logo

Inisiasi Pawon Semar, Sensasi Dugderan Bisa Dinikmati Di BSD Tangsel

Inisiasi Pawon Semar, Sensasi Dugderan Bisa Dinikmati Di BSD Tangsel

Replika Warak Ngendog yang digarap dan dikerjakan secara apik oleh anggota Pawon Semar akan ditampilkan di Festival Warak Ngendog untuk menyambut Dugderan jelang awal ibadah puasa Ramadan
04 Mei 2019 02:47 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - TANGSEL: Dugderan yang dikenal sebagai tradisi warga Kota Semarang menyambut datangnya bulan suci Ramadan sebagai penanda awal dimulainya ibadah puasa kini juga dirayakan di luar kota Semarang. Tepatnya di Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Gelaran dalam bentuk festival yang bercirikan kota Semarang yang diinisiasi dan dibesut oleh Paguyuban Wong Semarang (Pawon Semar) akan digelar mulai hari ini, Sabtu (4/5/2019) hingga besok, Minggu (5/5/2019) di Premier Sports Village De-Latinos, BSD City, Tangerang Selatan.

Perayaan festival Dugderan sebagai penanda puasa biasanya dibuka oleh Wali Kota Semarang dan dimeriahkan dentuman sejumlah mercon dan siraman aneka kembang api di langit Kota Semarang.

"Dug" diartikulasikan sebagai bagian bunyi yang bersumber dari bedug yang dipukul saat ingin shalat Maghrib. Tradisi dugderan ini telah digelar sejak tahun 1882 pada masa Kadipaten Semarang di bawah kepemimpinan Bupati R.M. Tumenggung Ario Purbaningrat.

Pawon Semar sebagai organisasi perkumpulan orang-orang yang pernah tinggal di Semarang yang sekarang berdomisili di Jabodetabek merasa terpanggil dan peduli untuk memboyong tradisi Dugderan tersebut dapat diselenggarakan di luar Semarang.

Mayjen TNI (Purn) H. Hendardji Soepandji selaku Ketua Umum Pawon Semar menegaskan salah satu komitmen Pawon Semar adalah mendukung promosi wisata Semarang baik di dalam negeri maupun di dunia internasional.

“Tujuan didirikan Pawon Semar adalah mempersatukan masyarakat perantauan asal Kota Semarang yang berdomisili di Jabodetabek, peduli untuk membantu mempromosikan obyek wisata dan menarik wisatawan berkunjung ke Kota Semarang dan menghimpun aspirasi dan potensi untuk kemajuan Kota Semarang serta kesejahteraan anggota melalui pendirian koperasi dalam ekosistem para pelaku usaha yang bervisi Teknososiopreneur,” kata mantan Danpuspom TNI ini.

Meskipun mengusung semangat Dugderan, acara yang bertajuk Festival Warak Ngendog yang digelar di BSD City, Serpong, Tangerang Selatan ini tidak ada agenda penyalaan mercon dan kembang api layaknya seperti yang dilakoni masyarakat Kota Lunpia.

“Festival Warak Ngendog ini mengusung semangat dugderan yang kita selalu rindukan di Semarang. Tapi di acara ini kami tidak ada menyalakan petasan, kembang api maupun mercon,”jelas Nur Cahyo sebagai Ketua Panitia Festival Warak Ngendog.

Selain semangat menyelenggarakan tradisi dan memperkenalkan warak, festival kali pertama di gelar di luar Semarang ini juga membawa semangat kumpul guyub dan memamerkan potensi bisnis anggota Pawon Semar.

“Kenapa teman-teman Semarang dan warga masyarakat perlu datang di acara festival ini, setidaknya ada tiga alasan yaitu, merasakan kuliner Semarang yang selalu "ngangeni" dan jarang dijual dan ditemui di Jakarta dan sekitarnya, mengenali Warak Ngendog sebagai budaya khas Semarang menjelang puasa dan mengabadikan moment dengan artwork yang instagramable berupa Warak Ngendog ala Pawon Semar,” jelas Gusti Putu Lestari selaku Wakil Ketua Panitia.

Warak Ngendog di BSD dibuat oleh sosok yang bukan dari Semarang.

“Salah satu bukti keberhasilan memperkenalkan Warak Ngendog kepada khalayak adalah kesediaan seorang penyuka seni dari Bali berprofesi engineer telekomunikasi yang bernama Made Asnaya, yang mempersiapkan Warak Ngendog setinggi 2,5 meter,” jelas Joko Dewo, pelaku seni asal Semarang yang didapuk sebagai MC jalannya prosesi pembukaan dan pentas seni.

Arak-arakan Warak Ngendog menjadi acara pembuka Festival yang rencana dimulai pukul 08:30 WIB

“Rencana kami menampilkan arak-arakan Warak Ngendog pukul 08.30, dengan tarian Goyang Semarang anak anak saya” kata Hanny Mustofa alias Aona, panggilan akrab seniman asal Perbalan Purwodadi Semarang, sohib seperjuangan Joko Dewo, Tukul Arwana dan Tony Qiu Rastafara ini***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto