logo

CropLife Ajak Semua Pihak Berkoordinasi Cegah Penyebaran Hama FAW

CropLife Ajak Semua Pihak Berkoordinasi Cegah Penyebaran Hama FAW

Suasana diskusi.
24 Mei 2019 10:24 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Eksekutif CropLife Indonesia, Agung Kurniawan berharap para pemangku kepentingan mau bekerja sama untuk mengantisipasi persebaran hama FAW. 

"Tidak hanya untuk melindungi mata pencaharian petani namun juga memastikan ketahanan pangan secara global terutama di wilayah berisiko tinggi," katanya dalam diskusi bersama tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (23/5/2019), di Jakarta.

Sebelumnya, Tim peneliti IPB menyebutkan hama Fall Armyworm (FAW) atau Spodoptera Frugiperda yang berasal dari Brasil telah memasuki Indonesia.

Anggota tim ahli dari IPB Dr Dewi Sartiami, MSi menyatakan, pihaknya pada Maret 2019 mendapatkan laporan adanya kerusakan tanaman jagung di beberapa lokasi di tanah air seperti Lampung, Jambi dan Sumatera Barat.

Setelah mendengar laporan tersebut, lanjutnya, tim ahli dari IPB melakukan kunjungan lapangan ke Pasaman Barat, Sumatera Barat dan melakukan penelitian di dua lokasi pertanaman jagung yang terserang hama tersebut.

"Dari identifikasi larva dan imago serta diskusi dengan petani tentang pengalaman mereka terhadap serangga hama tersebut maka diduga kuat Spodoptera frugiperda sudah berada di Indonesia," ujarnya dalam acara diskusi bertema "Ancaman Hama Fall Armyworm (FAW) Spodoptera Frugiperda Terhadap Ketahanan Pangan Dunia".

Dewi mengatakan, melihat pengamatan di lapangan, didapati kerusakan pada tanaman jagung di Pasaman Barat yang diakibatkan hama FAW tersebut belum pernah terjadi selama ini di Indonesia.

"Hama tersebut menyerang tanaman jagung muda dan kerusakannya hampir 100 persen dari areal pertanaman," kata pengajar pada Depertemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB itu.

Anggota Tim Ahli IPB lainnya, Dr. Idham Skati Harahap, MSi menyatakan, berdasarkan laporan CABI, serangan hama FAW di 12 negara di Afrika menyebabkan kehilangan hasil jagung sebesar 4-18 juta ton per tahun dengan nilai 1-4,6 juta dolar AS pada 2018.

Sedangkan biaya penanggulanan hama tersebut di Brasil lebih dari 600 juta dolar AS.

Hama yang berasal dari Amerika Latin tersebut, lanjutnya, pertama kali terdeteksi di Nigeria Afrika pada 2016 dan sejak 2018 FAW telah memasuki wilayah Asia di antaranya India, Sri Lanka, Myamar dan Bangladesh.

Pada 2019 terdeteksi di Provinsi Yunnan Tiongkok, bahkan hama tersebut telah menyebar hingga ke Thailand.

"Kalau hama ini menyebar ke Indonesia sangat mengancam ketahanan pangan nasional," katanya.

Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Indonesia Prof. Ir. Dadang MSc mengaku telah melaporkan penemuan hama FAW yang menyerang tanaman jagung di Pasaman Barat tersebut ke Kementerian Pertanian.

Dia berharap Kementerian Pertanian sebagai otoritas berwenang terhadap sektor pertanian untuk bisa segera mengambil kebijakan guna mengatasi hama tersebut agar tidak menyebar ke wilayah lain di Indonesia.

"Kalau sudah menyebar di satu pulau akan sulit dieradikasi. Penyebaran ini tinggal masalah waktu saja," katanya.

Menurut dia, jika arah angin nantinya ke selatan maka hama FAW tersebut bisa menyebar ke Jawa dan hal ini sangat mengkhawatirkan karena pulau Jawa merupakan salah satu sentra jagung di Tanah air.

Selain tanaman jagung, hama FAW juga menyerang tanaman sayuran seperti bawang merah, tomat, kubis, bit, dan cabai. Selain itu juga tanaman pangan yakni padi, kedelai, kacang polong bahkan tanaman perkebunan seperti tebu.

Direktur Eksekutif CropLife Indonesia, Agung Kurniawan berharap ada pendampingan terhadap petani dan jangan biarkan mereka sendirian menghadapi serangan hama tersebut.

"Petani perlu mendapatkan bimbingan bagaimana menggunakan teknologi secara tepat dan benar, jangan sampai coba-coba, kalau salah bisa resisten (hamanya)," katanya. ***