logo

Perusahaan Patut Libarkan Pekerja Dalam Pengambilan Keputusan

Perusahaan Patut Libarkan Pekerja Dalam Pengambilan Keputusan

Dr Ruslan Irianto Simbolon dan istri. (foto, ist)
01 Juni 2019 16:55 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Agar para pekerja merasa memiliki perusahaan dan selalu bertanggung jawab atas perusahaan. Sebaiknya pengambilan keputusan di perusahaan, yang dilakukan pengusaha melibatkan para pekerja.

"Hal itu, sebaiknya dilakukan semua pengusaha di Indonesia," ujar Ruslan Irianto Simbolon, saat mempertahankan disertasinya di depan para penguji, dalam ujian terbuka di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Disertasi Staf Ahli Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Bidang Hubungan Antarlembaga ini berjudul, “Pola Hubungan Industrial pada PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Tbk Jakarta". Menurut dia, dengan terlibatnya pekerja dalam pengambilan keputusan akan menguntungkan.

Pertama, meningkatkan kualitas kehidupan pekerja. Kedua, penggunaan tenaga kerja yang lebih efektif. Ketiga, menampung minat dan kepentingan pekerja. Keempat, meningkatkan komitmen pekerja dan pemberi kerja guna meningkatkan kinerjanya.

Irianto, yang memperoleh nilai doktoralnya dengan Cum Laude tersebut menyatakan, mengelola hubungan ketenagakerjaan dengan baik, akan berhubungan langsung dengan produktivitas pekerja dan perusahaan. Menurut dia, banyaknya unjukrasa dan pemogokan di Indonesia, karena tidak adanya hubungan kerja yang harmonis antara pekerja dan pengusaha.

Padahal, lanjutnya, hubungan ketenagakerjaan yang baik akan meningkatkan produktivitas nasional, yang akhirnya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasonal. Di satu sisi, dia minta pemerintah agar selalu terlibat dalam menyelesaikan masalah hubungan industrial.

“Pemerintah dituntut agar dapat menyusun regulasi yang dapat membangun hubungan industrial dan ketenagakerjaan yang baik dan berimbang,” ujarnya. Perusahaan sebaiknya menyediakan “keranjang hadiah” bagi para pekerja yang memiliki ide, yang mampu menekan biaya produksi.

"Ini baik bagi perusahaan, guna membangun hubungan industrial yang harmonis dengan pekerjanya," tutur Irianto.

Perusahaan juga harus memberi ruang secara proporsional pada pekerja. Untuk mengikuti kegiatan perundingan, saar serikat pekerja berunding.

"Ini bermanfaat untuk memelihara kesinambungan serikat pekerja dalam proses perundingan kolektif," tuturnya.

Dikemukakannya, hubungan industrial di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Tbk Jakarta (TMMI) menjadi contoh yang sangat harmonis. “Perusahaan ini telah menjalankan sistem hubungan kerja industrial yang sangat bagus. Tidak pernah ada unjukrasa dan pemogokan pekerja dan buruh di perusahaan ini,” ungkapnya.

Hadir dalam acara ujian Doktor Ruslan Irianto Simbolon ini, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bomer Pasaribu, mantan Menteri Perumahan Rakyat Theo L Sambuaga, anggota DPR Efendy Simbolon, serta para pengusaha dari Toyota, Bank Danamon, Adaro, Musim Mas. ***

Editor : Pudja Rukmana