logo

Miskin Dan Rendahnya Pendidikan Penyebab Kekerasan Pada Perempuan Dan Anak

Miskin Dan Rendahnya Pendidikan Penyebab Kekerasan Pada Perempuan Dan Anak

Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo. (foto, ist)
24 April 2019 21:17 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BANTEN: Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, yakni adanya permasalahan kemiskinan dan pendidikan. Sehingga, pemerintah terus berupaya dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan pendidikan. Agar tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat ditekan sekecil mungkin.

Demikian dikemukakan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo, saat memberi arahan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak 2019, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu (24/4/2019).

Di kesempatan itu, Kemendes PDTT bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) membuat kesepakatan bersama, tentang percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG), PPPA dalam PDTT. Kesepakatan bersama tersebut, ditandatangani oleh Menteri PPPA Yohana Yembise dan Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo.

Dukemukakan Mendes, kalau bicara kekerasan terhadap perempuan dan anak, problemnya adalah kemiskinan dan pendidikan. Kalau di daerah yang tingkat kemiskinannya kecil dan tingkat pendidikannya baik, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak itu akan sangat kecil.

Karenanya, lanjut dia, untuk mengatasi kemiskinan tersebut, Presiden Joko Widodo pada 2015, mulai menggelontorkan dana desa yang hingga tahun 2019 telah mencapai sebesar Rp 257 triliun. Dana desa, sangat bermanfaat bagi pemberdayaan perempuan dan menumbuhkembangkan anak-anak. Untuk menjadi lebih baik dan berpendidikan.

"Dana desa yang telah digelontorkan telah banyak dimanfaatkan untuk pembangunan di desa-desa. Pembangunan tersebut lebih banyak kaitannya dengan perempuan dan anak-anak," tuturnya.

Pembangunan yang terkait perempuan dan anak, yang berasal dari dana desa, di antaranya pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lebih dari 50 ribu, Posyandu sebanyak 25 ribu, Polindes sebanyak 10 ribu dan pembangunan lainnya.

"Dengan dana desa telah terbangun hampir satu juta unit sarana air bersih, yang manfaatnya sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak dan masyarakat desa. Itu semua dibangun atas inisiatif desa dan dilaksanakan oleh keluarga-keluarga termasuk kaum perempuan di desa," paparnya.

Adanya dana desa yang digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, ungkapnya, dapat menjadi salah satu faktor pengurangan angka kemiskinan di Indonesia menjadi singel digit, yakni 9,66 persen.

Selain itu, juga dapat mengurangi angka desa tertinggal di Indonesia, sekaligus mengurangi angka stunting atau kekurangan gizi pada anak.

Editor : Gungde Ariwangsa SH