logo

Penggunaan Dolomit Terbukti Tingkatkan Produksi Pertanian

Penggunaan Dolomit Terbukti Tingkatkan Produksi Pertanian

Pengapuran lahan pertanian dengan dolomit. (Ist)
26 Mei 2019 10:01 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Adhie Widihartho, Chief Marketing Officer PT Polowijo Gosari mengungkapkan, penggunaan dolomit semakin massif dan semakin digemari di kalangan para petani di Tanah Air.

"Petani sudah makin pintar. Mereka gunakan dolomit karena sudah terbukti mampu meningkatkan produksi tanaman mereka," ujarnya Sabtu (25/5/2019), saat buka puasa bersama di Jakarta.

Adhie menambahkan seiring dengan program Serasi dari Kementan, pemanfaatan dolomit menjadi semakin massif. "Bahkan tidak hanya untuk lahan rawa di luar pulau Jawa, petani di Jawa pun sudah akrab menggunakan dolomit untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat kebanyakan pupuk kimia," tambah dia.

Dolomit sangat cocok digunakan pada tanaman pangan, bahkan mampu mengurangi serangan wereng. Namun sekarang dolomit juga digunakan untuk tanaman perkebunan.

"Dolomit itu berasal dari batu kapur yang mengandung magnesium CA dan MG, fungsinya menetralisir tanah hara. Sudah diujicobakan oleh Balitbang Kementan," katanya.

Cadangan dolomit di Gresik cukup banyak sekitar 300 juta ton, potensinya bisa mencapai 1,5 miliar ton dolomit. Dolomit juga ada di Sumatera Barat dan NTT. "Tapi yang di Gresik ini paling bagus kualitasnya, paling putih. Sementara di lain tempat berwarna kecoklatan," tuturnya.

Penggunaan dolomit juga tak terbatas untuk lahan pertanian. Di sekyor industri pun, dolomit dan produk turunannya banyak digunakan di industti keramik, baja. "Bahkan di HP iti ada bagian tertentu yang terbuat dari turunan dolomit. Banyak banget manfaatnya," ucap Adhie.

Menurut dia, Polowijo punya kapasitas produksi 600 ribu ton tahun ini dan bisa mencapai 1 juta ton awal 2020 tergantung permintaan yang terus meningkat. Polowijo merupakan produsen dolomit kualitas bagus.

Polowijo belum berencana ekspor dolomit. "Untuk kebutuhan lokal dalam negeri saja sudah kewalahan," katanya.

Pemanfaatan dolomit, seperti diungkapkan Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementan Dedi Nursyamsi, banya diterapkan di lahan rawa yang tingkat kemasamannya tinggi.

Dedi menuturkan, permukaan air tanah rawa yang turun selama musim kemarau (biasanya Juli-September), mengakibatkan pirit (FeS2) teroksidasi sehingga tanah keracunan Al dan bersifat sangat masam (pH 3-4). Lahan bisa ditanam 2-4 minggu setelah hujan turun karena pH tanah berangsur-angsur meningkat.

Disebutkan, inovasi teknologi untuk memperbaiki dan meningkatkan kandungan nutrisi (unsur hara) di lahan rawa berupa ameliorasi dan pemupukan. Ameliorasi ialah upaya meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman dengan penambahan bahan-bahan tertentu, baik organik maupun anorganik serta kapur.

Gunanya untuk mengendalikan kemasaman karena oksidasi pirit, mengendalikan keracunan asam organik. "Cara yang paling sering dilakukan adalah melalui pengapuran menggunakan dolomit, penggunaan bahan organik seperti pupuk kompos (kandang), dan biochar," ujarnya. ***