logo

Kecurangan Pemilu 2019 TSM, Ayo Selamatkan Demokrasi!

Kecurangan Pemilu 2019 TSM, Ayo Selamatkan Demokrasi!

21 April 2019 20:18 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kecurangan Pemilu 2019 dinilai terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Untuk itu seluruh rakyat Indonesia perlu didorong berjuang untuk menyelamatkan demokrasi dengan segera.

Pernyataan keras dan seruan itu dilontarkan oleh Gerakan Nasional Selamatkan Demokrasi. Dalam gerakan ini tergabung para tokoh nasional seperti Said Didu, Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bambang Widjojanto, Mayjend (Purn) Meris Supriyadi, aktivis Jumhur Hidayat, Komjend Pol (purn) Sofjan Yacoob, Irjend Pol (Purn) Benyamin, aktivis Lieus Sungkarisma, dan Praktisi Hukum Andi Muhammad Asrun.

Gerakan itu hadir untuk mendorong demokrasi segera diselamatkan. "Bahwa demokrasi harus diselamatkan. Karena kami menilai ada kecurangan yang berlangsung secara terstrukrur, sistemik dan masif," ujar Said Didu yang mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (21/4/2019).

Dikatakan terstruktur, kata dia, karena mulai dari perencanaan, yakni belum terselesaikannya masalah 17,5 juta daftar pemilih tetap (DPT) invalid. "Sampai terlibatnya secara nyata gubernur, bupati, lurah, camat dan RW, RT-RW secara nyata dan itu bagaikan penonton sudah teriak semua tapi wasit tidak mau menyemprit peluit," ujarnya.

Kemudian, dia mengungkapkan pelibatan BUMN dalam Pemilu 2019. Namun, hal tersebut dibiarkan. "Jadi secara terstruktur apa yang dimaksud terstruktur adalah dilaksanakan oleh struktur. Struktur ini struktur pemerintahan, struktur organisasi, struktur penyelenggara Pemilu, jadi terstruktur. Sistem ini adalah polanya sama itu namanya sistem dengan struktur polanya sama," tuturnya.

Sedangkan disebut masif kata Said Didu, karena kecurangannya terjadi hampir di seluruh Indonesia. "Bahkan di luar negeri," katanya seperti dilansir sindonews.com.

Dia mengatakan, Undang-undang menyatakan apabila terjadi kecurangan secara TSM, maka bisa dilakukan Pemilu ulang. "Dan pihak yang akan melanjutkan pemilu seperti ini bagaikan orang yang sedang membakar arang untuk jadikan bara menduduki bara itu. Kira-kira itu, orang yang mau berkuasa dengan hasil pemilu yang curang secara terstruktur, sistemik dan masif," ujarnya tegas.***

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH