logo

Pameran Pasar Rempah Akan Dibuka Di Museum Bahari Sambut HMI

Pameran Pasar Rempah Akan Dibuka Di Museum Bahari Sambut HMI

Foto dari atas kiri : Museum Bahari dengan Menara Syahbandar di kejauhan. Kanan, wisatawan mancanegara keluar masuk museum. Kanan bawah, diorama kedatangan bangsa Eropa mencari rempah; dan kiri bawah, ruang rempah rempah.
16 Mei 2019 20:12 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Pameran Pasar Rempah akan dibuka di Museum Bahari di Jl Pasar Ikan no. 1, Penjaringan, Jakarta Utara mulai 18 Mei - 13 Juni 2019 mendatang.  Pameran itu diselenggarakan oleh Museum Kebaharian Jakarta dalam rangka menyambut Hari Museum Internasional (HMI).

Kepala Satuan Pelaksana Koleksi dan Perawatan  Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta, Eko Hartoyo mengungkapkan itu di kantornya Kamis  (16/5/2019).

Lebih lanjut Eko Hartoyo menjelaskan pameran tersebut melukiskan Pasar Rempah, Aroma Masa Silam, Tradisi Wewangian, Cita Rasa Masa Depan.
Dalam rangkaian acara tersebut juga diselenggatakan Seminar tentang Rempah sebagai Pemersatu Bangsa pada hari Kamis (23/5/2019).

Juga diadakan lomba Call For Paper bertema Spices as Future Commodity (Rempah rempah Sebagai Komoditas Masa Depan)  dan lomba Digital Art dengan tema Spices in Our Tradition (Rempah-rempah Dalam Tradisi Kita).

Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Drs H Husnison Nizar menambahkan acara pameran menyambut Hari Museum Internasional itu tidak dilakukan di Taman Arkeologi Onrust maupun di Situs Rumah Si Pitung Marunda. "Jadi hanya di Museum Bahari saja  dan pembukaan diselenggarakan sore hari," kata Husnison.

Dikatakannya  bahwa setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk lebih mengenalkan lagi Museum Kebaharian termasuk Museum Bahari kepada masyarakat luas.

Kasatpel Museum Bahari Ahmad Surya juga mengakui hal itu. Mengenai Menara Syahbandar yang menjadi bagian dari Museum Bahari di Jl Pasar Ikan nomor 1, Penjaringan Jakarta Utara,  Husnison Nizar maupun  Kasatpelnya Ahmad Surya  sebelumnya  mengatakan sudah selesai direhabilitasi bagian yang rusak  dan sudah dapat dikunjungi kembali sejak 30 April 2019 setelah sejak Oktober 2018 ditutup.

Namun untuk naik ke menara yang dibangun tahun 1839 itu harus dibatasi paling banyak 20 orang sekali naik.
Diakui Husnison, menara setinggi 18 meter itu dahulunya untuk mengawasi kapal-kapal yang masuk pelabuhan Sunda Kelapa.

Di  menara tersebut masih ada foto tahun 1920 yang menunjukkan para pengawas syahbandar sedang bertugas dengan teropong. Bahkan  di menara ini dapat disaksikan teropong-teropong kuno dan peralatan navigasi dari abad 18 sampai abad 20.

Pengamat wisata dan budaya Jakarta, H Abu Galih mengatakan, mengunjungi Museum Bahari banyak manfaat yang dipetik bagi masyarakat. Karena dapat menyaksikan titik awal perkembangan kota Batavia di sebelah timur muara Ciliwung, dari kota  Jayakarta di sebelah baratnya.

Museum Bahari sendiri dahulunya deretan  gudang rempah-rempah VOC yang dibangun bertahap dari tahun 1652 sampai dengan 1774. Angka tahun terakhir ini terpahat  di pintu gedung C museum tersebut.

Di ruang pamer gedung A lantai 2 ada diorama yang menceritakan kedatangan penjelajah dunia dari Eropa  di Nusantara mulai awal abad 16.

Salah satu ruangan betul-betul berisi berkarung karung rempah rempah. "Dulu pertama kali diorama dibuka tahun 2013 - 2014 aroma rempah rempahnya terasa sekali. Kini agak berkurang. Mungkin perlu diganti yang baru," kata Abu Galih.

Gudang rempah rempah  semacam itu kata Abu Galih  juga ada di Museum Maritim Indonesia di Pelabuhan Tanjung Priok yang dibuka sejak Desember 2018. Namun karena masih baru, aromanya sangat terasa. Bau cengkeh, pala, jintan, kayu manis, lada, cabe puyang dan rempah rempah lainnya tecium menjadi satu.

Catur Trenggono pemandu wisata yang sering memandu wisatawan mancanegara ke Museum Bahari  membenarkan berkurangnya aroma rempah tersebut.
"Ya perlu diganti yang baru," ujarnya.

Bagi pengunjung yang naik ke Menara Syahbandar akan merasakan pesona pemandangan bangunan kuno di sekitar menara ini, di antaranya Museum Bahari, masjid kuno abad 17 Luar Batang dan bangunan cagar budaya Pasar Ikan. Bahkan terlihat kapal dan perahu tradisional yang sandar di dermaga pelabuhan Sunda Kelapa di antara beberapa bangunan masa kini.

Memandang arah sebaliknya (selatan) terlihat gedung tua Galangan VOC yang kini beralih  fungsi menjadi  restoran.
Saat kendaraan berat lewat di Jl Pakin, terasa menara bergoyang seperti gempa. Pengunjung tidak merasa  takut karena di areal museum itu ada papan informasi yang menjelaskan mengapa Menara Syahbandar itu juga disebut juga  Menara Goyang.

Pada papan informasi dekat pos penjagaan Museum Bahari tertulis bahwa Menara Syahbandar merupakan bangunan tertinggi di Titik Nol Jakarta. Namun titik nol kilometer itu sejak tahun 1960 an telah dipindahkan ke Monumen Nasional  atau Monas.

Diakui oleh pengelola Museum Bahari bahwa Menara Syahbandar tersebut sekarang miring ke selatan. Namun kemiringan itu sudah terjadi sejak tahun 1980-an dan dari penelitian ahli bangunan,  masih dinyatakan aman.  ***