logo

Persiapan Mudik Lebaran

Persiapan Mudik Lebaran

29 April 2019 15:32 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Joko Setijowarno*

Badan Litbang Perhubungan memprediksi pemudik tahun 2019 sekitar 18,2 juta orang. Jumlah itu berasal dari Banten,  Jabodetabek dan Bandung Raya. Pasalnya ketiga wilayah ini menjadi bangkitan pemudik terbesar di Indonesia yang paling banyak perantaunya. Dari ketiga wilayah itu terdapat sekitar 4,5 juta rumah tangga. 

Tujuan pemudik yang berasal dari Jabodetabek terbanyak ke Jawa Tengah 5,6 juta (37,68%), Jawa Barat 3,7 juta (24,89%) dan Jawa Timur 1,7 juta (11,14%).

Moda pilihan terbesar menggunakan mobil pribadi 4,3 orang (28,9%), bus ekonomi 2,4 juta (16,1%) dan bus eksekutif 2,1 juta (23,9%).

Pemudik yang memilih memakai bus tertinggi, yakti 4,5 juta orang (30%), mobil pribadi 4,3 juta orang (28,9%), KA 2,5 juta orang (16,7%), pesawat udara 1,4 juta orang (9,5%), sepeda motor 942 ribu orang (6,3%).

Total biaya transportasi pemudik dari Jabodetabek ke tujuan mudik sebesar *Rp 6 triliun*. Dengan tujuan Jawa Tengah Rp 2 triliun,  Jawa Barat Rp 945 miliar dan Jawa Timur Rp 791 miliar. 

Total dana pemudik berasal dari Jabodetabek  yang akan mengalir ke lokasi pemudik sebanyak *Rp 10,3 triliun*. Jawa Tengah Rp 3,8 triliun,  Jawa Barat Rp 2,05 triliun dan Jawa Timur Rp 1,3 triliun. 

*Rest area alternatif*
Potensi transaksi pemudik selama Lebaran 2019 sebesar Rp 10,3 triliun untuk dibelanjakan di lokasi mudik dan Rp 6 triliun untuk urusan transportasi. 

Potensi belanja ini mesti dimanfaatkan oleh daerah-daerah yang dilalui Tol Trans-Jawa, salah satunya dengan menyiapkan fasilitas area istirahat di kota/kabupaten tersebut.

Daerah yang dilalui jalan tol dapat menjadi area istirahat. Pemudik perlu merencanakan pilihan daerah yang hendak dijadikan tempat istirahat saat mudik nanti.

Badan usaha jalan tol mesti aktif mengedukasi masyarakat dan pemudik untuk beristirahat di luar jalan tol atau di daerah yang dilalui jalan tol.

Operator jalan tol juga harus menyiapkan sistem yang membuat pemudik tak perlu membayar saat keluar-masuk di salah satu pintu Tol Trans-Jawa untuk istirahat di daerah tersebut. Hal ini penting untuk mendorong pemudik memanfaatkan daerah yang dilalui jalan tol sebagai tempat istirahat dan menghindari macet di dekat rest area. Potensi kemacetan betupa antrian kendaraan mau masuk rest area bisa terjadi di jalan tol dekat rest area. 

Gerbang Tol Salatiga dapat menjadi contoh karena area untuk istirahat pemudik dekat dengan pintu tol. Dia menyarankan, area untuk istirahat bagi pengguna jalan tol sebaiknya berjarak 200-300 meter dari pintu tol.

Sejumlah rest area tidak akan mencukupi kebutuhan pemudik yang akan singgah. 

Peluang bagi daerah untuk mengembangkan ekonomi lokal

BUJT diminta memberikan petunjuk rambu rest area alternatif di luar jalan tol.

Ada upaya Ditjenhubdat untuk membatasi rentang waktu berada di rest area. Harus dilengkapi instrumen untuk membatasi waktu tersebut. Misanya disediakan gate elektronik yang bisa mencatat keluar masuk kendaraan. Jika melebihi batas waktu dikenakan tarif yang cukup tinggi.

*Angkutan lanjutan*
Tahun ini, perantau yang berasal dari Jawa dan Sulawesi yang akan mudik ke Jawa dan Sulawesi, sebagian besar beralih menggunakan jasa kapal laut. Paling besar ke Jawa. Harga tiket pesawat udara yang melambung tidak terkendali menyebabkan pilihan untuk beralih moda. 

Terutama yang perantau yang selama ini bermukim di Kalimantan dan Sulawesi. 

Sejumlah pelabuhan yang berada di Pontianak, Kumai, Sampit, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Tarakan dan Nunukan di Kalimantan menjadi asal keberangkatan para perantau itu. 

Ada juga yang berangkat dari Makassar dan Pare Pare. 

Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menjadi tujuannya perantau menggunakan kapal laut. 

Selama ini sudah disediakan angkutan lanjutan ke beberapa kabupaten/kota di Jatim dan Jabar, sinergi BUMN PT PELINDO dan Perum. Damri. Bisa juga melibatkan PT JASA RAHARJA untuk menyediakan angkutan lanjutan yang murah, nyaman dan aman bagi pemudik yang memakai kapal laut. Tahun ini jumlah armada bus itu harus ditambah, baik di Pelabuhan Tanjung Emas mauoum Pelabuhan Tanjung Perak. 

Harus dihindari beroperasinya angkutan umum pelat hitam yang sering merugikan pemudik dengan tarif semaunya. 

KSOP sebagai penguasa di pelabuhan harus mengawasi keberadaan angkutan pelat hitam tersebut agar dilarang beroperasi di dalam wilayah pelabuhan. 

Mungkin YLKI atau lembaga konsumen sejenis di daerah dapat menetapkan poskos pengaduan di kedua pelabuhan tersebut. 

Demikian pula sediaan angkutan lanjutan wajib disediakan di beberapa simpul transportasi di daerah, seperti terminal dan stasiun. Bukan menyerahkan angkutan lanjutan pada roda dua dan roda dua daring. 

Pemda sudah saatnya menata transportasi umum di daerah masing-masing. Penyelenggaraan angkuran umum merupakan kewajiban pemda yang selama ini terabaikan. 

Musim mudik lebaran tahun ini harus dapat membahagiakan pemudik.

*) Joko Setijowarno, pengamat transportasi dan anggota Masyarakat Transportasi Indonesia