena kementerian ini yang merancang masa liburan ASN. 

Tahun lalu, meski Tol Trans Jawa belum terhubung sempurna, masih ada yang fungsional, namun sudah bisa dilewati. Ditambah lagi harga tiket pesawat belum melonjak seperti thn ini. 

Eforia publik menggunakan tol cukup tinggi. Tiket pesawat meninggi. Terhubung Tol Trans Jawa dan sebagian Tol Trans Sunatera serta menbaiknya layanan penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi pemicu beralihnya publik menggunakan moda darat, terutama kendaraan pribadi. 

Bisnis sewa kendaraan di daerah cukup menurun tahun ini. Bisa jadi pemudik bawa kendaraan sendiri sekalian untuk silaturahmi dan wisata.

Cara pandang pemerintah terhadap keberhasilan angkutan lebaran melihat dari tueunnya angka kecelakaan. Tahun lalu juga sudah turun dibanding tahun sebelumnya. Namun tahun ini, berdasar data terkini dari Korlantas Polri, ada penurunan 63% dibanding. Sementara dari kacamata pemudik, merasakan lamanya waktu perjalanan.

Kesadaran pemudik akan keselamatan juga meningkat. Walau masih ada juga pemudik yang masih belum paham memakai jalan tol. Saat beristirahat karena kelelahan tidak mendapatkan ruang di TIP, memilih bahu jalan tol untuk beristirahat. Ini membahayakan mereka. Sebab ada kejadian kecelakaan saat mudik tahun ini ditabrak saat berganti pengemudi bahu jalsn tol. Bahu jalan tol untuk kondisi darurat bukan buat istirahat. Edukasi dan sosialisasi tentang penggunaan tol ke publik masih harus digencarkan lagi.

Keterhubungan Tol baik di Jawa dan sebagian Sumatera, seolah memisahkan kendaraan rida dua dan roda empat ke atas. Jadi, logis sudah berkurang kecelakaan antara roda dua dan roda empat saat mudik dan balik. 

*_Kondisi jalan macet juga meminimkan kecelakaan_*

Arus lalu lintas yang melewati jalan pantura antara Semarang-Cirebon, terjadi penurunan kisaran 10%-15%.

Ketersendatan di ruas tol diakibatkan masih beroperasinya gerbang tol (GT) di ruas dan tempat istirahat dan pelayanan (TIP). Semestinya GT di ruas tol dihilangkan dan manajemen TIP dibenahi.  

Pada saat ketersendatan di ruas tol lebih mudah dikendaliksn ketimbang di jalan non tol. Di ruas non tol terjadi lalu lintas campuran ( _mix traffic_) dan hambatan samping ( _side friction_) yang cukup besar. 

Kebijakan satu arah atau _one way_ dan arus berlawanan atau _contra flow_ juga ikut mendukung kelancaran. Tidak perlu diselenggarakan 24 jam, cukup situasional sesuai kebutuhan. Sebab ada kendaraan lain dari arah berlawanan juga memerlukan tepat waktu tiba di tujuan, seperti bus umum dan angkutan sembako.

Dampak naiknya tarif tiket pesawat udara juga berimbas ke angkutan laut. Ada peningkatan cukup berarti di angkutan laut. Para perantau di luar Jawa yang tidak mampu beli tiket pesawat, lebih memilih kapal laut untuk mudik ke kampung halamannya.

Transportasi penyeberangan sudah berbenah terutama di Penyeberangan Merak-Bakauheni. Ada dermaga khusus sepeda motor, ada dermaga ejsekutif yang seperti terminal di bandara. Kapasitas kapal juga sudah besar dan bersih. Semua ruang berpendingin. Untuk menyeberang 15 mil butuh satu jam. Sedangkan lewat dermaga non eksekutif butuh 2 jam. Ada jaminan keamanan dari Kapolda Lampung terhadap keamanan pemudik. Disiapkan beberapa penembak jitu atau _snipper_ di beberapa titik jalan tol yang dianggap rawan. Keamanan di jalan tol Trans Sumatera terjamin.

Angkutan lanjutan di pelabuhan disediakan baik yang reguler mauoun tidak, misalnya di Pelabuhan Tanjung Emas, Ssmarang,  ada Bus Trans Jakarta dan bus Damri kerjasama OT Pelindo dan Perum Damri ke beberapa kabupaten di Jawa Tengah. 

Ke depan, mulai sekarang harus benar benar disiapkan peningkatan kapasitas angkutan umum dan peningkatan layanannya. 

Layanan angkutan umum _firts mile_ hingga _last mile_. 

Pemerintah sudah mengamanatkan dalam RPJMN 2015-2019 untuk penyelenggaraan angkutan umum di daerah. 

Selanjutnya dituangkan lebih rinci dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perhubungan 2015-2019. Ada pengadaan 3.000 bus untuk dibagiksn ke seluruh Nusantara. Namun ada pula penyelengaraan transportasi umum untuk 33 kota, selain Jakarta yang hingga kini belum dijalankan. 

Oleh sebab itu, penyelengaraan transportasi umum untuk 33 kota harus dikebut. Setidaknya, setiap provinsi ada satu kota yang sudah mrmiliki layanan transportasi umum memadai. 

Jika angkutan umum di daerah sudah memadai dan angkutan umum untuk mudik juga sudah bagus, pasti pemudik akan berkurang bawa kendaraan pribadi. Apalagi nanti ditambah kebijakan tarif tol dan harga BBM yang meningkat.

Layanan terninal penumpang masih harus ditingkatkan. Sistem mendapatkan tiket dipetbaruhi, sehingga dapat meminimkan aktivitas calo tiket bus. 

Kapal laut dan pelabuhan juga harus dibenahi lagi. Harus membikin suasana naik kapal 24 jam serasa 1 jam. 

Belajarlah dengan operator KA yang terus meningkatkan layanan kereta dan stasiun. Sekarang di beberapa stasiun, layanan antara stasiun untuk KA Ekonomi dan KA Eksekutif tidak jauh beda.

Di Jawa, mengaktifkan segera jaringan rel non aktif sudah mendesak dilakukan. Jaringsn tol yang sudah terbangun tidak perlu ditambah lagi. Cukup ada akses jalan nasional ke setiap ibukota kabupaten yang tidak terhubung langsung jalan tol. Pertimbangan lingkungan lebih diutamakan. Lahan produktif tidak boleh berkurang. 

Penambahan kapasitas prasarana jalan tanpa disertai peningkatan layanan transportasi umum tidak akan memberi makna dalam waktu lama. Sekarangpun sudah dibuktikan, Tol Trans Jawa terhubung, macet tak terhindari.

Dan rencana pemindahan ibukota pemerintahan harus ssgera terlaksans. Jika tidak kapasitas transportasi untuk mudik dan balik seperti sekarang ini, dalam kurun lima tahun sudah tidak berarti.

*Joko Setijowarno, pengamat transportasi