logo

Hindari Terbelit Kasus, bjb syariah Posisikan Angka NPF di Level Rendah

Hindari Terbelit Kasus,  bjb syariah Posisikan Angka NPF di Level Rendah

ilustrasi
22 Mei 2019 11:44 WIB
Penulis : Ahmad Syukri

SuaraKarya.id - BANDUNG: bank bjb syariah merupakan bank yang memiliki tanggung jawab besar sebagai salah satu pelaku ekonomi Indonesia untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat luas. Dengan tanggung jawab tersebut, bjb syariah berusaha untuk menghindari terbelit kasus yang bisa mengganggu kinerja positif.

Hal tersebut dilakukan dengan menjaga angka non-performing financial atau NPF di level 4,5% per Maret 2019. Angka NPF tersebut rencananya juga akan terus dikurangi dengan harapan mencapai posisi di angka 3,9 % pada akhir tahun 2019.

Di samping itu, risiko pembiayaan atau financing at risk mencapai 12,15% dengan nilai sebesar Rp346 miliar. Risiko pembiayaan ini mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya 0,99%, dengan ekuivalen perbaikan sebesar Rp29,87 miliar.

“Kami targetkan risiko pembiayaan Rp341 miliar di akhir tahun 2019,” jelas Direktur Utama bjb syariah, Indra Falatehan beberapa waktu lalu.
Dalam menjaga level NPF pada level rendah, bjb syariah akan fokus melakukan ekspansi pembiayaan ke sektor unggulan, seperti kesehatan, pendidikan, dan konstruksi.

Indra menjelaskan proyeksi hapus buku pada 2019 akan dijaga sebesar Rp18 miliar dan restrukturisasi sekitar Rp73,5 miliar. Ke depan, restrukturisasi akan dilakukan dengan mekanisme menjadwal ulang pembiayaan konsumer yang mengalami penurunan pendapatan maupun debitur yang mengalami kendala dalam membayar tunggakan pembiayaan.

“Untuk menghadapi risiko pemburukan kualitas, akan diupayakan upaya perbaikan bisnis proses di antaranya sentralisasi persetujuan konsumer maupun komersial, adanya iFOS [scoring system] dan close monitoring aktivitas harian collection FAR [field collection dan desk call], serta memonitor seluruh nasabah dengan melakukan analisis watchlist dan analisis tiga pilar, kemudian melakukan penjajakan kerja sama dengan pihak ketiga dalam penjualan agunan,” ucapanya.

Editor : Yon Parjiyono