logo

Ketua NRI Sarankan Gubernur Anies Segera Terbitkan Pergub Tentang Pembatasan Penggunaan Plastik

Ketua NRI Sarankan Gubernur Anies Segera Terbitkan Pergub Tentang Pembatasan Penggunaan Plastik

Ketua Nasional Rekan Indonesia (NRI), Agung Nugroho (kedua dari kiri) saat acara Buka Bersama di Kawasan Pejaten Barat, Jaksel, Minggu (19/5/2019).
19 Mei 2019 22:47 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta disarankan untuk segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Pembatasan Penggunaan Plastik.

Sebab, plastik memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan apabila sudah tidak digunakan lagi, di mana istilah plastik yang sudah tidak dipakai tersebut dikenal dengan sebutan sampah plastik.

Berdasarkan hasil riset sebuah lembaga lingkungan hidup, setiap orang di Indonesia, khususnya di Jakarta menggunakan setidaknya 700 kantong plastik per tahunnya atau dua kantong plastik dalam sehari.

Parahnya, sampah-sampah plastik tersebut tidak semuanya sampai ke tempat pembuangan yang seharusnya sehingga dapat didaur ulang, tetapi justru berserakan di mana-mana.

Sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan karena sifat plastik yang memang susah diuraikan oleh tanah meskipun sudah tertimbun bertahun-tahun.

Perlu waktu 400 tahun bahkan 1000 tahun agar sampah plastik bisa terurai. Beberapa daerah saat ini sudah mulai menerapkan perda pelarangan penggunaan plastik sekali pakai, hal ini adalah sebagai bentuk tanggungjawab pemerintah daerah dalam menanggulangi dampak terhadap lingkungan hidup dan juga kesehatan warganya.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Nasional Rekan Indonesia (NRI), Agung Nugroho dalam acara Buka Puasa Bersama, Diskusi dan Santunan Kepada Yatim Piatu di kawasan Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Minggu (19/5:2019).

Bagaimana dengan DKI terhadap pelarangan penggunaan plastik ? Agung menjelaskan, sampai sejauh ini Pemprov DKI masih belum memiliki pergub pelarangan penggunaan plastik sekali pakai.

Padahal 2018 lalu sempat berkembang wacana penggunaan kantong plastik akan dikenakan denda sebesar Rp5 juta hingga Rp 25 juta.

Denda tersebut akan berlaku bagi pengusaha yang masih memproduksi plastik, pengelola tempat perbelanjaan yang masih menyediakan kantong plastik, maupun pedagang di pasar yang masih menggunakan kantong plastik.

Lebih lanjut Agung menambahkan, berdasarkan hasil kajian lingkungan terhadap sampah plastik oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI, diperlukan adanya pengurangan penggunaan plastik.

Sebab, warga Jakarta bisa menghasilkan 357 ribu ton sampah plastik dalam setahun. Khusus kantong plastik, warga Ibu Kota menyumbang 1.900 sampai 2.400 ton per tahun.

"Jumlah itu setara dengan 240-300 juta lembar kantong plastik. Untuk menguranginya, warga Jakarta perlu membatasi penggunaan kantong plastik yang biasa digunakan sebagai tempat belanjaan." katanya.

Ia menjelaskan bahwa sampah plastik dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Misalnya, penyumbatan saluran air akibat sampah plastik dapat menjadi tempat perkembangbiakan daur hidup nyamuk dan serangga berbahaya lainnya, seperti nyamuk BDB dan malaria, sehingga menimbulkan penyakit.

Kualitas air di lingkungan juga akan semakin memburuk karena banyaknya sampah plastik yang mengandung bahan-bahan kimia, seperti styrene trimer, bisphenol A, dan lain sebagainya, di mana pada akhirnya akan meracuni air yang biasanya dijadikan air minum atau mandi dalam kehidupan sehari-hari.

"Semua bahan kimia yang terkandung dalam plastik tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem pernapasan pada manusia, kanker, pembengkakan hati, dan gangguan sistem syaraf." ucap Agung.

Sampah plastik juga akan mempengaruhi kesehatan tubuh manusia kalau tertimbun di tanah atau air, pecahan-pecahan limbah plastik itu berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika air dikonsumsi.

Bahan kimia yang keluar dari plastik ditemukan dalam darah dan jaringan tubuh hampir di semua tubuh manusia.

"Manusia yang terpapar oleh plastik berisiko lebih besar mengalami kanker, cacat lahir, gangguan imunitas, gangguan endokrin dan penyakit berbahaya lainnya." ujarnya.

Editor : Yon Parjiyono