logo

May Day 2019, Momentum Merespon Perubahan Pasar Kerja

May Day 2019, Momentum Merespon Perubahan Pasar Kerja

Menakar M Hanif Dhakiri ( kedua dari kiri). (foto, ist)
01 Mei 2019 19:37 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: May Day 2019, merupakan momentum bangsa Indonesia untuk merespon adanya perubahan pasar kerja yang dinamis dan semakin fleksibel, maupun perbaikan ekosistem ketenagakerjaan.

Demikoan dikemukakan, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, yang menyambut positif peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2019, yang berlangsung di berbagai kota di Indonesia. Dia menilai, perinhatan May Day telah berjalan dengan tertib, aman, serta kondusif.

“Pelaksanaan May Day 2019 yang bertema “Together We Grow” berjalan tertib, aman, harmonis dengan suasana kekeluargaan seperti perayaan May Day tahun-tahun sebelumnya," tuturnya, di Jakarta, Rabu (1/5/2019)

Dia berharap, suasana seperti ini terus terpelihara di setiap peringatan May Day, ke depannya. Menurutnya prioritas pembangunan pemerintah tahun 2019 yakni pembangunan sumberdaya manusia (SDM) .

“Saat ini kita membutuhkan SDM berkualitas dengan jumlah yang memadai dan persebaran yang relative merata di seluruh Indonesia,“ ujarnya.

Di sisi lain, dia melihat persoalan riil, dalam pembangunan SDM tahun 2019 ini adalah adanya ketimpangan skill. Persoalan skill tersebut sesungguhnya bukan persoalan pemerintah, tetapi juga persoalan bagi serikat pekerja dan pengusaha.

Untuk mengatasi persoalan ketimpangan skill tersebut Pemerintah terus meningkatkan masifikasi pelatihan vokasi. “Pelatihan vokasi ini dalam rangka memberikan pelatihan soft skill dan hard skill, kepada angkatan kerja kita. Agar bisa terserap di pasar kerja dan kewirausahaan," tutur Menaker.

Ditegaskannya, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kesejahteraan. Misalnya soal pengupahan, dimana kenaikan upah buruh itu dijamin naik dan pasti setiap tahunnya.

Kemudian ada program perumahan pekerja, perluasan jaminan sosial bagi tenaga kerja, baik formal maupun informal, kredit usaha rakyat yang diperuntukkan bagi pekerja. “Kesejahteraan buruh tidak bisa terus menerus dilihat dari segi upahnya saja, tetapi dilihat dari kemudahan dari akses transportasi, pelatihan, pendidikan, akses permodalan, dan sebagainya,", ungkapnua.

Editor : Azhari Nasution