logo

Rocky Gerung Sebutkan Ratna Sarumpaet Sebarkan Hoaks

Rocky Gerung Sebutkan Ratna Sarumpaet Sebarkan Hoaks

saksi Rocky Gerung
23 April 2019 22:02 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Akademisi Rocky Gerung dan dokter bedah Teuku Adifitrian alias Tompi bersaksi dalam persidangan kasus penyebaran berita bohong alias hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019).

Rocky Gerung menyebutkan terdakwa Ratna Sarumpaet menyebarkan berita bohong alias hoaks tentang pemukulan yang dialaminya lewat sosial media hingga ramai dan memunculkan pro dan kontra atas isu.

"Saya menemukan itu diferensiasi atau pro kontra, kegaduhan itu di dunia maya," tutur Rocky. Dia menyebut, dunia maya menjadi gambaran kondisi sebenarnya di dunia nyata. "Representasi dunia nyata memang dunia maya," katanya.

JPU kemudian meminta Rocky menegaskan maksud dari pernyataannya. "Pertanyaan saya, apakah saudara menangkap makna bahwa ketegangan atau pro kontra, apakah juga merupakan representasi dari situasi riil di lapangan masyarakat sosial?" tanya JPU.

"Seluruh aktivitas berpikir, aktivitas empati, aktivitas simpati atau antipati, itu lebih banyak beroperasi di dunia maya daripada di dunia riil, karena orang hanya akses keadaan melalui dunia maya," jawab Rocky.

"Dunia maya termasuk dunia imajiner?" timpal JPU. "Ya, sesungguhnya begitu. Sosial media," tutur Rocky mengaku  mengenal Ratna Sarumpaet sebagai seorang aktivis demokrasi. Dengan kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang menjeratnya, Rocky pun mempertanyakan integritas dari ibunda Atiqa Hasiholan itu. "Aktivis demokrasi berbohong. Jadi saya tagih integritasnya," ujarnya.

Tidak ada lagi persoalan apapun usai Ratna meminta maaf ke publik. Namun hingga saat ini, Rocky mengaku bingung apa sebenarnya alasan kebohongan itu dimainkan. "Saya anggap ya sudah, sudah minta maaf ya sudah, enggak ada soal lagi buat saya. Karena itu saya pakai kata integritas. Saya tekankan, apalagi terhadap pejuang demokrasi, integritas itu adalah sekarang harga mati," katanya.

Menanggapi itu, Ratna Sarumpaet meminta Rocky tidak sembarangan menilai integritasnya sebagai aktivis demokrasi. "Dia kan tidak tahu apa yang terjadi kepada saya. Kalau dia tahu apa yang terjadi, mungkin dia enggak akan, apalagi di persidangan," kata Ratna. Ratna Sarumpaet beberapa kali mengingatkan agar Rocky menahan diri untuk menyinggung integritas para aktivis demokrasi. "Waktu akan membuktikan kepada dia bahwa this is not about integrity," kata Ratna.

Sedangkan saksi Tompi  menyayangkan sikap Hanum Rais yang seakan mampu melakukan pemeriksaan ke Ratna dan membenarkan kebohongannya. "Di video itu digambarkan bagaimana mereka berjalan berdua keluar dari salah satu pendopo gitu belakangnya, kemudian Hanum Rais menceritakan sudah memeriksa yang bersangkutan dan yakin betul bahwasanya ini adalah korban pemukulan, dan ini adalah contoh Cut Nyak Dien buat dia, di situ ya konyol aja buat saya gitu," kata Tompi.

Menurut Tompi, sikap Hanum Rais tergolong melewati batasannya. Terlebih, kredibilitasnya dalam memeriksa Ratna Sarumpaet pun tidak memenuhi apalagi mumpuni. "Pertama, kapasitas dia dokter gigi bukan dokter umum gitu. Bukan spesialis bedah, tentu tidak punya kemampuan untuk mengevaluasi," katanya.

Tompi menjelaskan, pendidikan dan profesi dokter gigi sangat berbeda jauh ranah kelimuannya dengan dokter umum. Sementara dokter umum masih punya kapasitas untuk melakukan pemeriksaan luka tubuh. "Sekolahnya beda banget. Dokter gigi itu sendiri, bukan dari dokter umum terus jadi dokter gigi. Kalau kapasitas dia sebagai dokter umum, masih punya kapasitas untuk itu. Jadi banyak menurut saya yang ganjal," jelas Tompi.

Pengakuan Hanum Rais yang sudah melakukan pemeriksaan ke Ratna Sarumpaet pun bisa mencederai profesinya. "Kedua, dia sudah mengaku memeriksa. Artinya kalau memeriksa sudah ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Artinya kalau sudah memeriksa dan salah, ada dua kesimpulannya. Satu tidak mampu, kedua atau berbohong. Sebagai dokter bedah plastik memeriksa pasien ya saya mulai dari interview, ngobrol, mulai dari anamnesa, kemudian pemeriksaan fisik kita raba, ketahuan, nah itu sebagai satu paket,"  ujar Tompi.

Editor : Gungde Ariwangsa SH