logo

Pasukan Sudan Tumpas Demonstran, 108 Tewas, 46 Mayat Diangkat Dari Sungai Nil

Pasukan Sudan Tumpas Demonstran, 108 Tewas, 46 Mayat Diangkat Dari Sungai Nil

Pasukan Sudan menyerbu demonstrans
09 Juni 2019 00:01 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - KHARTOUM: Sudan terus membara sejak protes massa pro demokrasi menggulingkan Presiden Omar al-Bashir, April lalu. Dewan Militer Transisi (TMC) kemudian mengendalikan Sudan dengan janji transisi ke pemerintahan sipil. Namun ini ditolak pejuang demokrasi sehingga aksi demo terus berlangsung. Senin lalu pasukan keamanan menyerbu dan melepaskan tembakan. Ratusan orang tewas.

Setelah tragedi berdarah itu para pemimpin protes  menolak tawaran pembicaraan dari TMC. Para tokoh oposisi itu mengatakan itu tidak dapat dipercaya setelah pertumpahan darah. Akhirnya, militer menangkapi tokoh-tokoh oposisi itu, Sabtu pagi.

Editor BBC World Service Afrika Mary Harper mengatakan langkah terbaru ini menunjukkan bahwa upaya mediasi oleh Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed memang tidak dianggap serius oleh militer.

TMC tampaknya mendapat dukungan politik dan keuangan  dari Arab Saudi, UEA dan Mesir, yang tidak satu pun tertarik pada demokrasi yang sepenuhnya matang, tambahnya.

Aktivis oposisi mengatakan unit paramiliter yang ditakuti, Pasukan Dukungan Cepat (RSF), menewaskan 108 orang dalam penumpasan itu, dengan sedikitnya 40 mayat ditarik dari Sungai Nil di Khartoum pada hari Selasa. Namun, para pejabat menyebutkan angka 46. Pemimpin RSF mengklaim elemen jahat dan pengedar narkoba berada di balik kekerasan.

RSF, yang sebelumnya dikenal sebagai milisi Janjaweed, mendapat ketenaran karena kekejaman brutal dalam konflik Darfur di Sudan barat pada tahun 2003.

Penduduk Khartoum mengatakan kepada BBC bahwa mereka hidup dalam ketakutan di ibukota.

Sejumlah wanita yang ditangkap RSF mengatakan kepada BBC bahwa mereka berulang kali dipukuli dengan tongkat dan diancam akan dihukum mati. Mereka mengatakan pasukan RSF menyuruh mereka melarikan diri, lalu melepaskan tembakan. Korban lain, kata mereka, dipaksa minum air limbah dan air seni.

Pada hari Kamis Uni Afrika menangguhkan keanggotaan Sudan "dengan segera" dan memperingatkan tindakan lebih lanjut jika kekuasaan tidak dialihkan ke otoritas sipil.

Ketua komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, menyerukan penyelidikan segera dan transparan" atas pembunuhan itu.

Dalam kunjungannya ke Khartoum pada hari Jumat, PM Ethiopia Abiy Ahmed mendesak kedua belah pihak untuk melakukan keberanian dan mencoba menyetujui langkah-langkah menuju demokrasi.

Laporan mengatakan dia telah mengusulkan pembentukan dewan transisi yang terdiri dari delapan warga sipil dan tujuh perwira militer dengan jabatan presiden bergilir. Tidak diketahui bagaimana proposal itu diterima. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH