logo

KPK Tetapkan Tersangka Suap Dirut PT PLN Sofyan Basir

KPK Tetapkan Tersangka Suap Dirut PT PLN Sofyan Basir

tersangka Dirut PT PLN Sofyan Basir
23 April 2019 21:55 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Penyidik  KPK  menetapkan Direktur Utama  (Dirut) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir sebagai tersangka dalam kasus suap proyek PLTU Riau-1. Sofyan diduga beberap kali melakukan pertemuan untuk membahas proyek PLTU Riau 1 sampai akhirnya dikucurkan uang suap kepada Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham.

Pertemuan  tersebut Sofyan Basir dengan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih berikut pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johanes Budisutrisno Kotjo. "Sampai dengan Juni 2018 diduga terjadi sejumlah pertemuan yang dihadiri sebagian atau seluruh pihak, yaitu SFB (Sofyan Basir), Eni Saragih dan Johanes Kotjo serta pihak lain di sejumlah tempat, seperti Hotel, Restoran, Kantor PLN dan rumah SFB," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Jakarta, Selasa (23/4).

Dia mengatakan, Sofyan secara langsung menunjuk Johanes Kotjo untuk menggarap PLTU Riau-1. Menurutnya, Sofyan menerima hadiah atau janji sama seperti mantan Sekjen Golkar Idrus Marham dan Eni Saragih. "SFB (Sofyan Basir) diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dengan jatah Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," ujar Saut.

Namun Saut tak menjelaskan berapa besaran uang suap yang diterima oleh Sofyan Basir. Berdasarkan dakwaan, Eni Saragih disebut menerima suap Rp 4,7 miliar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Sedangkan Idrus disebut menerima suap Rp 2 miliar.

Atas perbuatannya itu, Sofyan dipersalahkan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam kasus ini, KPK sudah menjerat mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, mantan Sekjen Golkar Idrus Marham, dan Johannes Budisutrisno Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. Pada pengembangan sebelumnya, KPK juga sudah menetapkan pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal, Samin Tan, sebagai tersangka.

"Pada Oktober 2015, Direktur PT Samantaka Batubara mengirimkan surat pada PT PLN yang pada pokoknya memohon agar memasukan proyek dimaksud ke dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN namun tidak ada tanggapan positif," ungkap Saut Situmorang.

Sebagian besar saham dari PT Samantaka Batubara dimiliki oleh Blackgold Natural Resources Limited. Salah satu pihak yang sudah terjerat, Johannes Budisutrisno Kotjo merupakan pemegang saham di Blackgold. "Hingga akhirnya Johannes Kotjo, mencari bantuan agar diberikan jalan untuk berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer PLTU Riau-1," kata Saut.

Berawal  tahun 2016. Meskipun saat itu Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN belum terbit, Sofyan diduga telah menunjuk Kotjo mengerjakan proyek di Riau. Akhirnya berkelanjutan pada PLTU Riau-1.

Editor : Gungde Ariwangsa SH