logo

Dubes dan Perwakilan Internasional Apresiasi Museum Pertanian

Dubes dan Perwakilan Internasional Apresiasi Museum Pertanian

Salah satu pojok Museum Pertanian di Bogor, yang merupakan museum pertanian terbesar di kawasan Asean. (Humas Kementan)
23 April 2019 14:50 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - BOGOR: Museum Pertanian serta gedung perpustakaan yang baru saja diresmikan Kementerian Pertanian (Kementan) di kawasan Bogor, Jawa Barat mendapat apresiasi dari sejumlah duta besar negara sahabat. 

Terlebih, museum yang juga menjadi pemicu semangat kejayaaan pertanian Indonesia ini, didirikan sebagai ujud revoluasi industri 4.0 menuju lumbung pangan dunia 2045. 

Saat meresmikan Museum Pertanian, Senin (22/4/2019), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berharap museum tersebut dapat menginspirasi anak muda Indonesia untuk membangun pertanian. "Kami ingin pemuda-pemuda siapapun yang datang ke museum ini tidak saja belajar pertanian Indonesia di masa lalu, tetapi juga masa sekarang, dan optimis menatap ke depan. Indonesia menjadi lumbung pangan dunia 2045," kata Amran.

Apresiasi terkait peresmian Museum Pertanian datang dari Dubes Argentina Ricardo Luis Bolacandro. Luis menyatakan museum ini memiliki nilai kebangsaan yang luar bisa dan sangat mengesankan semua orang yang datang. Dia tertarik dengan kemajuan teknologi pertanian seperti autonomous traktor dan teknologi budidaya sapi.

"Keberadaan museum ini akan meningkatkan jumlah wisata ke Kota Bogor. Yang tak kalah penting, museum ini memiliki peran penting dalam perkembangan pembangunan sektor pertanian di Indonesia. Tapi saya memberi masukan agar ke depan ada fasilitasi terjemahan multi bahasa Inggris dan Spanyol," katanya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Stephen Rudgard. Kata dia, pendirian museum ini merupakan pencapaian besar untuk sektor pertanian Indonesia, terutama dalam mendukung pelestarian dan pemanfaatan pengetahuan pertanian.

"Secara khusus, saya menyampaikan ketertarikannya untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi kerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk memajukan sektor pertanian," kata Rudgard saat melihat langsung medali penghargaan FAO swasembada beras Indonesia tahun 1984.

Direktur wilayah Indonesia dari International Fund for Agricultural Development (IFAD), Ron Hartmann, mengapresiasi pembangunan museum ini karena membuka pandangan negara lain terhadap kemajuan pertanian Indonesia.

Menurutnya, keberadaan museum ini memiliki peran penting dalam memajukan sektor pertanian melalui tangan-tangan anak muda. Terlebih, bentuk arsitektur museum sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Sementara itu, Perwakilan United States Agency for International Development (USAID), Chris Rittgers mengaku sangat terkesan dengan tata letak dan pencahayaan seluruh ruangan museum.

"Tapi saya memberi masukan agar setiap foto di dalam museum dapat diberi informasi terkait tanggal pengambilan foto," katanya.

Di tempat yang sama, Perwakilan Kantor TETO negara Taiwan mengaku terkesan dengan displai seragam dan topi bertuliskan BEKERJA, yang merupakan kepanjangan dari Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera.

"Saya juga suka dengan kalimat tatar yang terpampang seperti #Seoenuhhati yang sangat menginspirasi. Ia menilai negaranya harus mengadopsi museum ini untuk mengingat peran penting sektor pertanian," katanya.

Perwakilan NZ Embassy, Jack Lee pun memberi apresiasi terhadap pembangunan museum pertanian. Menurut dia, secara keseluruhan museum ini sudah sangat bagus, terlebih pada Isi Galeri Future Farming yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan.

"Saya terus terang akan sangat terbantu jika terdapat informasi dalam bahasa Inggris untuk setiap area," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menyampaikan pentingnya kesadaran semua pihak untuk peduli terhadap masa depan sektor pertanian Indonesia. Apalagi, pendirian museum ini juga bertepatan dengan peringatan hari bumi sedunia yang jatuh pada hari ini, 22 April 2019.

"Bahwa sejalan dengan spirit peringatan hari bumi, sektor pertanian juga harus ikut berkontribusi terhadap pemecahan masalah lingkungan, pemanasan global dan penyediaan pangan terhadap umat manusia," katanya.

Menurut dia, sektor pertanian sejauh ini sudah memberi andil dengan berbagai mitigasi bencana melalui teknologi ramah lingkungan, penyediaan energi terbarukan dan berkembangnya teknologi pemuliaan yang menciptakan varietas-varitas tanaman yang adaptif. 

"Kita telah memulai pemanfaatan bahan bakar nabati, pertanian ramah lingkungan, pertanian rendah gas emisi untuk menghindari efek rumah kaca, juga penciptaan berbagai varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim. Jadi, pertanian juga bersinergi dan berkontribusi terhadap kelestarian alam, selain menjaga keberlanjutan penyediakan pangan umat manusia," katanya. ***

Editor : Laksito Adi Darmono