logo

 Tokoh Muda Karbitan

Tokoh Muda Karbitan

17 Mei 2019 00:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Dari hulu ke seberang. Lain dulu, lain sekarang. Dulu, para pemuda berjuang  membela negara  dan rakyat untuk menjadi tokoh bangsa. Kini siapa pun bisa dinobatkan dan menobatkan diri sebagai tokoh bangsa. Termasuk para karbitan yang bermanuver hanya untuk memburu kursi kekuasaan.

Sebelum kemerdekaan para pemuda dari seluruh pelosok Tanah Air tampil gagah berani menentang penjajah demi mewujudkan Indonesia merdeka. Lahirlah pemuda-pemuda gagah berani dengan visi kebangsaan yang hebat dan menjangkau masa depan. Bukan sekadar visi dangkal untuk kepentingan sesaat.

Para pemuda itu datang dari berbagai suku, agama, ras dan golongan. Ada pemuda Islam, Kristen, Hindu, Budha dan aliran kepercayaan. Mereka datang dari Sumatera (Jong Celebes), Jawa (Jong Java), Ambon (Jong Ambon) dan berbagai daerah lainnya. Meskipun berbeda-beda namun mereka berjuang untuk menyatu, bersatu dan membentuk persatuan demi kemerdekaan Indonesia.

Sungguh luar biasa. Mereka semua sepakat bersumpah untuk bertanah air satu, berbahasa satu dan berbangsa satu, Indonesia. Sumpah untuk peleburan menjadi satu itu tentu dengan mengesampingkan dan membuang kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Lahirlah tokoh-tokoh pemuda yang mampu memerdekakan, melahirkan bangsa dan negara Indonesia.

Soekarno dan Hatta merupakan lambang perwjudan kegemilangan perjuangan para pemuda Indonesia di masa perjuangan itu. Dalam usia 44 tahun dan 45 tahun Soekarno - Hatta menjadi proklamator Indonesia. Bukan itu saja. Setelah tampil mengumandangkan kemerdekaan di bawah tekanan dan serangan senjata para penjajah, gerakan para pemuda Indonesia tidak surut apa lagi terhenti.

Lahirlah dari tangan-tangan, mulut-mulut, pikiran-pikiran yang cemerlang,  dasar negara Pancasila yang merupakan karya besar dan mengagumkan. Kemudian lahir Undang Undang Dasar 1945 yang luar biasa. Karya-karya luhur para pemuda ini selain untuk merebut, mengisi kemerdekaan juga demi mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kepentingan negara dan bangsa. Bukan untuk kepentingan peribadi. Apalagi golongan. Semua rela melebur perasaan dan hati hanya untuk rakyat dan negara Indonesia. Begitu hebat dan luhur hasil perjuangan para pemuda Indonesia dulu.

Teladan yang seharusnya menjadi pedoman para pemuda Indonesia selanjutnya termasuk masa sekarang. Di masa reformasi yang mengusung kebebasan di alam kemerdekaan. Bukan di alam penjajahan yang terus mengancam dengan kejam dan keji.

Di zaman kebebasan ini para pemuda justru sebaliknya. Tidak berani lagi tampil dengan bebas untuk memperjuangkan kepentingan negara dan bangsa. Justru menukik ke sudut yang menyempit. Lebih menonjolkan kepentingan pribadi dan golongan. Berbeda 180 bahkan 360 juta dibandingkan yang dahulu.

Tidaklah mengherankan bila di alam reformasi ini muncul krisis tokoh pemuda. Tidak ada pemuda yang tampil gagah berani seperti wakil-wakil Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon dan daerah lainnya. Jangankan mendekati Soekarno - Hatta, mebayangkan saja tidak ada.

Dunia kampus yang dulu menjadi tempat penggodogan dan lahirnya kader-kader pemuda pemimpin bangsa kini melempem. Para mahasiswa terdiam. Tidak ada kegelisahan dalam melihat kondisi bangsa dan negaranya. Partai politik pun tidak mampu memunculkan kader-kader muda yang berkualitas untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Ini karena hanya mementingkan keperluan pribadi, golongan dan sesaat.

Dalam kondisi seperti itu tidak mengherankan bila yang muncul para karbitan. Hanya mengandalkan kebesaran orangtua, partai dan tangan-tangan pengatur kekuasaan. Dari manuver mereka saja sudah tampak kualitas karbitannya. Para karbitan inilah yang kini muncul untuk mengatur negara ini.  

Apa yang diharapkan dari para pemuda yang dikarbit menjadi tokoh bangsa? Tentu bukan tokoh yang memikirkan kemajuan bangsa dan negara. Tidak pula tokoh yang memperjuangkan kepentingan rakyat. Tetapi pemuda yang dicap tokoh bangsa yang disandera para pengkarbit. Ironi dalam kemerdekaan dan reformasi. ***

* Gungde Ariwangsa SH - wartawan suarakarya.id, pemegang kartu UKW Utama

Editor : Gungde Ariwangsa SH