logo

Berkah Ramadhan

Berkah Ramadhan

05 Mei 2019 15:35 WIB

SuaraKarya.id -  

 

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Ramadhan kembali tiba dan bayang-bayang inflasi telah menghantui sebagai ancaman inflasi musiman. Paling tidak, kenaikan harga bawang putih mengawali belit inflasi di awal ramadhan kali ini dan dipastikan akan diikuti sejumlah komoditas lainnya. Terkait ini maka inflasi April 2019 sebesar 0,44 persen menjadi signal negatif dibalik ancaman inflasi musiman selama ramadhan.

Apalagi, inflasi April kali ini adalah yang tertinggi sejak 2008. Bahkan, dibandingkan Maret 2019 yang hanya 0,11 persen dan inflasi pada April 2018 sebesar 0,10 persen. Oleh karena itu, inflasi tahun kalender Januari – April atau catur wulan pertama mencapai 0,80 persen. Fakta ini memang harus diwaspadai karena ada ancaman inflasi lebaran dan juga natal – tahun baru.

Jika dicermati sejatinya ada banyak faktor dibalik tingginya inflasi musiman ramadhan dan lebaran. Padahal, indikasi inflasi pra ramadhan dipicu oleh mahalnya harga tiket pesawat yaitu 0,03 persen sedangkan harga bawang putih menyumbang 0,04 persen. Oleh karena itu, masih mahalnya harga tiket pesawat diyakini masih akan memberikan andil pada inflasi ramadhan dan lebaran. Argumen yang mendasari karena pesawat saat ini menjadi salah satu armada favorit untuk mudik sehingga dipastikan imbasnya akan berpengaruh terhadap inflasi pada lebaran mendatang. Fakta ini menjadi pembenar jika kemudian pemerintah berharap agar maskapai menurunkan harga tiket, sementara fakta yang ada juga tidak bisa diabaikan akibat dari kenaikan harga avtur yang memberikan andil terhadap mahalnya harga tiket pesawat.

Fakta lain yang juga tidak bisa diabaikan adalah terjadinya bencana dan banjir sebagai dampak cuaca ekstrim. Padahal, BMKG memprediksi masih akan terjadi cuaca ekstrim sampai akhir Mei 2019. Oleh karena itu, fenomena ini dipastikan berpengaruh terhadap jaminan pasokan dan distribusi. Artinya tingginya laju permintaan selama ramadhan dan lebaran dipastikan tidak akan terpenuhi akibat kelangkaan pasokan dan distribusi. Fakta ini bukannya tidak mungkin akan menjadi argumen untuk melakukan impor komoditas sebagai upaya menyeimbangkan permintaan yang cenderung tinggi. Relevan dengan hal ini bahwa faktornya adalah konsumerisme selama ramadhan dan lebaran. Hal ini jamak terjadi ketika tingkat konsumsi masyarakat justru meningkat di saat ramadhan. Padahal, ajaran agama justru berharap ada upaya meredam konsumerime melalui puasa tapi yang terjadi justru sebaliknya karena masyarakat semakin konsumtif dan juga produktif.

Terlepas dari kalkulasi terhadap pemenuhan kebutuhan selama ramadhan dan lebaran, pastinya ada uang kaget yang diharapkan menjadi pendorong perilaku konsumtif yaitu gaji ke-13 dan THR. Bagaimanapun juga realitas tambahan uang ekstra ini tidak pernah dialokasikan untuk investasi, tetapi justru untuk konsumsi dan hal ini diperkuat jumlah uang yang beredar selama ramadhan dan lebaran yang meningkat. Di satu sisi realitas ini bisa disebut sebagai berkah ramadhan yang memberikan stimulus terhadap semua geliat kegiatan ekonomi bisnis, mulai dari penjual takjil kaki lima sampai bintang lima. Selain itu, banyak juga kegiatan ramadhan yang memberikan andil terhadap perputaran uang di semua strata kehidupan, tidak hanya di perkotaan tapi juga di perdesaan sehingga fakta ini menguatkan adanya kegiatan produktif selama ramadhan, selain perilaku konsumtif.

Pastinya, ramadhan selalu menyisakan berkah yang melimpah, bukan hanya bagi kaum muslim tapi juga semua umat sehingga ramadhan menjadi momen untuk menjual lebih banyak produk, mulai dari pasar tumpah, midnight sale sampai gebyar ramadhan yang itu semua adalah upaya untuk memacu geliat sektor ritel dan pasar riil. Mungkin lewat ramadhan juga menjadi momentum untuk melupakan sejenak riak politik pasca pilpres yang tensinya justru semakin meninggi karena kedua kubu ngotot mengaku menang. Jika sampai 22 Mei kedua kubu masih ngotot ingin menang maka situasinya akan bisa semakin runyam. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo