logo

Prof M Nuh : Wakaf Sejatinya Kekuatan Kolaboratif Antara Sosial Dan Entrepreneur

Prof M Nuh : Wakaf Sejatinya Kekuatan Kolaboratif Antara Sosial Dan Entrepreneur

15 Mei 2019 23:55 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof. Mohammad Nuh menegaskan potensi yang bisa diperoleh dari wakaf sungguh sangat dahsyat. Terlebih karena potensi wakaf dalam pengelolaan Badan Wakaf Indonesia segera akan ditransformasikan menjadi lebih produktif. “Tahapan untuk menjadi produktif kita bereskan objek-objek wakaf karena yang terbentuk dalam pemahanan masyarakat itu adalah benda tidak bergerak, misal seperti aset tanah, gedung dan lainnya. Makanya kita bereskan dulu status wakaf tanah. Untuk itu kita perlu kerjasama dengan Kementerian ATR/BPN untuk mempercepat proses sertifikasi tanah wakaf,”ujar M. Nuh kepada pers di acara Media Gathering dan Bincang Wakaf Produktif, di Hotel Mercure, Gatsu, Jakarta Selatan, Selasa (14/5/2019 ).

Mendikbud era Pemerintahan SBY ini menjelaskan wakaf sejatinya terbagi dua cara atau niat. Niat atau cara mewakafkan apakah untuk kegiatan sosial atau wakaf dilakukan dengan cara tunai atau kontan berupa pemberian dengan uang.

M. Nuh lalu mencontohkan tanah wakaf yang berada di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Di sana ada tanah wakaf seluas 3,5 hektare, yang peruntukkannya untuk ibadah di masjid, sosial, seperti pendidikan, pesantren dan kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan lainnya. Peruntukkannya untuk saat ini hanya untuk keagamaan dan sosial saja. Tentu kami berfikir agar tanah wakaf yang luas itu peruntukkannya bisa dipergunakan untuk kegiatan yang lebih produktif sehingga hasilnya bisa untuk membiayai kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan tersebut. Makanya kami sedang mengajukan kepada Gubernur DKI untuk mengubah peruntukkan tanah wakaf tersebut,"jelas M Nuh ini.

Sedangkan untuk wakaf yang dilakukan dengan cara cash atau tunai, mantan Rektor ITS ini, menjelaskan untuk nominal dan jumlah tentu tidak harus dibatasi , termasuk dengan waktu yang fleksible.

“Wakaf temporer diperbolehkan. Oleh karena itu kita telah bekerjasama dengan BI dan Kementerian Keuangan untuk menggerakkan Wakaf Sukuk. Bisa dibayangkan jika, misal, seperti pegawai yang ada di Bank Indonesia ada 1000 karyawan. Jika satu bulan membayar wakaf Rp100 Ribu saja, berapa potensi jumlah yang bisa dikelola dan itu sangat memungkinkan dengan mudah karena sistem sudah menggunakan cara digital. Kita ingin memungkinkan yang tidak mungkin ini semua bisa menjadi mungkin,"tandasnya.

M. Nuh kembali menegaskan beberapa program BWI, khususnya terkait dengan wakaf yang produktif, serta wakaf linked sukuk telah dilakukan kerjasama dengan Bank Indonesia dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan sudah mulai berkembang dengan baik.

“Hanya saja paradigma masyarakat bahwa wakaf itu sama seperti zakat, infaq dan sodaqoh rasanya perlu diubah secara perlahan-lahan. Sebab, wakaf merupakan gabungan antara sosial dan entrepreneur. Kalau kesadaran ini menjadi komitmen bersama seluruh ummar, maka Insya Allah akan bisa membangun kemajuan dan kesejahteraan rakyat serta peradaban bangsa,” ujar Nuh yang juga salah satu Pengurus ICMI Pusat ini.

Nuh mengibaratkan kalau zakat, infaq dan sodaqoh itu analoginya masyarakat seperti diberi ayam lalu disembelih, dimasak, disuguhkan atau diapakan saja. Tapi kalau wakaf berbeda. Ayam tadi tidak boleh langsung disembelih, melainkan harus diternak, dipelihara, dikembangkan sehingga menjadi lebih produktif. Dari hasil telurnya bisa dimanfaatkan untuk membantu penghasilan yang lebih besar dan nantinya diserahkan kepada pihak yang berhak menerimanya atau mauquf alaihi. 

Dalam konteks ini nanti mampu menopang perekonomian masyarakat. Nuh mengakui jika badan yang dibentuk berdasarkan Undang-undang ini kurang sosialisasi dan diketahui tupoksinya oleh publik dan belum menjadi kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Padahal, manfaatnya bukan saja untuk umat Islam, tapi seluruh umat dan bangsa Indonesia.

Mengapa? “Karena Islam ini diturunkan memang diperuntukkan untuk semesta alam atau rahmatan lil ‘alamin," jelas Nuh.

Karena itu, BWI mengapresiasi kepada media massa, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU), serta Nazhir Wakaf yang telah membantu dan berkontribusi memajukan wakaf nasional.

“Kita berusaha terus meningkatkan jumlah wakif (pemberi wakaf) melalui literasi dan kesadaran memanfaatkan instrumen wakaf untuk kebaikan ummat. Jadi kawan-kawan media punya peran luar biasa untuk itu dan saya serta komisioner BWI menyampaikan apresiasi tinggi untuk itu,” ucap M. Nuh.

Di tempat yang sama, Humas BWI, Susono Yusuf menyebut LKS-PWU yang dianggap telah berpartisipasi, mampu bekerjasama, dan mendukung BWI dalam memajukan perwakafan nasional, yakni BNI Syariah, CIMB Niaga Syariah, BJB Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, Bank DKI Syariah.

"Dengan begitu BWI akan terus melakukan sosialiasi Wakaf Produktif di masyarakat. Seperti terus berkolaborasi dengan media massa, menggelar Media Gathering dan Bincang Wakaf Produktif dengan kalangan wartawan dan lembaga keuangan syariah, nazhir, dan stakeholder lainnya, seperti sekarang ini,"jelasnya.

Mantan Legislator Senayan dari PKB ini mengatakan selama ini masyarakat mengenal wakaf hanya terbatas kepada objek harta tidak bergerak. Seperti tanah yang diwakafkan untuk dibangun masjid, musholla, pesantren, lembaga pendidikan, dan atau pemakaman.

“Sekarang wakaf sudah sangat luas pemahamannya. Mulai dari uang, saham, deposito, asuransi, reksadana atau instrumen keuangan lainnya bahkan juga hak property right pun bisa diwakafkan. Inilah yang harus disosialisasikan dan dikembangkan agar BWI mampu mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat secara luas,”ujarnya.

Susono mengatakan potensi wakaf di Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di dunia atau berwakaf uang, katakanlah jika hanya Rp10 ribu maka wakaf uang yang bisa terkumpul mencapai Rp 2 Triliun dalam waktu sebulan saja. Bagaimana kalau bisa rutin tiap bulan, dalam setahun akan bisa mencapai Rp 24 Triliun.

“Bahkan kemampuan masyarakat kita jauh lebih besar dari itu. Lima puluh ribu, seratus ribu, sekarang bukan uang besar lagi. Saya bayangkan, kalau potensi itu jadi kekuatan riil, wakaf kita bisa ratusan triliun. Itu bisa jadi kekuatan ekonomi nasional yang luar biasa dan dahsyat,”tandas Nadhliyin yang juga sebelumnya sempat aktif sebagai jurnalis ini***