logo

BMKG Prioritaskan Program Pembangunan Ketahanan Bencana Serta Rendah Karbon

BMKG Prioritaskan Program Pembangunan Ketahanan Bencana Serta  Rendah Karbon

Menteri PPNĀ / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro didampingi Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjawab pertanyaan wartawan usai membuka Rakornas dan Rakorbangnas BMKG di Auditorium BMKG, Selasa (23/4/2019). (Foto: suarakarya.id/dwi putro aa)
23 April 2019 19:47 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  Dwikorita Karnawati mengutarakan bahwa dalam Rancangan Teknoratik Rencana Pembangunan Jangka menengah 2020-2024 isu bencana dan perubahan iklim menjadi topik khusus yang akan memberikan arahan bagi sektor dan regional dalam penyusunan rencana pembangunan untuk lima tahun ke depan.

Hal itu diutarakan Dwikorita dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Rapat Koordinasi Pembangunan Nasional (Rakorbangnas) di Auditorium BMKG, Selasa (23/4/2019).

"Untuk tahun 2020  isu bencana dan perubahan iklim akan menjadi program prioritas yang sasarannya mewujudkan pembangunan ketahanan bencana serta  pembangunan rendah karbon," ujar Dwikorita pada acara yang dibukaMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro 

Untuk hal ini, peran strategis BMKG dalam perkembangan global pengamatan cuaca dan perubahan iklim sangat diperhatikan.

“Kegiatan Rakorbangnas ini menjadi sangat strategi karena menjadi forum untuk sinkronisasi dan koordinasi kebijakan satu observasi serta pemantauan dan evaluasi terhadap efektivitas penyelenggaraan meteorologi,klimatologi
dan  Geofisika," kata Dwikorita.

Pertemuan koordinasi  pembangunan ini, kata Dwikorita lebih lanjut, sebagai langkah penyiapan rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah pada tiap tahun anggaran dan menjadi masukan untuk perencanaan pembangunan Nasional.

"Kita perlu mempertimbangkan perencanaan pembangunan yang rawan bencana, mengingat wilayah Indonesia rawan bencana alam, seperti pembangunan infrastruktur dan bangunan yang tahan gempa, pembangunan jalur evakuasi bencana di wilayah permukiman dan perkantoran,serta adaptasi perubahan iklim di berbagai sektor," ucap Dwikorita.

Ia menuturkan pertemuan sinkronisasi dan koordinasi ini sangat tepat untuk meningkatkan  kerja sama BMKG dengan pihak pihak terkait tersebut terutama untuk saling tukar informasi dan data observasi baik untuk penelitian, prediksi, maupun peringatan dini.

Sementara itu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro  mengatakan, lembaganya akan siap membantu BMKG dalam menyebarluaskan informasi.

“Bappenas siap mendukung BMKG menjadi terdepan dalam menyediakan layanan informasi berbasis maritim, tidak hanya berbasis terrestrial,” kata Bambang.

Bambang Brodjonegoro pada kesempatan juga menyebutkan menginginkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi institusi yang selalu dibutuhkan masyarakat.

"Tantangan bagi BMKG adalah terutama bagi masyarakat bagaimana menjadikan BMKG itu sebagai institusi yang dibutuhkan masyarakat bagaimana agar masyarakat kita selalu sadar terhadap potensi bencana," katanya.

Bambang menceritakan seperti saat ia bersekolah di Amerika Serikat, setiap hari sebelum beraktivitas ia selalu mencari informasi cuaca.

"Itu yang saya inginkan informasi BMKG bisa selalu dipantau masyarakat. Yang paling penting adalah komunikasi BMKG kepada masyarakat bagaimana masyarakat itu menjadi masyarakat yang sadar akan potensi bencana maksudnya menjadikan manusia Indonesia yang selalu berusaha mencari informasi terkini yang terkait bencana," kata dia.

Dia mengatakan, informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG sangat penting kaitannya dengan bencana hidrometeorologi, transportasi, sektor pertanian, dan lainnya.

Begitu juga dengan perencanaan pembangunan, serta infrastruktur ramah bencana erat kaitannya dengan informasi kerawanan bencana.

"Saya ingin BMKG tidak hanya terdepan tapi juga paling akurat," katanya.

Rakornas dan Rakorbangnas yang dilaksanakan dari Selasa (23/4) hingga Jumat (26/4) ini diikuti 482 peserta dari Kantor Pusat BMKG, Para Pejabat UPT/ Daerah, Dharma Wanita Persatuan Daerah dan Pusat, serta Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG).

Kegiatan Rakorbangnas tahun ini mengangkat tema "Menuju One Observation Policy, Sinkronisasi dan Koordinasi Penyelenggaraan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk Indonesia Selamat dan Sejahtera.”

Sementara untuk tema dari Rakornas tahun ini, yaitu Smart SDM Menuju Global, “Dengan Spirit Socioenterpreneurship.” ***