logo

Indonesia Respon Future Of Work Dengan Sejumlah Strategi

Indonesia Respon Future Of Work Dengan Sejumlah Strategi

Menaker M Hanif Dhakiri (kiri) (foto, ist)
30 April 2019 16:10 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - SINGAPURA: Untuk merespon perubahan-perubahan yang terjadi dalam sektor ketenagakerjaan, pada era future of works (pekerjaan masa depan). Pemerintah Indonesia telah menyiapkan beberapa strategi khusus di bidang ketenagakerjaan.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, saat memberikan sambutan dalam pertemuan khusus Menteri Tenaga Kerja ASEAN tentang Future of Work di Singapura, Senin (29/4/2019).

Seperti diketahui, para Menteri Tenaga Kerja dari negara-negara anggota ASEAN mendiskusikan strategi menghadapi Future of Work, yang mempengaruhi sektor ketenagakerjaan di masing-masing negara.

Indonesia, kata Menaket, terus memperkuat kerja sama dengan seluruh anggota ASEAN. Dalam memberikan respon dan menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam era future of work tersebut.

“Dengan mengedepankan semangat kebersamaan ASEAN, kita akan mampu mengatasi segala tantangan sekaligus memanfaatkan peluang-peluang untuk memajukan kejayaan ASEAN,” tuturnya.

Sementara strategi khusus itu meliputi, pertama meningkatkan employability angkatan kerja Indonesia, melalui penerapan pelatihan vokasi yang masif dan sesuai dengan kebutuhan Industri. "Pelatihan vokasi dalam bentuk hard dan soft skills diberikan secara masif, tanpa memandang usia dan latar belakang pendidikan untuk menjamin adanya skilling, upskilling, dan reskilling bagi SDM Indonesia," jelasnya.

Skilling berarti mendorong dan memfasilitasi para angkatan kerja, khususnya angkatan kerja muda untuk berpartisipasi dalam program pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK). Upaya itu didukung dengan programre skilling dan upskilling. Agar pekerja yang terdampak job-shifting mendapat keterampilan sesuai dengan tuntutan perkembangan teknolongi pada era future of work.

Pemerintah Indonesia juga membangun BLK Komunitas Keagamaan. Tujuannya, untuk memberi bekal kompetensi selain ilmu agama yang mereka pelajari, dan juga akan berdampak pada masyarakat sekitar. Kedua, dalam menghadapi adanya new form of work di era digital ini, termasuk telework, yang diyakini akan memberi dampak pada beberapa elemen dalam hubungan industrial, pemerintah sudah siapkan solusi.

"Pemerintah Indonesia sudah, sedang dan terus memperkuat dialog sosial dengan Tripartit Nasional dan mitra sosial. Selan itu, pemerintah akan meastikan bahwa seluruh pekerja telah terlindungi melalui jaminan sosial dan jaminan kesehatan, termasuk bagi pekerja migran Indonesia di seluruh negara penempatan," papar Menaker

Strategi ketiga, lanjut dia, yaitu memperluas pasar kerja yang fleksibel namun mampu menyerap SDM Indonesia. Untuk bekerja secara produktif dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi, yang inklusif dan berkelanjutan. Keempat, meminimalisir kesenjangan antara partisipasi kerja perempuan dan laki-laki dalam iklim ketenagakerjaan Indonesia.

"Kita juga melakukan promosi nasional tentang implementasi equal employment opportunity (EEO) baik di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Guna memastikan tidak ada diskriminasi gender di tempat kerja," tuturnya.

Kelima, menyadari di era ekonomi digital ini diperlukan kreatifitas dan inovasi produktif dari kaum muda. Pemerintah Indonesia menyediakan berbagai fasilitas, sarana dan kemudahan bagi kaum muda. Untuk berkreasi yang disesuaikan dengan minat, bakat, serta kepentingan bangsa.

Strategi keenam, lanjutnya, guna mendukung iklim ketenagakerjaan yang kondusif bagi investasi asing di wilayah Indonesia, pemerintah memperkuat penerapan occupational safety and health (OSH) di semua sektor industri. Hal ini guna memastikan terwujudnya kepatuhan hukum ketenagakerjaan yang diselaraskan dengan prinsip-prinsip decent work dan standar ketenagakerjaan baik domestik maupun standard internasional.

Editor : Gungde Ariwangsa SH