logo

LIPI Konsisten Benteng Terakhir Perlindungan Tumbuhan

LIPI Konsisten Benteng Terakhir Perlindungan Tumbuhan

Peneliti Begonia, Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Wisnu Aji Handoyo. (foto,ones)
28 April 2019 21:13 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BOGOR: Upaya konservasi keanekaragaman tumbuhan Indonesia menghadapi tantangan, berupa kerusakan habitat alami, eksploitasi berlebihan terhadap alam, serta alih fungsi hutan. Walau begitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI sebagai benteng terakhir perlindungan tumbuhan, bertahun-tahun selalu konsisten menjalankan fungsi tersebut.

Seperti yang dilakukan, untuk tanaman begonia, hoya, serta kemuning. Pada acara prestour di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu (27/4/2019) dipamerkan 32 jenis baru Begonia yang telah diterbitkan dalam 21 publikasi ilmiah internasional, yang merupakan hasil ekspedisi dan penelitian dalam kurun 10 tahun terakhir.

“Indonesia diperkirakan memiliki lebih dari 400 jenis Begonia dari total 1.924 jenis yang terdapat di kawasan tropis di dunia,” jelas peneliti Begonia Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Wisnu Aji Handoyo.

Dikemukakannya, Begonia tersebar di Sumatera hingga Papua dengan perincian di Sumatera terdapat 63 jenis, Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak) 197 jenis, Jawa 14 jenis, Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 13 jenis, Sulawesi 51 jenis, Kepulauan Maluku 9 jenis, serta Papua dan sekitarnya 80 jenis.

Untuk tanaman kemuning, jenis baru yang dipamerkan yakni Murraya cyclopensis Astuti & Rugayah. Jenis itu ditemukan di Cagar Alam Kemiri Said, Pegunungan Cyclops, Papua oleh I Nyoman Lugrayasa dari Kebun Raya Bali pada tahun 2001.

Awalnya, jenis ini diidentifikasikan sebagai Murraya paniculata. Namun, setelah menghasilkan bunga dan buah ternyata bukan, sehingga diubah namanya menjadi Murraya sp.

Peneliti Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI Inggit Puji Astuti lalu melakukan penelitian lebih lanjut. Sehingga, disimpulkan bahwa ini jenis baru dan diberi nama Murraya cyclopensis.

“Jenis baru ini mirip dengan Murraya paniculata (L) Jack pada karakter vegetatif dan struktur bunganya,” jelasnya. Perbedaannya, ujarnya, ada bulu pada ranting, rakis (sumbu utama tangkai daun majemuk menyirip) dan tangkai daun.

“Selain ukuran bunganya lebih kecil, buahnya membulat dan berwarna merah serta bijinya yang membundar berbulu pendek, lebat serta mempunyai aril yang menutupi biji berwarna merah,” terang Inggit.

Selain Begonia dan Kemuning, ditemukan pula sebanyak 10 jenis baru tanaman Hoya. Dari hasil penelitian selama tahun 2014 hingga tahun 2019.

Sebanyak 9 jenis sudah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional. Sementara, satu jenis masih dalam proses yang diharapkan dapat dipublikasikan tahun ini.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto