logo

Pembangunan Daya Saing Dan Inklusivitas Terhambat Sejumlah Problema

Pembangunan Daya Saing Dan Inklusivitas Terhambat Sejumlah Problema

Para nara sumber forum diskusi 4th Thee Kian Wie Lecture Series 2019: Indonesia Economic Challange for the New Government
01 Mei 2019 20:33 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dalam satu dekade terakhir, Lembaga Ulmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi merinci beberapa problema mendasar dalam membangun daya saing dan inklusivitas keuangan.

Demikian dikatakan, Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho, dalam acara “The 4th Thee Kian Wie Lecture Series 2019: Indonesia Economic Challange for the New Government”, di Auditorium LIPI Jakarta, Selasa (30/4/2019). 

Disebutkannya, perbankan sebagai pelaku dominan di pasar keuangan menghadapi problema kekakuan bisnis dan keterbatasan informasi, dalam menyediakan kredit skala kecil kepada Usaha Kecil Menengah akibat peraturan yang rigid dari otoritas keuangan.

Menurut Agus, operasional perbankan juga secara sosiologis jauh dari karakteristik UKM serta Rumah Tangga Miskin yang menuntut informalitas kemudahan dan kecepatan layanan.

Permasalahan kedua, lanjutnya, tingginya bunga kredit mikro oleh lembaga keuangan non-bank, akibat besarnya biaya operasional dan keterbatasan likuiditas, serta tidak berkembangnya sistem penjaminan di pasar kerdit mikro.

“Sedangkan permasalahan berikutnya adalah dominansi perbankan dalam mobilitas tabungan dan distorsi pasar akibat intervensi subsidi bunga program kredit mikro pemerintah,” ungkapnya.

Dijelaskannya, tahun politis memang membawa tantangan ekonomi tersendiri bagi pemerintahan Indonesia. Isu-isu terkait pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, perdagangan internasional di tengah perang dagang dan melemahnya permintaan dunia, serta keuangan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah baru.

Situasi ini, lanjut Agus, menyebabkan kompetisi yang tidak adil antara perbankan dan lembaga keuangan non-bank. “Di sisi lain, keterkaitan operasional baik pola channelling dan executing tidak berjalan baik antara keduanya,” terangnya.

Thee Kian Wie Lecture Series diselenggerakan sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan para peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. “Juga sebagai bentuk penghargaan kami sekaligus mengenang jasa-jasa peneliti senior mendiang Thee Kian Wie yang wafat pada 8 Februari 2014 lalu," ujar Agus.

Dia mewariskan sesuatu yang luar biasa, baik untuk kemajuan ilmu pengetahuan sosial dan kebijakan ekonomi di Indonesia. Gelaran ini juga dihadiri Wakil Presiden Republik Indonesia persiode 2009-2014 Boediono, Prof Hal Hill, serta Arianto Patunru dari Australian National University. Kegiatan ini merupakan kerja sama Pusat Penelitian Ekonomi LIPI dengan Forum Kajian Pembangunan ANU Indonesia-Project dan ISEAS Yusouf-Ishak Singapura.

Editor : Azhari Nasution